"Ck, dia ini... Semoga saja masih hidup ya."
Seorang gadis cantik – yang tak lain adalah Silvana – berjalan mondar-mandir di dalam ruangan, wajahnya mencerminkan rasa cemas yang tak bisa disembunyikan.
Bagaimana tidak? Ia sama sekali tidak menyangka jika pria yang kini terbaring tak sadarkan diri di atas tempat tidur itu tiba-tiba pingsan ketika ia hanya ingin menegurnya karena masuk tanpa izin.
"Dia yang datang sendiri, dia yang masuk tanpa izin, dia juga yang tiba-tiba pingsan. Tapi kenapa aku yang merasa bersalah? Ck, sialan!" gumamnya dengan nada sinis.
Silvana berhenti berjalan dan berdiri termenung, menatap pria itu dengan tatapan yang campuran antara jijik dan penasaran.
"Wajahnya memang cukup tampan... Dari penampilannya, pasti berasal dari keluarga kaya. Tapi dengan latar belakang seperti itu, kenapa dia ada di tempat terkutuk seperti ini? Apakah dia juga salah satu pria hidung belang yang datang kesini? Tapi tidak mungkin kan, hanya melihatku saja sudah pingsan," pikirnya dalam hati.
Merasa lelah berdiri lama, ia memutuskan untuk duduk di tepian ranjang sambil menopang dagunya dengan tangan. Matanya tertuju pada jam dinding di dinding. "Sudah setengah jam, tapi masih belum sadarkan diri juga."
Karena rasa penasaran yang semakin besar, Silvana perlahan mengulurkan telunjuknya ke arah lubang hidung Azzam, ingin memeriksa apakah masih ada hembusan napas darinya.
"Ah untungnya, dia belum mati!" ucapnya dengan lega, sedikit tersenyum karena merasa lega.
"Engh...."
Ketika melihat tubuh pria itu mulai bergerak, Silvana dengan cepat berdiri dan membungkuk sedikit untuk melihat lebih jelas. Sejurus kemudian, sepasang mata biru yang dalam perlahan terbuka.
"Aaaarrrggghhh! SETAN!" teriak Azzam dengan suara keras.
Dug! Sebelum Silvana bisa bereaksi, kepalanya terkena benturan yang membuatnya sedikit pusing.
"Argh!"
Bukan hanya Azzam yang mengerang kesakitan – Silvana juga merasakan hal yang sama. Saat pria itu terkejut setengah mati dan langsung mengangkat kepalanya, ia tidak sengaja menabrak kening Silvana yang terlampau menunduk melihatnya.
Brrruukkk!
Saking kerasnya benturan antar kepala itu, Silvana langsung terjatuh ke lantai.
"Astaga! Apakah aku gegar otak? Kepalaku seperti terkena tendangan domba!" ucapnya pelan dengan wajah kesakitan.
Sementara itu, Azzam bergegas bangkit dari tempat tidur dan berlari ke sudut ruangan yang paling jauh, menghindari wanita muda itu dengan segala cara.
"Siapa kau?! Kenapa aku ada di sini dan kamu menyandarkanku?!" seru Azzam dengan suara penuh kemarahan.
Silvana berdiri perlahan dan meraba bagian keningnya yang terasa sangat sakit di satu titik. Sepertinya benturan itu membuat bagian itu sedikit kebas.
"Kepalaku bengkak! Kau ini!" teriaknya sambil menunjuk langsung ke arah Azzam.
"Bengkak?" tanya Azzam dengan tatapan bingung.
"Ya! Lihat sendiri kalau tidak percaya!"
Azzam hampir tertawa keras ketika melihat titik yang ditunjuk oleh wanita itu.
"Oh... itu benjol, bukan bengkak."
"Kau ini! Kamu harus membawaku ke rumah sakit untuk melakukan CT scan! Bagaimana kalau aku jadi bodoh karena benturan dengan kepalamu yang keras seperti batu itu?!"
Azzam hanya mengangkat bahu dengan acuh. "Itu karena kau tidak sopan. Apa seperti itu cara seorang gadis melihat orang yang lebih tua darinya?"
"Orang tua?" Silvana bingung menatapnya.
"Aku yakin usiamu baru sekitar awal dua puluhan bukan?"
"Memangnya ada masalahnya?"
"Tentu saja! Aku jauh lebih matang darimu – sudah hidup lebih dari 36 tahun!"
"Oh begitu ya... Artefak sepertimu memang terkadang suka bersenang-senang sendiri ya."
Azzam mendelik tak percaya. "Apa kau bilang?!"
"Hah? Apa? Aku tidak mendengar apa-apa kok!" jawab Silvana dengan wajah cuek, sengaja berpura-pura tidak mendengar.
Silvana merasa kesal, lalu memutar tubuh dan pergi langsung ke arah sofa di dekat jendela. Ia duduk dengan menyilangkan tangan di dada, menatap Azzam dengan tatapan sinis.
"Hei orang tua! Apa kau tidak lelah berdiri di sana aja? Bukan kan kamu makhluk astral yang suka berdiam diri di pojokan!" ejeknya.
Azzam hanya mengacuhkan ucapan itu. Ia lebih fokus mencari sinyal dengan ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"SIALAN! Dimana tempat ini sebenarnya? Kenapa tidak ada sedikit pun sinyal di sini!" gerutu Azzam dengan kesal.