Istri Tengil Pilihan Sang CEO

Titah Kesumawardani
Chapter #5

Ciuman Tak Terduga dan Janji Bantuan

"Kau bilang pintu akan terbuka setelah dua jam atau ada orang yang membukanya dari luar bukan? Bukankah sudah lebih dari dua jam sekarang?"

Silvana yang tengah sibuk mengikir kukunya hanya mengangguk tanpa menoleh saat Azzam terus mengajukan pertanyaan.

"Ya tunggu saja dong. Bukan kamu saja yang lelah dan kesal. Aku juga sangat lapar lho!" gerutu Silvana dengan nada kesal.

Azzam yang sudah tidak sabar lagi akhirnya mendekatinya. "Tapi kenapa kau terlihat begitu santai? Padahal pria yang ada di lemari itu bisa saja melaporkan kamu pada Mami Dona setelah kita keluar."

Silvana mendongak perlahan, menatap Azzam yang tengah berkacak pinggang dengan tatapan tajam. "Kau kan ada disini kan?" jawabnya dengan sangat santai.

Azzam mengarahkan telunjuknya ke arah dirinya sendiri, ekspresinya penuh kebingungan. "Aku?"

"Ya, kamu."

"Maksudmu apa sih? Kenapa aku harus terlibat dengan urusanmu yang kacau ini?"

Silvana hanya mengangkat bahu dengan acuh. "Kesalahanmu adalah masuk ke kamar ini, Tuan. Dan aku sangat berterima kasih padamu lho. Hehehe..."

"Kau bercanda kan?"

"Tidak, aku serius. Saat kamu masuk, aku sedang berdoa pada Tuhan: 'Ya Tuhan, berikanlah hambamu petunjuk. Sebagai makhluk lemah, aku tak ingin terjerumus di tempat seperti ini.' Dan tepat saat itu kamu muncul. Jadi aku menganggap kamu adalah jawaban doaku."

Kening Azzam mengerut, tatapannya menjadi sangat sinis menatapnya.

"Percaya atau tidak, aku adalah pria yang bisa sangat kejam. Jika kau berani mempermalukan atau menggunakan aku untuk kepentinganmu sendiri, aku akan membuatmu menyesalinya bahkan sampai mati."

"Mati?"

"Ya, aku bisa menjadi sangat tak berperasaan, Nona. Aku tidak akan merasa kasihan jika terpaksa melakukan hal itu. Percaya atau tidak, aku sangat menjunjung tinggi harga diriku selama ini."

Kali ini giliran kening Silvana yang mengerut, menatap balik sosok pria yang jelas sedang memperingatkannya.

"Jadi kamu sangat menghargai harga dirimu itu, Tuan?"

"Tentu saja."

"Lantas jika memang begitu, mengapa kamu ada di tempat seperti ini? Apakah kamu benar-benar tidak tahu apa jenis tempat ini?"

Deg! Mulut Azzam langsung terkatup. Rasanya sangat sulit menjawab pertanyaan itu – karena menjelaskan kejadian sebenarnya akan terdengar sangat konyol.

Dengan cueknya ia mulai merapikan setelan jas yang dikenakannya, kemudian berbalik membelakangi Silvana yang masih menunggu jawaban.

"Kau tidak akan mengerti. Yang jelas, aku bukan pria hidung belang seperti yang kau sembunyikan di dalam lemari itu." pungkasnya.

Silvana tersenyum getir mendengarnya. Entah mengapa, ucapan pria itu terdengar seperti menganggapnya bukan wanita baik hanya karena ada pria lain di kamar itu.

"Apa kamu ingin mengatakan kalau aku bukan wanita baik seperti kamu yang mengaku diri sebagai pria baik-baik saja?"

"Menurutmu sendiri? Lihatlah penampilanmu sekarang, Nona."

Silvana secara refleks melihat ke tubuhnya sendiri – dress mini yang dikenakannya memang membuat orang bisa salah sangka. Mau marah pun rasanya tidak ada alasannya.

"Ya, kamu benar saja."

Silvana menghela nafas panjang, lalu menarik pundak Azzam perlahan hingga pria itu terpaksa berbalik menghadapnya.

Deg! Karena keseimbangannya terganggu, Azzam hampir terjatuh. Untungnya ia bisa menopang diri dengan cepat, hanya saja salah satu lengannya tidak tepat tempat. Saat ia tersadar, tangannya tidak sengaja memegang sesuatu yang kenyal di tubuh Silvana, membuat wajah gadis itu langsung memerah karena malu dan marah.

"BRENGSKEK!" teriak Silvana dengan suara keras.


PLAK!

Lihat selengkapnya