"Satu miliar kau bilang?!"
"Ya, bayangkan nolnya, Sayang. Dia bukan putri kita. Ini kesempatan langka!"
"Istriku, Silvana keponakan kita, anak kakakku!"
"Persetan! Dia anak orang lain! Kasihan padanya untuk apa?"
"Istriku… tapi…"
Plaakk!
Safeea kalap. Niatnya menjual keponakan suaminya, Silvana, menemui jalan terjal karena ditentang Leonardo, suaminya. Emosi menguasai Safeea hingga ia menampar Leonardo hingga terjatuh.
"Dik! Kau gila!"
"Aku tak peduli! Tanda tangani ini, cepat!" paksa Safeea.
Leonardo menolak. Silvana baginya bukan hanya keponakan, tapi seperti anak sendiri.
"Sampai mati, aku tak akan membiarkanmu membawa Silvana pergi," lirih Leonardo pilu.
"Kalau begitu, berikan Dhea saja."
Leonardo terperangah. "Dhea? Kau mau menjual putrimu juga?!"
Safeea menyeringai. "Rentenir mengejar! Mami Dona butuh gadis, kau tahu kan?"
"Dik!!"
"Sudahlah! Silvana atau Dhea yang pergi!" bentak Safeea.
Di ruangan lain, Silvana dan Dhea mendengar pertengkaran itu, saling berpelukan.
"Aku tak ingin jadi wanita penghibur, Mbak," lirih Dhea.
Silvana menenangkan Dhea. Ia tahu niat tantenya tertuju padanya, dan ia harus mengalah.
"Jangan takut, kau tak akan pergi," bisik Silvana.
"Tapi Ibu… Dhea ingin sekolah, mengejar cita-cita, tapi Ibu mau menjual kita ke Mami Dona!"
Mami Dona, wanita cantik dengan reputasi buruk di desa, terkenal menawarkan pekerjaan dan uang pada gadis yang mau ikutnya ke kota—semua tahu pekerjaan macam apa yang ia geluti.
"Masuk kamar dan kunci pintunya, Dhea. Jangan buka sampai besok pagi. Dengarkan Mbak," perintah Silvana.
"Lalu Mbak Silvana?" tanya Dhea cemas.
"Jangan cemas. Mbak tak apa."
"Tapi Mbak…"
"Ssttt… sudah sana."
Dhea pergi, cemas. Ia melihat senyum Silvana, begitu cantik malam itu.
"Mbak, jaga diri baik-baik. Lebih baik Mbak kabur saja," isak Dhea.
"Jangan cemas. Mbak bisa menjaga diri."
Dhea menutup pintu. Gadis 18 tahun itu harus berjuang untuk ujian SMA besok. Silvana menghilang setelah Dhea masuk kamar.
....
"Vana, kenapa kau terjebak di sini? Tantemu yang menjualmu?"
Pertanyaan itu menyadarkan Silvana dari lamunannya. Mobil yang membawanya telah jauh dari desa. Ia menatap langit biru, hampa.
"Vana…"
Silvana menoleh, tersenyum pada Ana, gadis yang bernasib sama. Bedanya, Ana rela, Silvana dipaksa.
"Aku tak punya pilihan, An. Aku tak bisa membiarkan Dhea ikut."
"Vana…" Ana menggeleng. "Aku menawarkan diriku sendiri. Kau tidak. Aku sadar menandatangani kontrak itu."
"Kau melakukan ini untuk ibumu?" tanya Silvana sedih.
Ana mengangguk. "Hanya beliau yang kumiliki."
"Dia pasti sedih, kan? Kau putri satu-satunya Tante Intan."
Ana tersenyum getir. "Berat. Tapi Ibu tak bisa apa-apa. Aku pergi untuk mengubah nasib, meskipun caranya… sedikit tak benar."