Istri Pelampias Nafsu

Sequoia Tom
Chapter #3

Surat Cerai

Dedaunan jatuh berguguran, tersapu oleh angin, memenuhi halaman rumah milik Azalea. Ia yang biasanya penuh semangat, senyum yang terus tersungging dibibirnya, berganti dengan raut sendu. Sesekali, ia menghela napas, lalu menyeka air mata yang jatuh tanpa ia sadari.

Tatapannya lurus membiarkan angin menerbangkan dedaunan yang berjatuhan. Ia tidak ingin melakukan apapun. Hanya ingin duduk sembari menunggu seseorang membangunkannya dari alam mimpi.

Benar, Azalea masih tidak percaya, terus menyangkal semua kebenaran yang ia dengar. Menganggap bahwa ia sedang bermimpi yang sangat panjang.

"Pantas saja, dia nggak pernah menyinggung soal anak," guman Azalea, ia tersenyum getir. "Selama ini, aku yang bersikeras ingin punya anak. Takut kalau aku membuatnya gagal menjadi seorang ayah. Takut dia sedih. Takut dia kecewa. Ternyata, semua ini ... hanya pikiranku saja."

***

Beberapa hari ini, Azalea merasa waktu terasa lama, seolah ingin membunuhnya secara perlahan oleh rasa sakit atas kebohongan yang tidak ingin ia percayai.

Setitik harapan yang ia sisakan untuk Liam hancur tak bersisa saat laki-laki itu pulang. Bukan untuk menjelaskan atau menenangkannya, tapi justru semakin mendorongnya dalam lembah kehancuran.

Liam memberikan surat cerai saat ia baru kembali ke rumah setelah beberapa hari tidak pulang. Gurat wajah laki-laki itu tampak tak bersalah saat memberikan surat cerai itu kepada Azalea.

"Lima hari kamu nggak pulang. Lima hari nggak ada kabar. Dan saat pulang, kamu malah kasih aku surat cerai?"

Liam memilih duduk, menyandarkan tubuhnya yang lelah. Sebelah tangannya mulai merenggangkan dasi yang terasa mencekik jalan napasnya.

"Pernikahan ini nggak bisa dilanjutkan. Aku sudah nggak cinta lagi sama kamu," ucap Liam enteng dengan raut tak bersalah, ia lanjut meminum segela air putih di atas meja.

Emosi yang mulai terpacu membuat Azalea tanpa sadar meremas kertas itu, napasnya mulai memburu.

Lihat selengkapnya