"200 juta kau bilang?"
Ekspresi wajah Nyonya Amanda berubah drastis, terlihat begitu terkejut saat mendengar angka yang meluncur dari mulut Kaizen itu. Beliau benar-benar tak menyangka dengan nominal fantastis yang digelontorkan oleh putranya, hanya demi seorang gadis milik Mami Dona agar wanita itu bisa bebas dan lepas dari ikatan Hotel Dona Indah.
"Benar, Tante. Pas sekali jumlahnya," jawab Kaizen dengan nada seterang-terangnya, seolah sedang melaporkan prestasi gemilang. "Dan belum habis sampai di situ lho. Saat kami berpisah tadi, Mas Azzam juga sempat memberinya uang saku tambahan sebanyak 10 juta. Katanya... buat bekal dia memulai hidup baru."
Azzam yang mendengar penuturan itu hanya diam bertopang dagu di tempatnya. Ia memilih pasrah dan membiarkan saja Kaizen mengoceh panjang lebar. Segala ancaman dan peringatan tajam dari Nyonya Amanda agar ia tutup mulut akhirnya membuatnya tak berani bergerak sedikit pun, meski sekadar untuk membantah atau membenarkan.
Lagipula... semua yang dikatakan Kaizen itu adalah fakta yang benar adanya. Kecuali satu hal saja, yaitu tuduhan kalau ia benar-benar telah tidur dan bersetubuh dengan gadis bernama Silvana itu. Itu bohong besar. Sisanya? Ya, benar semua.
"Azzam..." tegur Nyonya Amanda, suaranya terdengar tegas saat menyadari putranya itu hanya diam termenung menatap lantai.
Azzam tersentak kaget. Ia segera mengangkat wajah, lalu menoleh ke arah sang Ibu yang kini tengah menatapnya dengan sorot mata tajam seolah sedang menyoroti isi kepala dan hatinya.
"Y-Ya, Ma?" jawabnya gugup.
"Benar kau sampai merogoh kocek sebegitu dalamnya, sampai ratusan juta keluar, hanya untuk satu wanita itu, Nak?" tanya Nyonya Amanda tak habis pikir. Rasa penasaran bercampur takjub memenuhi benaknya.
"Ya... persis seperti yang dikatakan cecunguk sialan itu, Ma," jawab Azzam ketus sambil menunjuk Kaizen dengan dagunya. "Malas aku menjelaskan panjang lebar, ujung-ujungnya Mama juga tak akan percaya padaku."
Nyonya Amanda tak langsung menanggapi. Beliau justru kembali memutar kepala dan menatap lekat-lekat ke arah Kaizen. Tatapan itu begitu dalam, membuat Kaizen—putra satu-satunya Tuan Dzaki itu—seketika merasa sangat cemas dan mulai merinding sekujur tubuhnya.
"T-Tante... kenapa menatapku begitu?" tanya Kaizen terbata-bata, perlahan menggeser duduknya mundur sedikit menjauh. "Tante tak bermaksud untuk memintaku mencarikan wanita itu kemari bukan? Jangan ya Tante... jangan minta Zen mencarinya. Zen cuma lapor apa adanya saja lho."
Kaizen mulai pasang muka memelas, takut kalau-kalau tugas berat itu jatuh ke tangannya.
"Tante dengar ya, ini semua murni kemauan Mas Azzam sendiri! Dia yang berinisiatif melakukannya. Zen sudah peringatkan dia, sudah bilang kalau itu tindakan yang terlalu berlebihan dan tak wajar. Tapi Mas Azzam... dia keras kepala sekali. Kata Zen jangan, dia malah makin jadi. Zen kan cuma anak buah yang harus nurut sama bos besar," jelas Kaizen panjang lebar, berusaha melepas semua tanggung jawab dari pundaknya.
"Dia yang berniat membebaskan gadis itu, dia yang bayar mahal, dia yang kasih uang saku. Zen cuma jadi saksi mata saja, Tante... Saksi mata yang tak berdaya."
GREP!
Tak seperti yang Kaizen bayangkan. Ia kira Nyonya Amanda akan meledak marah setelah mendengar betapa boros dan gegabah tindakan Azzam, namun nyatanya hal sebaliknya yang terjadi.
Alih-alih dimarahi, sekarang Kaizen justru berakhir dalam pelukan hangat dan penuh kasih sayang yang Nyonya Amanda berikan. Pelukan itu begitu erat, saking eratnya bahkan sempat membuat Kaizen kesulitan mengambil napas, dadanya terasa sesak luar biasa karena terlalu dihimpit.
"Tante... Zen... Zen tak bisa bernafas..." erangnya pelan sambil berusaha melepaskan diri.
Nyonya Amanda segera mengendurkan pelukannya dan melepaskan Kaizen saat melihat keponakannya itu bereaksi tak nyaman. Wajah beliau terlihat sedikit salah tingkah, terbawa suasana karena begitu antusias dan senang dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Kau benar-benar tak tahu siapa asal-usul atau keluarga gadis itu, Nak?" tanya Nyonya Amanda lagi, matanya berbinar penuh harap dan rasa penasaran yang memuncak.
Kaizen menggeleng ragu, "Memangnya... Tante berniat mencarinya?"
"Ya! Siapa yang tahu nasib kan? Bisa saja ternyata gadis itu memang jodoh yang Tuhan kirimkan khusus untuk Masmu ini," jawab Nyonya Amanda yakin penuh.
"Ma, jangan konyol. Itu tak masuk akal. Usianya bahkan kemungkinan jauh di bawahku. Bahkan bisa jadi seumuran dengan Widya," sela Azzam tiba-tiba. Ia paham betul arah pikiran ibunya. Kalau sudah begini, berarti sang Ibu sudah berbulan-bulan menanti momen ini demi urusan pernikahannya.
"Memangnya kenapa kalau dia masih sangat muda? Toh kau sendiri sudah menidurinya dan menghabiskan malam bersamanya, kan?" sergah Nyonya Amanda tak peduli.
"Ma, sebaiknya jangan bicara seterang itu pada anakmu sendiri, apalagi kalau belum tahu cerita aslinya secara utuh. Tak semua omongan cecunguk ini benar adanya," bantah Azzam dengan nada kesal setengah mati.
"Ya ya ya, terserah kau mau berkilah bagaimana. Tapi kabar baiknya... coba lihat dirimu sendiri," ucap Nyonya Amanda sambil menunjuk-nunjuk tubuh putranya itu.
Azzam menatap bingung, lalu reflek memeriksa tubuhnya sendiri dari atas ke bawah, "Ada apa dengan tubuhku? Bersih dan tak ada luka apa-apa."
"Bodoh! Bukan itu maksudku!" Nyonya Amanda mendengus kesal. "Kau bisa berada sedekat itu, berduaan, dan bersentuhan dengan seorang gadis asing yang bukan siapa-siapamu, Azzam. Dan lihatlah... trauma masa lalumu itu tak muncul sama sekali. Kau baik-baik saja, kau tak sakit, kau tak muntah, kau tak marah-marah. Setidaknya itu adalah hal yang sangat luar biasa dan kabar paling baik yang Mama dengar selama bertahun-tahun!"
"Itu kan karena situasinya terpaksa, Ma..."
"Nggak ada namanya tapi, nggak ada alasan! Mama mau sekarang juga kau cari gadis itu dan bawa kemari. Nikahi dia, lalu segera beri Mama dan Papa cucu-cucu yang lucu-lucu dan gemas. Paham?!" titah Nyonya Amanda dengan raut wajah yang berubah seketika menjadi garang dan tak bisa ditawar.
Mendengar itu, Kaizen yang sedari tadi diam seketika terkekeh-kekeh menahan tawa. Melihat ekspresi wajah Azzam yang terlihat seperti orang yang baru saja menerima hukuman mati itu benar-benar menjadi hiburan paling mahal baginya pagi ini.
BUAAAKK!
Namun kebahagiaan Kaizen tak berlangsung lama. Sebuah bantal sofa tiba-tiba terbang melayang begitu cepat ke arahnya, mengejutkan nyawanya yang hampir melayang.
Lemparan itu sangat keras, saking kerasnya sampai membuat wajah tampan Azzam sendiri memerah padam karena melampiaskan segala kekesalan dan dendam yang tertumpuk.