"Harap semuanya berbaris dengan rapih! Kami harus memeriksa setiap orang sebelum masuk!"
Seruan dari seseorang di depan membuat seluruh gadis yang tengah antri merasa cemas. Antara ragu dan kebingungan, mereka hanya bisa patuh menuruti perintah itu.
"Vana, cepat masuk barisan!" bisik Ana pada Silvana yang berdiri sembarangan di luar antrian.
Tepat di bawah pohon besar, Silvana terlihat begitu malas mengikuti instruksi dari orang di depan sana.
"Kau saja dulu. Aku malas," jawab Silvana dengan acuh tak acuhnya. Ana yang tak punya banyak waktu akhirnya memilih untuk mengikuti arahan ketimbang terus menegur temannya.
"Berhitung serentak!" terdengar seruan yang menggema lagi.
"Satu..."
"Dua..."
"Tiga..."
...
...
...
"Sebelas!" seru Ana dengan lantang.
Setelah itu, semua menjadi hening. Tak seorangpun melanjutkan penghitungan setelahnya, membuat pria berbadan kekar di depan terlihat heran.
"Sebelas? Bukankah seharusnya ada dua belas orang?" gumam pria itu sambil meneliti data di ponselnya.
"Bukankah Mami Dona membawa dua belas orang dari desa-desa itu? Kenapa hanya sebelas yang menghitung?" tanyanya pada rekan di sisinya.
"Benar dua belas orang, Pak. Saat mereka turun dari mobil aku sudah menghitungnya dua kali," jawab rekannya dengan pasti.
"Cih, siapa yang sudah mulai membuat masalah sejak awal ya!" pria itu menjadi geram, urat lehernya tampak menegang.
Ana merasakan getaran kegelisahan menyelimuti dirinya saat melihat wajah pria itu memerah karena marah. Ia tahu pasti bahwa kemarahan itu karena sikap tak peduli Silvana yang berdiri jauh di belakang barisan.
Manfaatkan kondisi yang masih gelap karena matahari belum terbit, Ana segera menarik Silvana masuk ke dalam antrian. Sebagai teman, ia tak ingin Silvana mendapat masalah di hari pertama mereka berada di tempat baru.
"Vana, berdirilah dengan benar ya," pinta Ana pelan.
Silvana hanya bisa mendesah kesal. Tak lama kemudian, dua pria yang memimpin mereka berjalan menghampiri bagian belakang barisan.
"Kau!" pria berbadan kekar itu tepat menunjuk ke arah Silvana dengan wajah memerah kesal. "Kenapa tak ikut menghitung tadi?!"
Silvana sama sekali tak menunjukkan rasa takut. Ia hanya berdiri tenang, memperhatikan ekspresi wajah pria itu dengan santai, seolah-olah kedua pria di depannya bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti.
Sementara itu, Ana yang berdiri di depan Silvana terlihat sangat ketakutan. Wajahnya bahkan memucat karena khawatir dengan nasib temannya akibat sikapnya yang tak patuh.
"Uhuk! Uhuk! Huuueeekkk!"
"Uhuk! Uhuk! Huuueeekkk!"
Kedua pria itu terkejut dan saling memandang ketika melihat reaksi gadis itu. Tanpa basa-basi, Silvana berlari ke arah selokan di sisi jalan dan mulai memuntahkan isi perutnya.
"Ada apa denganmu?!" seru pria itu dengan suara masih tinggi.