"Kamu hebat sekali, Mas. Aku bangga padamu."
Kaizen terus saja menepuk-nepuk bahu Azzam dengan tatapan penuh kekaguman yang dibuat-buat. Mereka baru saja tiba kembali di kediaman setelah berjam-jam terjebak dalam perundingan panjang yang melelahkan.
Baru pagi ini mereka pulang, dan sepertinya kesepakatan alot yang mereka lakukan itu benar-benar menguras seluruh waktu dan energi yang dimiliki. Hal itu terlihat jelas dari raut wajah Azzam yang begitu lesu dan lelah. Ditambah lagi dengan ocehan-ocehan tak berhenti yang terus Kaizen lontarkan, telinga Azzam rasanya hampir meletup mendengar semua pujian manis yang entah datang dari mana itu.
"Ssttt! Sudahlah, kenapa terus saja membahas itu. Aku lelah, ingin tidur! Hoooaaahhh..." gerutu Azzam sambil menguap lebar, kesal setengah mati.
"Dan kenapa kau harus ikut pulang ke sini? Tante Belinda bisa merajuk nanti kalau kau hilang." tambahnya ketus.
"Merajuk bagaimana? Kedua orang tuamu sedang dinas ke luar kota, asal kau tahu." balas Kaizen dengan senyum miring dan raut wajah sinisnya.
"Lalu, apa aku tak boleh menginap di sini saja? Tak baik anak bujang sendirian di rumah besar begini, Mas. Nanti ada tante-tante yang nyulik aku."
"Cih, tante-tante jenis 'wewe gombel' maksudmu?" ejek Azzam tanpa melihat ke arah adiknya itu.
"Kejam sekali mulutmu..." Kaizen pura-pura merajuk sambil memegangi dadanya.
"Tapi tetap saja, aku benar-benar bangga padamu, Mas! Kau berhasil meraih dua hal besar sekaligus!" ucap Kaizen bersemangat sambil menunjukkan dua jari telunjuknya tepat di depan wajah Azzam.
"Dua prestasi yang begitu luar biasa. Wah... Zen jadi pengin sekali selevel dan sekaya Mas Azzam deh." puji Kaizen dengan mata yang berbinar cerah—terlalu cerah sampai membuat bulu kuduk Azzam merinding seketika.
Melihat cara Kaizen memujinya berlebihan seperti itu, Azzam benar-benar merasa jika adiknya ini sudah sedikit tak waras semenjak mereka meninggalkan Hotel Dona Indah tadi malam.
"Dua prestasi apa, Sayang?"
Azzam dan Kaizen seketika menoleh serempak saat suara lembut itu menyela pembicaraan mereka.
Dari arah ruang tengah, Nyonya Amanda keluar dengan seekor kucing berwarna oranye di gendongannya, sedangkan satu ekor lagi berjalan di belakangnya, mengekor kemana pun wanita itu melangkah. Nyonya Amanda mengelus kepala kucing itu dengan penuh kasih sayang, namun pemandangan itu justru membuat Azzam semakin kesal.
"Ma, kenapa Mama membawa kedua 'kadal' itu berkeliaran di sini? Bagaimana kalau mereka... Hah! Batuku di mana, Ma!"
Azzam tiba-tiba menatap tajam ke arah akuarium besar yang berdiri megah di sudut ruangan. Sayang sekali, pandangannya tak menjumpai ikan cupang hias kesayangannya yang seharusnya berenang anggun di dalam sana.
Dengan langkah dihentakkan kakinya kesal, Azzam menghampiri Nyonya Amanda. Tanpa ba-bi-bu, ia langsung merebut kedua kucing peliharaan Widya itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi di udara.
"Azzam! Apa yang kau lakukan? Turunkan!" seru Nyonya Amanda, cemas setengah mati melihat tingkah putranya.
"Dimana Batu, hah! Jawab aku, Kadal!" sentak Azzam pada kedua kucing yang melongo kebingungan itu.
"Pasti salah satu dari kalian yang memakannya, kan? Oh pantas saja kalian berdua selalu duduk diam menatap akuarium itu dari tadi. Ternyata kalian tengah mengincar Batuku yang montok itu, hm? Awas saja, kalau aku menghukum kalian aku akan buang ke Alas Roban. Akan kujadikan kalian tumbal para dedemit di sana!" ancam Azzam dengan wajah yang begitu mengerikan.
Lagi-lagi, ikan cupang hias kesayangannya menjadi santapan empuk kedua kucing bawaan adiknya itu. Rasanya Azzam ingin sekali meledak karena kesal. Kalau saja ia tak mengingat siapa pemilik asli kucing itu, mungkin sudah dari tadi ia balas dendam dengan membuang kedua hewan berbulu itu entah ke mana.
"Tante... Mas Azzam... Dia gila ya?" bisik Kaizen pelan ke telinga Nyonya Amanda sambil menunjuk ke arah Azzam yang masih mengomel pada kucing.
Nyonya Amanda mengangguk pelan, lalu menghela napas panjang. Helaan nafas itu menandakan jika Nyonya pemilik rumah ini sepertinya juga sudah frustasi berat menghadapi sikap Azzam yang kadang seperti anak kecil, sibuk dengan dunianya sendiri.
"Tante, sepertinya Mas Azzam memang harus segera menikah," celetuk Kaizen tiba-tiba. "Lihat saja, jika tak segera dicarikan jodoh lagi, bisa-bisa dia jadi perjaka tua yang tak laku. Ah tidak, maksudku... jadi pria tua yang galak tak karuan."
"Kau benar, Sayang. Dia memang berisiko jadi perjaka tua yang keras kepala. Tapi soal mencarikan jodoh? Apa kau sendiri tak tahu sudah berapa banyak kencan buta yang ia tolak mentah-mentah?" sahut Nyonya Amanda pasrah.
"Tidak, Tante. Mas Azzam itu sebenarnya bukan perjaka lagi kok. Dia..."
"Zen!" seru Azzam dengan suara menggelegar.
Kaizen dan Nyonya Amanda sampai tersentak kaget. Tak menduga jika pembicaraan mereka yang berbisik-bisik itu ternyata terdengar jelas oleh si pemilik nama.
"Jangan bicara sembarangan kau, hah? Aku sudah memperingatkanmu bukan untuk diam soal itu?" Azzam benar-benar kesal. Saking kesalnya, ia langsung menarik telinga Kaizen yang benar-benar sudah hampir melewati batas kesabarannya.
Intinya, jangan pernah berharap rahasiamu aman jika Kaizen ada di dekatmu.
"Aduh, Mas! Sakit... Sakit sekali... Tante, tolong aku..." rengek Kaizen sambil memegangi telinganya yang merah.
"Azzam, jangan begitu pada adikmu. Lepaskan dia sekarang!" titah Nyonya Amanda tegas.