Hah! Hah! Hah!
Dengan napas yang masih memburu dan terengah-engah, seorang wanita paruh baya berhenti tepat di hadapan Silvana. Tangannya bergetar hebat sembari mengusap-usap dadanya yang terasa begitu sesak, seolah sangat kesulitan hanya sekadar untuk menarik dan mengembuskan napas saja.
"Tolong... tas itu... tas itu milik saya," ucap wanita itu dengan suara terbata-bata, masih sisa ketakutan yang jelas terlihat di wajahnya.
Silvana yang melihat itu dengan sigap dan cepat menyambar tas kulit mahal yang sempat dijambret tadi, yang kini sudah tergeletak begitu saja di samping si penjambret yang sedang dihajar dan dihadang amukan massa.
Lalu dengan senyum ramah dan sopan, Silvana mengantarkan tas itu kembali ke pangkuan pemilik aslinya.
"Tante, ini tasnya. Sudah aman kok."
Wanita itu seketika merekahkan senyum lebar yang lega. Ia langsung memeluk erat tas mewah itu ke dadanya, seolah benda itu adalah harta paling berharga di dunia yang hampir hilang selamanya.
"Sayang... untung saja kau tak hilang. Hiks... Tante hampir mati rasanya kalau sampai tas ini raib," gumamnya lirih.
Dan Silvana? Gadis itu hanya bisa menahan tawanya sekuat tenaga melihat pemandangan tak biasa itu.
Wajar saja menurut Silvana bersikap begitu. Melihat penampilan wanita itu yang berpenampilan sangat rapi, berkelas, dan wangi semerbak, sepertinya identitas wanita ini juga tak sembarangan orang. Apalagi tas yang sempat direbut paksa itu—walau Silvana awam soal barang bermerek—tapi bentuknya yang unik dan detailnya yang mencolok, terlihat jelas seperti tas edisi terbatas yang hanya dimiliki oleh kalangan orang-orang tertentu saja.
"Terimakasih banyak ya, Nak. Untung saja ada kamu di sini tadi," ucap wanita itu penuh kekaguman, matanya menatap Silvana lekat-lekat. "Tante lihat sendiri lho, gerak-gerikmu cepat sekali. Kamu hebat banget ya, bisa bikin orang jahat sebesar itu terkapar cuma dengan satu tendangan saja."
Silvana hanya bisa tersipu malu mendengar pujian berlebihan itu. Ia sampai menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali, salah tingkah dibuatnya.
"Sama-sama, Tante. Itu... hal biasa saja kok. Kebetulan saja dia yang kurang hati-hati," jawab Silvana merendah, meski dalam hatinya ia sangat setuju kalau dirinya memang hebat luar biasa.
Sesaat kemudian, tampak wanita itu merogoh sesuatu dari dalam saku bagian dalam tasnya.
Jreng!
Itu adalah tumpukan lembaran uang berwarna merah yang dikeluarkan begitu saja, jumlahnya cukup banyak dan tebal. Seketika mata Silvana berbinar cerah, nyaris berkilat-kilat. Hatinya langsung berteriak girang: 'Rezeki! Ini baru namanya rezeki nomplok!'
"Terima ini, Sayang. Anggap saja ini sebagai tanda terimakasih dan penghargaan Tante. Ya?" ucap wanita itu sambil menyodorkan uang itu ke depan dada Silvana.
Silvana ragu-ragu. Ia memandang uang itu, lalu memandang wajah wanita itu bergantian. Dengan rasa segan yang dibuat-buat, ia mencoba menolak pemberian itu dengan nada sopan sekali.
"Tante... saya menolong bukan untuk imbalan kok. Saya ikhlas membantu," tolak Silvana pelan, namun matanya sama sekali tak beranjak dari tumpukan uang merah itu.
Cemas? Tentu saja ada. Tapi bukan cemas karena merasa tak pantas, melainkan cemas kalau-kalau ucapannya yang menolak itu benar-benar dituruti oleh wanita di hadapannya ini. Ia cuma pura-pura saja agar terlihat seperti gadis yang sangat dermawan dan mulia hatinya. Padahal dalam hati kecilnya, tangannya sudah gatal sekali ingin menyambar.
"Tak apa, Sayang. Terima saja. Ini rezeki dari Tuhan yang dikirimkan lewat tangan Tante untukmu. Anggap saja sedekah," bujuk wanita itu lembut.
"Benar lho Tante, saya ikhlas kok... Hehe," jawab Silvana sambil nyengir kuda, masih berusaha menjaga gengsi kepura-puraannya.
"Hm, ya sudah deh kalau memang kamu bersikeras tak mau menerima. Tante tak mau memaksa orang baik sepertimu," ucap wanita itu sambil mengangguk paham. Lalu perlahan-lahan tangan indah itu bergerak, menaruh kembali lembaran uang merah tebal itu masuk ke dalam tasnya, menutup ritsletingnya rapi-rapi.
"Eh... O-Oh iya Tante..."
Wajah sumringah Silvana yang tadinya bersinar terang seketika berubah mendung dan kelabu dalam sekejap mata. Saat itu juga tangan yang tadinya gatal ingin menyambut uang itu tiba-tiba saja kehilangan 'tamu penting' yang sudah ada di depan mata.
Kecewa? Tentu saja! Bahkan wajah Silvana saat itu terlihat begitu masam, bibirnya mengerucut panjang. Ia sampai beberapa kali meneguk air liurnya yang tiba-tiba terasa begitu pahit rasanya.
'Bodohnya diri ini! Apes banget kau, Silva. Siapa suruh sok baik, sok suci, sok dermawan banget sih?! Kan lihat tuh, uangnya jadi lenyap begitu saja. Padahal uang itu bisa banget buat menyambung hidup dan gaya hidupmu di kota besar ini paling tidak selama sebulan ke depan. Arghhh... sialan!' umpat Silvana dalam hati, kesal setengah mati pada dirinya sendiri.
Silvana pun memilih diam seribu bahasa. Ia hanya memperhatikan orang-orang di sekitar sana yang masih sibuk dengan penjambret itu. Ada yang sibuk merekam kejadian itu dengan ponselnya, ada yang sibuk melerai massa yang masih ingin memukuli pelaku, ada yang sibuk menasihati, dan ada pula yang sibuk menertawakan nasib malang si pencuri itu.
Sementara itu, wanita paruh baya itu kini terlihat tengah berdiri agak menjauh. Ia sibuk berbicara lewat ponselnya dengan seseorang, suaranya terdengar sedikit berbisik namun penuh wibawa.
KRRRUUUCCCCUUUKKK!
Suara gemuruh dari dalam perut Silvana terdengar begitu nyaring dan jelas, seolah sedang berteriak minta diisi. Padahal di dalam restoran itu suasana sedang hening dan tenang.
"Huh... lapar sekali rasanya," gumam Silvana pelan sambil mengelus-elus perutnya yang mulai keroncongan hebat sejak tadi.
PUK!