It's Always Been You, Fraya

Farah MAULIDA
Chapter #1

New Day, New Life, New Drama


​"Hati-hati dengan kardus itu! Isinya buku-buku putriku semua. Dia bisa membunuhku kalau ujungnya penyok sedikit saja!"

​Fraya, yang baru saja hendak melangkah masuk ke rumah barunya di bilangan London, langsung berbalik. Ia menatap Papanya dengan kening berkerut dalam sembari mendekap sebuah kotak berukuran sedang.

"Hei! That's not nice, Dad!"

​Fraya tahu itu hanya gurauan. Eric, pria bertubuh tegap dengan binar jenaka di matanya, langsung tertawa lepas melihat Fraya berkacak pinggang. Bahkan petugas angkut yang berdiri di dekat mereka pun tak tahan untuk tidak ikut terkekeh.

​Tak lama, Mama muncul dari dalam rumah dengan napas yang memburu pendek. Wajahnya kemerahan, tampak kelelahan karena bersikeras ikut mengangkat barang yang sebenarnya tak seberapa banyak. Jika tadi Fraya membalas Papanya dengan bahasa Inggris, kini giliran Mama yang mengeluarkan jurus protes khasnya dalam bahasa Indonesia.

​"Papa kamu ini gimana, sih? Kenapa cari rumah seluas ini? Barang kita kan cuma sedikit. Lihat nih, hampir semuanya sudah masuk tapi ruangan masih terasa kosong melompong gini. Mama ngomong saja suaranya sampai bergema!"

​Meski Eric tidak paham setiap kata yang diucapkan istrinya, ia sudah hafal nada komplain itu-lagu lama yang sudah ia dengar sejak mereka masih di Jakarta.

​"It's from the company, Honey. We should be grateful for not having a small townhouse," jawab Eric lembut, mencoba menenangkan.

​Melihat perdebatan kecil yang mulai berlanjut, Fraya memilih "melarikan diri". Ia menyelinap masuk, menelusuri lorong rumah yang harus ia akui memang jauh lebih megah dibanding rumah mereka di Jakarta.

​Sebagai Kepala IT di perusahaan internasional, Eric memang sering berpindah tugas. Kali ini, kontraknya di Inggris tergolong lama: dua tahun. Demi mendukung impian Fraya untuk berkuliah di universitas ternama, Eric memutuskan untuk memboyong anak dan istrinya untuk ikut ke London.

​Begitu menemukan kamarnya, Fraya langsung jatuh cinta. Ruangan itu dibanjiri cahaya alami dari jendela besar yang menghadap langsung ke halaman depan. Ia sudah bisa membayangkan dirinya duduk di sana, ditemani segelas cokelat panas dan tumpukan buku pelajaran.

​Fraya meletakkan kardusnya dan mengeluarkan selembar poster kampus impian yang ia bawa dengan penuh hati-hati. Ia memandanginya dengan mata berbinar sebelum menempelkannya di dinding.

​Oxford University.

​Dulu, saat dunianya hanya sebatas hiruk-pikuk Jakarta bersama Mama, bermimpi tentang Oxford terasa seperti mengharapkan bulan jatuh ke pangkuan. Namun, kehadiran Eric Moore mengubah segalanya. Pria yang dulu merupakan kekasih masa muda Mamanya di Connecticut itu memperlakukan Fraya seperti darah dagingnya sendiri. Sejak hari pertama mereka bertemu, Eric telah berjanji akan membawa Fraya selangkah lebih dekat ke mimpinya.

​Dan hari ini, janji itu terwujud. Fraya menghirup udara London yang segar-sangat berbeda dengan aroma polusi Jakarta. Walau ia tahu, dalam beberapa minggu ke depan, ia pasti akan merindukan semangkuk bakso urat di pinggir jalan.

Tok, tok.

​Ketukan ringan di pintu yang terbuka membuatnya menoleh. Mama berdiri di sana dengan senyum simpul.

​"Lusa kamu sudah mulai masuk sekolah, lho," Mama mengingatkan, masih sambil berdiri menutupi ambang pintu kamar Fraya.

Lihat selengkapnya