Istri Tengil Pilihan Sang CEO

Titah Kesumawardani
Chapter #10

Tawaran Gila, Angka Fantastis, dan Lamaran Mendadak

"Jadi... kau sedang mencari pekerjaan, Sayang?" tanya Nyonya Amanda santai di sela-sela waktu makan mereka.

Meski baru beberapa saat berkenalan, namun sepertinya komunikasi di antara keduanya telah terjalin dengan sangat baik dan akrab. Nyonya Amanda merasa nyaman sekali mengobrol dengan gadis muda di hadapannya ini.

Silvana yang memiliki tipikal gadis periang, polos, dan apa adanya itu, benar-benar mengingatkan Nyonya Amanda pada dirinya sendiri saat masih muda dulu. Cantik, cerdas, ceria, berani, namun tetap menjunjung sopan santun. Benar-benar definisi gadis manis yang ternyata punya banyak kejutan dan keahlian tersembunyi.

Tahu kalau Silvana ternyata sendirian di kota besar ini, tak punya saudara, tak punya kenalan, dan harus berjuang sendiri demi hidup, tentu membuat Nyonya Amanda takjub sekaligus merasa cemas dan iba. Usia Silvana yang masih berada di awal dua puluhan itu, menurut beliau, belum terlalu matang untuk melewati keras dan rumitnya kehidupan ibu kota sendirian. Setidaknya gadis ini butuh bimbingan dan perlindungan dari seseorang yang punya banyak pengalaman agar tak tersesat atau dimanfaatkan orang jahat.

"Ya, Tante. Silva sedang cari kerja," jawab Silvana sambil mengunyah makanan lezat itu dengan lahap namun tetap sopan. "Tapi... sepertinya mencari pekerjaan di kota ini susah sekali ya, Tante. Semuanya butuh ijazah tinggi atau pengalaman kerja yang banyak. Padahal Silva kan baru sampai di sini." keluhnya sambil menampilkan raut wajah lesu dan sedih yang dibuat-buat namun tetap terlihat menggemaskan.

Nyonya Amanda tersenyum bijak. Tangannya bergerak lembut, mengelus puncak kepala Silvana dengan kasih.

"Kalau Silva mau, Tante bisa membantu mencarikan tempat yang cocok. Malah ada satu tempat bagus sekali," ucap Nyonya Amanda santai.

Mendengar hal itu, tentu saja membuat Silvana seketika berubah menjadi sangat gembira. Bagaimana tidak? Setidaknya kalau tawaran itu benar-benar terjadi, maka Silva tak perlu lagi bersusah payah berpanas-panasan keliling kota menyebar lamaran, tak perlu bingung mau makan apa besok, dan tak perlu khawatir soal uang sewa kost.

"Benarkah itu? Tante sungguh bisa bantu Silvana?" tanyanya bersemangat, matanya berbinar cerah.

"Tentu saja. Apapun itu, asalkan Silva mau dan sanggup, Tante atur semuanya."

Silvana benar-benar antusias luar biasa akan hal itu. Dengan mata yang berkilat penuh harap, gadis itu merasa dirinya memang punya keberuntungan yang bagus. Baru keluar dari masalah, langsung bertemu orang baik yang menolong, lalu dikasih makan enak, sekarang malah ditawari pekerjaan. Dasar beruntung terus anak ini.

"Hanya saja... Silva harus jujur sama Tante ya," kata Silvana ragu-ragu, meletakkan sendok garpunya. "Silva cuma lulusan SMA kok Tante. Belum punya ijazah kuliah atau semacamnya. Tapi tenang saja, Silva itu rajin dan bisa melakukan pekerjaan apa pun kok. Mau bersih-bersih rumah, menyapu, mengepel, memasak segala macam masakan, berkebun, mencuci baju, bahkan mengasuh anak kecil juga Silva bisa lho. Silva tak pilih-pilih kerjaan deh Tante."

Nyonya Amanda seketika tersenyum getir menahan tawanya mendengar daftar keahlian yang dilontarkan Silvana tadi.

'Eh ya ampun, polos sekali anak ini. Daftar keahlian dan tawaran itu sih kalau dipikir-pikir lebih cocok jadi daftar isi CV buat melamar jadi istri, bukannya karyawan kantoran atau pembantu rumah tangga biasa,' batin Nyonya Amanda gemas setengah mati.

"Mengasuh anak kecil katamu?" tanya Nyonya Amanda menggoda.

"Ya Tante. Begini-begini Silva pandai sekali mengasuh lho. Dulu di kampung sering bantu tetangga jaga anak, atau bantu Paman dan Bibi urus adik-adik sepupu. Silva sabar kok ngadepin anak-anak, tak pernah marah-marah," jawab Silvana bangga.

"Wah... kebetulan sekali itu kalau begitu," ucap Nyonya Amanda sambil mengangguk-angguk seolah mendapat ide paling cemerlang. "Kebetulan sekali, Tante memang punya lowongan khusus untuk posisi mengasuh. Kau berminat menerimanya?"

"Serius Tante? Ada lowongan mengasuh anak?!" mata Silvana semakin berbinar terang.

"Tentu saja serius. Bahkan kau bisa langsung mulai bekerja hari ini atau besok pagi kalau mau. Tak perlu tes ini-itu, tak perlu ijazah tinggi, yang penting mau bekerja dan sabar," jawab Nyonya Amanda enteng.

Mata Silvana benar-benar terlihat begitu cerah saat menatap Nyonya Amanda. Sorot mata coklat keemasan itu begitu bersinar saat diterpa cahaya matahari yang menyeruak masuk lewat jendela restoran. Benar-benar mata yang indah, teduh, namun juga menyimpan kelincahan dan kejenakaan tersendiri.

"Kalau boleh tahu Tante... usia berapa anak yang harus Silvana asuh nanti?" tanya Silvana hati-hati. "Karena setahu Silva, beda usia maka beda juga cara asuh dan pendekatannya. Bayi kan beda sama balita, balita beda sama anak SD."

Senyum yang mengembang di bibir wanita paruh baya di hadapannya itu, sejatinya benar-benar membuat Silvana merasa sedikit ragu dan bingung. Entah mengapa, rasanya ada maksud tersembunyi di balik keramahan dan kebaikan yang ia dapatkan dari wanita ini sejak tadi. Apakah beliau benar-benar orang baik yang tulus ingin membantunya? Tapi kenapa rasanya... ada yang aneh dan tak biasa dari tawaran ini?

"Itu sih gampang sekali, Sayang. Tak perlu ribet cara mengasuhnya kok. Dia orangnya sudah mandiri, makan sendiri, tidur sendiri, kerja sendiri. Cuma... terkadang sifatnya agak keras kepala, susah diatur, dingin, dan pemilih sekali soal makanan dan lingkungan. Usianya sekitar... tiga puluh enam tahun."

"Oh... tiga puluh enam bulan ya? Kalau masih balita besar begitu memang lagi aktif-aktifnya ya Tante. Kalau begitu Silva siap kok menghadapinya..." jawab Silvana santai sambil mengangguk paham.

"Eit, tidak tidak! Kau salah tangkap, Nak. Bukan bulan, tapi tahun. Tiga puluh enam tahun umurnya."


DUUUAAARRR!!!

Dan akhirnya, segala keraguan yang sempat Silvana rasakan tadi kini menemui titik terang—atau lebih tepatnya menemui titik kebingungan yang jauh lebih besar.

Yang benar saja? Tiga puluh enam tahun? Bukankah usia segitu sudah sangat pantas jika Silvana sendiri yang butuh diasuh, dibimbing, dan diajari banyak hal? Selisih usia lebih dari sepuluh tahun itu membuat Silvana merasa dirinya benar-benar seperti anak kecil yang baru belajar berjalan.

"Kalau usia tiga puluh enam tahun itu masih dianggap anak-anak yang butuh diasuh, lalu usia Silvana yang baru menginjak dua puluh dua tahun ini apa dong, Tante? Zigot? Janin? Atau sel telur yang belum dibuahi?" protes Silvana dengan raut wajah tak percaya dan kesal yang menggemaskan.

Nyonya Amanda refleks tertawa lebar mendengar dalih konyol yang keluar dari mulut gadis itu. Dari cara Silvana menyanggah, mengelak, dan melontarkan pertanyaan nyeleneh itu, benar-benar membuat hati Nyonya Amanda terasa sangat gemas. Saking gemasnya, tanpa sadar wanita itu tiba-tiba saja mencubit kedua pipi Silvana yang kenyal itu pelan namun berulang kali.

"Gemas sekali si kamu, Nak. Pintar sekali ya berdalihnya," ucap Nyonya Amanda sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Tapi Tante bicara serius lho sama kamu. Kebetulan sekali, orang yang butuh diasuh itu adalah anak kandung Tante sendiri. Usianya memang sudah tiga puluh enam tahun, tapi kelakuannya kadang masih lebih rewel dan susah diatur dibanding anak balita."

"Ya tapi... kalau sudah segitu umurnya, dia sudah lebih pantas jadi orang tua atau kakek-kakek muda kan, Tante? Masa masih perlu pengasuh?"

"Hahaha... Kau benar, Sayang. Harusnya begitu. Sayangnya dia malah asyik menduda sendirian di rumah besar itu hingga sekarang. Tak mau cari pendamping lagi."

Lihat selengkapnya