"Kenapa menjadi seperti ini? Aku berhasil mengubah nasib tragisku. Tapi, kenapa malah menjadi seperti ini?"
Azalea tergugu di depan tubuh orang-orang yang ia cintai. Berulang kali dirinya mencoba meletakkan jarinya, namun napas tak kunjung keluar dari hidung mereka.
Aura dingin pun mulai menelusup setiap anggota tubuh mereka. Menciptakan sensasi dingin yang menghunus jantungnya.
Mereka telah pergi, meninggalkannya seorang diri.
Azalea menolak. Ia bangkit dan berjalan tak tentu arah. Tujuannya satu. Segera menemukan keberadaan sosok kakek misterius yang membawanya ke sini.
"Kakek! Keluar! Saya mau bicara!"
Ia berjalan seperti orang gila, berteriak layaknya orang keserupan.
Setiap melewati sekelompok orang, mereka akan bergidik ngeri dan menjauh dari dirinya.
Ia seperti hantu yang merangkak, menggentayangi setiap orang yang lewat, bahkan hewan pun menghindarinya.
"Keluar kau, Bangs*t!"
Azalea benar-benar putus asa. Ia sudah berjalan hampir sepanjang malam. Sosok kakek itu tak kunjung menampakkan diri.
Saat pagi menjelang, ia duduk di teras ruko yang masih tertutup. Meringkuk, memeluk dirinya yang malang.
"Jika aku masih bisa memilih ..."
Suaranya lirih, sarat akan putus asa dan sebuah pengharapan yang entah akan terwujud.
"... aku akan mengubah takdir dengan menjadi lebih kuat. Bukan kembali ke masa lalu. Aku ingin menghadapi pengkhianatan itu dengan kepala tegak, bukan sembunyi seperti pengecut yang merengek meminta mengulangi takdir."
Tak lama, Azela terlelap dengan wajah yang masih basah oleh air mata. Dalam hatinya, ia berharap yang menyapanya bukan keputusasaan, tapi alasan ia untuk bangkit.
Semua tindakan Azalea, tidak luput dari penglihatan sang kakek misterius. Ia bergumam di depan tubuh Azalea yang tertidur.