Istri Kontrak Sang Raja Mafia

Titah Kesumawardani
Chapter #4

Bab 4 - Aliansi Menghadapi Perang Bayang-Bayang

"Kau mengaku sebagai pelindung kewarasan putraku, Titah. Namun kau lupa satu hukum alam yang mutlak di duniaku: sang pelindung pada akhirnya akan terjebak di ranjang sang penguasa, memohon ampun dari gairah yang ia ciptakan sendiri."

Sinar matahari pagi yang menembus jendela kaca patri raksasa di dapur mansion itu gagal menghangatkan ruangan. Suhu udara justru terasa mendadak anjlok, tebal dan mencekam.

Titah yang sedang memotong stroberi untuk sarapan Arga seketika menghentikan gerakan pisaunya. Napasnya tertahan sejenak. Di belakangnya berdiri Afgan—pria yang baru semalam ia tantang dengan sumpah perlindungan. Tuan Mafia itu berdiri terlalu dekat, jarak mereka tak lebih dari satu jengkal.

Afgan mengenakan kemeja sutra hitam dengan tiga kancing teratas terbuka, mengekspos tato kalajengking kecil di pangkal lehernya yang memancarkan aura bahaya memikat. Ia menyandarkan satu lengannya di meja konter, tepat di samping talenan Titah, mengurung wanita itu dari sisi kiri.

"Anda punya kebiasaan buruk mengendap-endap seperti pencuri di rumah sendiri, Tuan Afgansyah Reza," ucap Titah datar, berusaha keras mengabaikan aroma mint dan feromon maskulin yang langsung menyeruak masuk ke indranya.

"Dan kau punya kebiasaan buruk memunggungi suamimu saat dia sedang berbicara," bisik Afgan serak. Suara baritonnya bergetar rendah tepat di telinga Titah, sengaja memancing reaksi. Ia mencondongkan tubuh, hingga dada bidangnya nyaris menyentuh punggung wanita itu.

"Atau... kau sengaja memunggungiku karena takut wajahmu di balik kain itu bersemu merah saat melihatku?"

Jari-jari Titah yang memegang pisau sedikit mengetat. Pria ini sungguh luar biasa arogan sekaligus berbahaya. Namun ia tak akan membiarkan pertahanannya runtuh semudah itu. Perlahan ia meletakkan pisau, lalu memutar tubuhnya di dalam kukungan lengan kekar Afgan hingga kini mereka berdiri berhadapan.

Titah mendongak, menatap lurus ke manik hitam legam yang menyeringai penuh kemenangan.

"Wajah saya takkan bersemu hanya karena rayuan murahan yang biasa Anda gunakan pada wanita di kelab malam, Afgan," balasnya sehalus beludru namun setajam silet. "Saya memunggungi Anda karena sedang menyiapkan makanan untuk Arga. Jika Anda merasa kurang diperhatikan, silakan panggil pelayan untuk memuji ketampanan Anda pagi ini. Saya sedang sibuk."

Seringai di bibir Afgan perlahan memudar, digantikan kilatan ketertarikan yang semakin gila. Ia benci ditolak, namun entah mengapa penolakan wanita bercadar ini justru bekerja seperti candu yang mengalir di pembuluh darahnya. Ia ingin menghancurkan ketenangan itu; ingin melihat mata coklat itu kehilangan kendali.

"Kau benar-benar menguji batas kesabaranku, Istriku," desisnya. Tangan kanannya perlahan terangkat, jari telunjuk dan ibu jarinya menyentuh ujung khimar di dada Titah, lalu menggulungnya pelan dengan gerakan provokatif.

"Kau bersikap sedingin es, tapi napasmu di balik cadar itu bercerita lain. Kau gugup, Titah. Jantungmu berdetak jauh lebih cepat. Aku bisa merasakannya."

Titah menelan ludah dengan susah payah. Afgan benar—jantungnya berpacu liar. Ia belum pernah sedekat ini dengan pria mana pun, apalagi pria yang memancarkan daya tarik setan seperti Afgan. Namun ia tetap menjaga sorot matanya agar tak goyah.

"Itu hanya respons alami saat dihadapkan pada predator yang menyerang ruang pribadi orang lain," jawabnya telak, lalu menepis tangan Afgan pelan namun tegas.

"Mundur, Afgan. Anda menghalangi jalan saya ke kulkas."

Afgan terkekeh rendah, suara itu bergetar hingga membuat perut Titah terasa aneh. Bukannya mundur, ia justru melangkah maju, memangkas habis jarak di antara mereka hingga kain gamis Titah bersentuhan dengan celana pria itu.

"Kulkas bisa menunggu," bisiknya, tatapannya turun ke bibir yang tertutup rapat cadar. "Aku ingin tahu: apa yang akan dilakukan sang pelindung pemberani ini jika predatornya memutuskan tak sekadar menyerang ruang pribadi, tapi juga menyentuh apa yang menjadi haknya?"

Tanpa jeda, tangan Afgan bergerak cepat melingkar di pinggang rampingnya, lalu menarik tubuh Titah menabrak dadanya yang keras. Titah tersentak hebat, kedua tangannya refleks menahan dada Afgan berusaha mendorongnya menjauh.

"Afgan! Lepaskan!" desisnya marah, mata melebar panik. "Jangan kurang ajar!"

"Kurang ajar? Di mata hukum dan agama, ini adalah kewajibanmu, Titah," goda Afgan, menikmati rona kemarahan yang membara di mata istrinya. Ia menundukkan wajah, sengaja menggesekkan hidungnya ke pipi Titah yang tertutup niqab tipis.

Napas Titah tercekat. Ia bisa merasakan kehangatan bibir pria itu dari balik kain yang memisahkan mereka. Jarak mereka kini hanya tersisa milimeter. Titah memejam mata, memalingkan wajah sekuat tenaga hingga rahangnya terasa kaku.

"Jika Anda memaksa mencium saya saat ini juga," ancamnya dengan suara bergetar namun bulat tekad, "saya bersumpah akan membawa Arga pergi dari rumah ini, dan Anda takkan pernah menemukan kami berdua lagi."

Gerakan Afgan seketika terhenti. Ancaman itu bukan main-main. Ia menatap mata Titah yang terbuka kembali, mencari jejak kebohongan di sana—namun hanya menemukan keteguhan baja. Sialan. Wanita ini tahu persis kelemahan paling fatalnya: Arga adalah satu-satunya hal yang menjaga kewarasannya, dan Titah menggunakannya sebagai senjata pamungkas.

Dengan rahang mengeras, Afgan melepaskan pelukannya kasar. Ia mundur selangkah, mengusap rambutnya dengan frustrasi yang meluap.

"Kau bermain kotor, Titah," geramnya, napas memburu menahan gairah yang tak tersalurkan.

"Saya hanya bermain dengan aturan yang Anda buat sendiri," balas Titah, lalu merapikan pakaiannya dengan tangan yang sedikit gemetar, berusaha menyembunyikan fakta bahwa lututnya mendadak lemas. "Jangan coba menaklukkan saya dengan nafsu, Afgan. Itu takkan pernah berhasil."

Sebelum Afgan sempat membalas, pintu dapur terbuka tergesa-gesa. Dika masuk dengan wajah tegang, lalu segera menunduk hormat saat menyadari atmosfer di ruangan itu.

"Maaf mengganggu, Tuan, Nyonya," ucapnya cepat. "Ada masalah."

Aura Afgan berubah seketika—gairah dan frustrasi lenyap, digantikan insting membunuh seorang bos mafia. "Katakan."

"Ada paket lolos dari pos pemeriksaan luar. Tanpa nama pengirim, hanya tertuju pada Tuan Muda Arga. Anjing pelacak tak menemukan bahan peledak atau racun kimia, tapi... saya curiga ini dari wanita itu."

Mata Afgan seketika menggelap pekat.

"Bawa ke ruang kerjaku. Jangan sampai Arga melihatnya."

"Tunggu," potong Titah cepat, melangkah maju. "Bawa paket itu ke sini, Dika."

Afgan menoleh tajam. "Jangan ikut campur, Titah. Ini urusanku."

"Paket itu untuk Arga—anak yang sedang saya lindungi. Tentu saja ini urusan saya," bantah Titah tak gentar. "Jika Larasati bermain psikologis, kita harus tahu apa senjatanya, agar kita bisa menyiapkan penawaran bagi Arga."

Lihat selengkapnya