Aku menatap jarum jam di dinding ruang pernikahan sederhana itu, seakan-akan setiap detiknya menusuk dada. Tangan dinginku meremas ujung gaun putih sewaan yang kebesaran, sementara keringat dingin menetes di pelipisku. Bukan karena gugup akan menikah… tapi karena aku tahu pernikahan ini hanyalah sebuah jebakan.
Aku, Aira, anak seorang pedagang kecil yang bangkrut, sedang menunggu seorang pria yang katanya akan “menyelamatkan” keluargaku. Tapi aku tahu, kata “menyelamatkan” di sini hanyalah kedok lain dari kata “mengikat”.
Pintu terbuka.
Lelaki itu masuk dengan langkah mantap, diiringi dua bodyguard bertubuh besar. Jas hitamnya pas di tubuh tegapnya, dasinya terikat sempurna. Wajahnya… tampan, terlalu tampan untuk disebut manusia biasa, tapi aura dinginnya membuat darahku membeku. Matanya hitam pekat, menatapku seolah aku hanyalah barang yang baru dibelinya.
***
Dialah—Rafael Arsenio. Nama yang sering kudengar dari bisik-bisik orang kampung: mafia, pengendali bisnis gelap, pria yang tak pernah tersenyum kecuali di atas penderitaan orang lain.
“Jadi, ini pengantinku?” suaranya rendah, berat, seperti dentuman petir yang menyalak tiba-tiba.
Tubuhku terpaku di kursi. Aku menelan salivaku. “Bukan… bukan begini seharusnya,” bisikku, hampir tanpa suara.
Rafael mengangkat satu alis. “Apa maksudmu?”
“Aku… aku hanya diminta datang ke sini untuk membicarakan hutang ayahku. Tidak untuk—untuk—” Suaraku patah. Aku bahkan tak sanggup menyebut kata menikah.
Langkahnya menghentak lantai marmer, setiap bunyi seperti mengingatkanku betapa kecilnya diriku dibanding dia. Tangannya yang besar mencengkeram daguku, memaksa wajahku menatapnya.
“Dengar baik-baik, Aira.” Suaranya berbisik, tajam seperti pisau. “Ayahmu berhutang tiga miliar padaku. Aku sudah memberi waktu dua tahun. Dan sekarang, aku ingin jaminan.”
“Aku bisa bekerja! Aku bisa—” Aku protes, suaraku semakin melemah.
“Diam.” Tatapannya menusuk. “Kau tidak punya apa-apa, selain tubuhmu. Jadi mulai hari ini, kau adalah milikku.”
Air mataku jatuh tanpa bisa kucegah. “Ini gila… aku tidak mencintaimu…”
Sudut bibirnya terangkat, bukan senyum, lebih mirip ejekan. “Cinta? Hah. Aku tidak butuh cintamu. Aku butuh kepatuhanmu. Kau hanya perlu tanda tangan di kontrak pernikahan ini… dan keluargamu selamat.”
Ia melemparkan map hitam di hadapanku. Kertas-kertas berlogo notaris terhampar di meja. Aku menatap tulisan tebal di bagian atas: KONTRAK PERNIKAHAN. Tanganku bergetar. “Tidak… aku tidak bisa.”
***
Dalam sekejap, Rafael mencondongkan tubuhnya, wajahnya begitu dekat hingga aku bisa merasakan hangat napasnya di telingaku. “Kalau begitu… bayarlah dengan nyawa ibumu. Kau mau lihat ibumu mati karena hutang ayahmu?”
Tubuhku lunglai. Nafasku tercekat. Wajah ibu yang pucat di rumah sakit muncul di kepalaku—mesin infus, senyum paksa saat aku menjenguk terakhir kali. “Jangan khawatirkan Ibu, Nak. Ibu hanya ingin kau tetap hidup tenang.” Tenang? Apa beliau tahu aku sedang menyerahkan masa depanku pada seorang iblis?