It's Always Been You, Fraya

Farah MAULIDA
Chapter #2

The Insufferably Handsome Prince


Bagi Damian Nicholas Harding, hidup adalah tentang kesempurnaan yang diberikan Tuhan secara cuma-cuma.

Di usianya yang kedelapan belas, ia memiliki segalanya: tubuh tegap menjulang, rahang yang seolah dipahat oleh seniman Yunani, hidung mancung sempurna, dan sepasang mata sebiru samudra yang sanggup mengintimidasi siapa pun yang berani menatapnya terlalu lama.

​Di dunia ini, orang kaya ada sebanyak bintang di langit. Namun, Damian bukan sekadar "orang kaya". Keluarganya adalah penguasa; tangan-tangan mereka menggenggam setengah dari populasi bumi melalui imperium teknologi, alat kesehatan global, hingga lini fashion mewah yang namanya selalu bergema di panggung Eropa. Di Milford Hall, nama Damian bukan sekadar nama—itu adalah sebuah kasta.

​Pemandangan gadis-gadis yang mendadak lemas atau bahkan mimisan saat berpapasan dengannya sudah menjadi "menu sarapan" sehari-hari. Teriakan histeris yang mengiringi langkah angkuhnya di lorong sekolah tak ubahnya melodi wajib yang selalu menemaninya.

​Namun, Damian bukan tipe cowok sok dingin yang menutup diri. Ia menerima semua pemujaan itu dengan senyum ramah yang dibalut keangkuhan khas seorang pewaris takhta. Ia adalah pusat gravitasi. Fisiknya yang sempurna dan latar belakang aristokratnya membuat Damian terasa nyata, namun mustahil untuk digapai. Seperti lukisan Mona Lisa di balik kaca antigeluru: dikagumi jutaan orang, tapi tak boleh disentuh.

​Soal wanita? Damian adalah masternya. Ia bisa mendapatkan siapa pun tanpa perlu label "status". Ia tidak punya batasan, selama mereka cantik dan seksi. Namun, ada satu aturan mutlak dalam kamusnya: Tidak ada kata pacaran. Jangan pernah meminta kejelasan, atau kamu akan tereliminasi dari dunianya.

​Namun, hari itu di kelas Mrs. Witherspoon, benteng pertahanan Damian mendadak retak.

​Ia mendapati dirinya termenung lebih lama dari biasanya saat seorang murid baru melenggang masuk. Gadis Asia dengan rambut hitam legam yang jatuh nyaris sepinggang. Cara gadis itu menyibakkan rambutnya—menciptakan helaian berantakan yang entah bagaimana justru terlihat sangat menawan—membuat napas Damian tertahan sejenak. Kulitnya yang seputih gading tampak sehat dan mulus, kontras dengan seragam gelap Milford.

​Damian bahkan lupa caranya berkedip saat gadis itu menyunggingkan senyum tulus, meski Axel baru saja melontarkan godaan murahan yang membuat kelas riuh. Senyum itu... Damian tidak bisa melepaskan pandangannya saat gadis itu melintas di sampingnya menuju bangku belakang, tepat di belakang Louis Partridge.

​Fraya Alexandrea.

​Nama yang cantik, pikir Damian. Ia sudah sering mendengar nama Freya atau Alexandra, tapi perpaduan keduanya terasa baru dan memikat. Namun, kejutan sebenarnya terjadi saat Fraya tanpa sengaja membalas tatapannya.

​Gadis itu menatapnya sekilas, lalu berpaling begitu saja.

Lihat selengkapnya