"Buka pintunya sekarang juga!"
Suara dari luar membuat Silvana yang masih bersama Azzam di dalam kamar langsung panik. Ia segera berpikir cepat tanpa waktu untuk ragu lagi. Tanpa basa-basi, ia mengacak-acak rambut panjangnya hingga terlihat kusut, lalu berlari menghampiri Azzam yang tengah duduk termenung melihatnya.
Tanpa izin sama sekali, Silvana merengkuh kerah kemeja Azzam dan dengan cepat membuka dua kancing paling atas – membuat pria itu merasa sangat tidak nyaman.
"Apa yang kau lakukan?! Hah!" protes Azzam dengan suara penuh kemarahan.
"Ssssttt! Bukankah kamu ingin menolongku? Ini adalah cara yang paling tepat!"
"Tapi bukan dengan cara seperti ini, kau..."
Cup! Azzam langsung membeku tak bergerak ketika Silvana tanpa ragu mengarahkan bibirnya ke lehernya. Sebelum itu, ia bahkan sempat mengoleskan lipstiknya agar meninggalkan bekas jelas di kulit pria itu.
"Kau..." ucap Azzam dengan suara gemetar.
Silvana mengerlingkan matanya pada dirinya. Di dalam hati, ia merasa telah mengambil risiko besar dengan pria ini. Setelah bersama selama lebih dari satu jam, ia yakin bahwa hanya dengan membuat orang lain berpikir mereka telah melakukan sesuatu yang tidak senonoh, maka Azzam – yang jelas merupakan pria kaya – akan merasa harus bertanggung jawab dan membantunya seperti yang dijanjikan.
"Jangan lupa janjimu, Tuan," bisiknya pelan, tepat ketika pintu kamar mulai terbuka dengan keras.
Braak!
Segera setelah itu, Azzam dengan cepat mengancingkan kembali dua kancing kemejanya dan berdiri dengan tatapan tajam menatap beberapa orang yang masuk tanpa izin.
"LANCANG! Berani sekali kalian masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu! Apakah ini cara Mami Dona memperlakukan konsumennya?!" protesnya dengan suara yang menggelegar, penuh kemarahan karena merasa privasinya dilanggar.
Seorang wanita yang pernah ia temui sebelumnya mendelik tak percaya. Ia tidak menyangka akan menemukan sosok pria yang banyak dikenal di luar sana di dalam kamar ini – Azzam Putra Pratama, bukanlah orang sembarangan yang bisa didekati sembarangan wanita.
Kisah kelamnya setelah hampir delapan tahun menjadi duda telah bukan rahasia lagi. Selama itu pula, pria itu tak pernah sekali pun terlibat dalam skandal dengan wanita manapun.
Namun sekarang, mereka melihat dengan jelas: di atas tempat tidur yang sengaja dibuat berantakan oleh Silvana, Tuan Muda Pratama tengah merapikan pakaiannya. Sedangkan Silvana – yang seharusnya tidak ada hubungannya dengan Azzam – terlihat lusuh dengan rambut yang acak-acakan dan bekas lipstik di sudut bibirnya.
"Maaf, Tuan... Saya benar-benar tidak tahu jika di dalam kamar ini adalah Anda," ucap wanita itu dengan suara gemetar, tak berani menatap mata Azzam yang sedang marah besar.
Wulan – yang ditugaskan Mami Dona untuk mengawasi gadis baru itu – hanya bisa menunduk dengan wajah penuh penyesalan. Tangannya gemetar khawatir namanya akan hilang dari lingkaran kerja Mami Dona karena kesalahan ini.
"Nona, bukankah seharusnya Tuan Dion yang bersama Anda? Aku melihat sendiri Anda masuk kamar ini bersamanya!" tanya salah satu pengawal yang datang dengan Wulan.
"Oh orang itu? Dia ada di sana." Silvana menunjuk ke arah lemari pakaian dengan cuek.
Semua orang terkejut seketika. Mereka segera membuka lemari dan menarik pria hidung belang itu keluar, melepaskan ikatan di tangan dan kakinya, lalu membuka lakban di mulutnya.
"Brengsek! Tempat ini benar-benar membuatku marah! Lihat apa yang telah dia lakukan padaku! Ini adalah penghinaan besar bagiku! Aku akan menuntut kalian semua!" seru pria bernama Dion dengan kemarahan yang luar biasa.
"Gadis tengik! Aku akan membunuhmu!"
Duuuaaakk!
Sebelum bisa menggapai Silvana untuk membalas dendam, Tuan Dion – seorang pengusaha cukup terkenal – tiba-tiba terpental jauh karena sepakan keras yang datang dari arah tak terduga.