Istri Tengil Pilihan Sang CEO

Titah Kesumawardani
Chapter #3

Pengejaran di Labirin Hotel

"Selamat datang di Hotel Dona Indah, Tuan-tuan."

Sambutan yang terdengar hangat justru membuat Azzam dan Kaizen merasa tidak nyaman. Bahkan dari penyambut tamu saja sudah terlihat jelas bagaimana karakter tempat ini – pakaiannya minim dengan belahan dada yang sangat rendah. Azzam merasa seolah-olah matanya jadi sakit melihatnya.

"Aku benar-benar ingin membunuhmu, Zen!" bisiknya dengan nada penuh kemarahan pada adik sepupunya itu.

Kaizen hanya terkekeh melihat gelagat Azzam yang jelas sekali muak dengan apa yang ada di depannya. Namun bagi pria yang akrab disapa Zen, semua yang terlihat sekarang bukanlah hal yang asing.

"Nona, apakah Mami Dona ada di sini? Kami dua pria tampan ini sangat ingin bertemu dengannya," ujar Zen sambil menebarkan pesonanya, berusaha tampil sesemaskulin mungkin di depan wanita cantik itu.

"Apa Tuan sudah membuat janji temu dengan Mami Dona?" tanya wanita itu dengan sopan.

"Sayangnya belum. Tapi kedatangan kami kali ini untuk membahas sesuatu yang berkaitan dengan banyak uang, Nona. Pasti Mami Dona tidak akan menolak untuk bertemu kami," jawab Zen dengan keyakinan.

Usaha meyakinkannya malah membuat Azzam semakin kesal. Cara Zen memegang dagu wanita itu menunjukkan jelas siapa dia – seorang playboy milenial yang sudah terkenal.

"Baiklah, Tuan mohon tunggu sebentar di ruangan tamu. Saya akan mencoba menemui Mami Dona dan memberitahukan kedatangan Anda."

"Baiklah, sayang. Jangan sampai mengecewakan hatiku ya?" Zen melancarkan senyum dengan kerlingan mata sebelum wanita itu berjalan pergi.

Ia kemudian kembali menghampiri Azzam yang tengah menatapnya dengan ekspresi muak.

"Ada apa, Mas?" tanya Zen dengan nada canggung.

"Tidak apa-apa. Hanya saja aku hampir tidak ingin mengaku kalau kamu adalah saudara sepupuku – sungguh tak tahu malu!" jawab Azzam dengan sinis.

"Ayolah, Mas. Jangan terlalu serius dong. Kadang kita harus sedikit fleksibel dalam hidup. Hehe..."

"Cih, menjijikan." Ucap Azzam sembari berjalan pergi meninggalkan Zen yang masih ingin berdalih.

Perangai mereka memang berbeda jauh. Jika Zen seperti bunga matahari yang hangat dan ramah, maka Azzam adalah kebalikannya – pria berdarah dingin yang acuh tak acuh dengan sekitarnya, sehingga tidak memiliki banyak teman seperti Zen.

"Tuan, Mami Dona sudah menunggu Anda di ruangannya. Silakan ikuti saya."

Wanita cantik itu telah kembali, memberi tahu bahwa niat mereka setidaknya mendapatkan perhatian dari sang pemilik lahan. Azzam langsung berjalan cepat mengikuti wanita itu, dengan Zen mengekor di belakangnya.


...


"Sssttt! Ssstttt!"

Zen mencoba menarik perhatian salah satu wanita cantik yang berdiri tidak jauh darinya. Bersama Sebastian, asistennya, ia ditempatkan di ruangan terpisah sambil menunggu Azzam yang tengah berdiskusi dengan Mami Dona.

"Ya, Tuan?" wanita itu mendekat dengan hati-hati.

"Kenapa kamu sampai kesini, ya?" tanya Zen sambil mencolek dagu wanita itu perlahan. "Siapa namamu, manis?"

"Ana," jawabnya tanpa ragu. Ya, dia adalah Ana – teman baik Silvana yang tengah menjalankan "misi besar" yang diberikan. Katanya, jika gadis-gadis cantik seperti mereka bisa menemani pria kaya di kamar, akan mendapatkan bayaran tinggi. Apalagi dengan nilai tambah virginitas yang masih mereka miliki, harga yang ditawarkan bisa jauh lebih mahal.

Lihat selengkapnya