Aspal Panas dan Amarah Sang Tuan
Malam itu, bulan seolah bersembunyi di balik awan hitam, enggan menyaksikan kegilaan yang akan terjadi di jalanan lingkar luar kota yang sepi. Deru mesin motor sport yang dimodifikasi sedemikian rupa memecah kesunyian malam. Bau bensin dan karet ban yang terbakar memenuhi udara, memacu adrenalin siapa pun yang berada di sana.
Andrea Arlanda, dengan rambut ash grey yang tertutup helm full-face hitam pekat, duduk di atas motor Ninja miliknya. Di balik visor helmnya, matanya menyala. Ini bukan sekadar tentang hobi, ini adalah deklarasi perang. Jika menghabiskan uang tidak bisa membuat Arkansas Volker marah, maka mempertaruhkan nyawa pasti akan memancing "si kanebo" itu keluar dari zona nyamannya.
"Siap, Re? Lawan lo kali ini si gila dari geng sebelah," teriak salah satu teman sekolahnya yang merangkap jadi panitia balap liar.
"Gue nggak peduli siapa lawannya. Gue cuma butuh kecepatan!" jawab Andrea, memutar gas motornya hingga suaranya melengking membelah malam.
Detik-Detik yang Menegangkan
Bendera jatuh. Andrea melesat bagaikan peluru perak. Ia memacu motornya hingga jarum speedometer menyentuh angka yang membuat jantung berdegup kencang. Angin malam menghantam tubuhnya, namun rasa takut itu justru membuatnya merasa hidup.
Namun, di sebuah tikungan tajam yang dikenal dengan nama 'Tikungan Maut', lawan Andrea mencoba memepetnya dengan kasar. Andrea yang tidak mau kalah mencoba mengambil jalur dalam, namun nahas, tumpahan oli tipis di aspal membuat ban belakangnya kehilangan traksi.
Citttttt! Braakkkk!
Motor Andrea terseret beberapa meter, menimbulkan percikan api saat logam beradu dengan aspal. Tubuh mungil itu terguling di atas aspal keras sebelum akhirnya berhenti di bahu jalan.