Berkas itu berisi kontrak perjanjian nikah antara Liam dan Azalea. Selain sebagai pemuas nafsu, Liam menikahinya karena taruhan dengan teman-temannya.
"Kamu mau bilang apa lagi, Liam?"
Liam tatap wajah perempuan yang telah menemaninya selama enam tahun. Istrinya tidak pernah mengeluh. Ucapan teman-temannya memang benar. Azalea adalah istri idaman.
Tapi, hatinya telah tertutup oleh ego nya.
"Kamu menggeledah ruang kerja aku, Lea?" Suaranya dingin, terkesan mengintimidasi Azalea.
"Kamu merasa bersalah? Kalau nggak salah, harusnya reaksi kamu biasa aja. Memangnya ada rahasia di sana? Takut kalau aku membocorkannya? Segitunya kamu nggak percaya sama aku, Liam? Sebenarnya, kamu pernah anggap aku sebagai istri kamu nggak sih?"
"JAWAB, LEA! KAMU NGAPAIN DI RUANG KERJA AKU? KAMU GELEDAH BARANG-BARANG DI SANA?"
Bentakan Liam berhasil membuat tubuhnya bergetar hebat. Ini pertama kalinya, Liam membentaknya. Azalea langsung menangis begitu saja.
Sadar telah membuat Azalea menangis ketakutan, Liam berusaha mengendalikan emosinya. Ia berdiri, lalu pergi ke kamar. Tidak lama, terdengar suara air mengalir di kamar mandi.
Azalea masih meringkuk di ruang tamu. Membiarkan air matanya luruh begitu saja. Sore-sore begini, biasanya ia akan membuat cemilan untuk suaminya. Menikmati langit sore sambil bercengkrama satu sama lain.
Berbeda dengan hari ini. Rasanya, raganya sedang mengambang, jiwanya entah ke mana.
***
Hidangan makan malam tersaji di meja makan seperti biasanya. Hatinya sakit, tubuhnya lelah, tapi rutinitasnya membuat tubuhnya bergerak otomatis. Ia tetap ke dapur, mengolah berbagai hidangan.