"Gimana, Liam? Lea setuju untuk tanda tangan?" Tanya Andreas, ia mulai mengambil sebatang rokok.
"Dia masih nggak mau tanda tangan. Entah apa yang ada dalam pikirannya," jawab Liam datar.
Baron yang sedang sibuk mengotak atik laptopnya untuk mencari bahan skripsi adiknya tidak mau ketinggalan. Ia langsung pindah duduk di dekat Liam.
"Namanya juga masih cinta," celetuk Baron. "Dia sudah tahu alasan kamu menikahinya, tapi masih mau bertahan. Biasanya, orang seperti Lea, memilih menjalaninya sampai lelah. Saat dia sudah lelah, cintanya akan digantikan oleh rasa muak."
"Kenapa nggak lanjut aja, Liam? Belum tentu kamu bakalan dapat perempuan sebaik Lea," timpal Bayu masih menyayangkan keputusan sahabatnya.
"Ntar kamu malah nyesal lagi," kekeh Alex, berusaha menggoyahkan keyakinan Liam.
Liam diam. Dia sendiri sebenarnya tidak benar-benar ingin bercerai. Kehadiran Azalea berhasil mengisi hatinya yang kosong. Namun, semua kalah karena ego dan gengsinya.
*Apa benar aku sudah jatuh cinta?*
Liam menggeleng, ia memilih melanjutkan pekerjaannya, mengabaikan godaan teman-temannya yang terus memintanya untuk lanjut saja dan mengatakan kalah dari taruhan yang mereka sepakati.
***
Sejak surat cerai itu, Liam berubah seperti orang asing. Sikapnya dingin. Dia sangat jarang pulang. Jika pulang, itu pun sudah sangat malam saat Azalea sudah tidur.
Hati Azalea mencelos melihat perubahan drastis dari suami yang dulunya sangat peduli padanya. Cuek, tapi selalu memastikan dirinya baik-baik saja.