Namanya Florence Hunt. Gadis berdarah Skotlandia yang lahir dan besar di jantung London itu adalah orang pertama yang menyapa Fraya di kelas Biologi. Rambutnya pirang dengan sentuhan highlight cokelat madu yang berkilau setiap kali ia bergerak. Florence memiliki tawa serak yang khas dan senyum yang begitu tulus hingga matanya ikut menyipit ramah—lengkap dengan taburan freckles manis di bawah kedua matanya.
"Aku harus panggil kamu apa? Fay atau Alexa?" tanya Florence saat ia memutuskan untuk menempati bangku kosong di sebelah Fraya.
"Fay boleh. Alexa... hmm, terakhir kali aku dipanggil begitu oleh guru lesku di Indonesia. Kadang malah dipanggil Alex saja. Jadi, terserah kamu," jawab Fraya santai.
Florence mengangguk mantap. "Ok. I think i'm gonna go with Alexa. That name really suits on you. Nama itu terdengar sangat cantik. Aku sering mendengar Alexandra, tapi Alexandrea? Itu unik. Aku menyukainya."
Keakraban mereka terjalin begitu saja. Awalnya Fraya ragu apakah ia bisa bertahan di Milford Hall dengan penampilan yang kelewat biasa—tanpa tas desainer, tanpa aksesori mewah selain Apple Watch hitam yang dikenakannya ditangan kiri, dan hanya sepasang sepatu kets putih yang sudah tidak terlalu putih lagi. Namun, Florence ternyata jauh dari kesan borjuis yang menyebalkan, tidak seperti sebagian besar cewek-cewek di Milford yang setiap hari seperti berlomba memamerkan 'label mewah apa yang kamu kenakan hari ini'. Gadis itu tidak peduli pada barang-barang brandedc. Meski desas-desus mengatakan ayah Florence adalah salah satu pengusaha paling sukses di Eropa, Florence tetaplah gadis rendah hati yang menyenangkan.
Suatu hari, bel makan siang berdering nyaring. Saat mereka sedang sibuk membereskan buku, Florence mendadak memekik kecil sambil menutup mulutnya.
"Ada apa, Flo?" tanya Fraya bingung.
Florence tidak menjawab. Dengan gerakan secepat kilat, ia menyambar tasnya dan menarik paksa lengan Fraya keluar kelas. Fraya bahkan harus terseok-seok menyampirkan tas ke punggungnya karena tarikan Florence yang tidak sabaran.
Begitu sampai di lorong, Fraya nyaris menabrak bahu Florence yang tiba-tiba berhenti. Namun, sebelum Fraya sempat melayangkan protes, ia melihat rona merah menyapu pipi Florence. Gadis itu sedang menatap sesuatu—atau seseorang—dengan binar memuja di matanya dibalik punggung Fraya.
Fraya mengikuti arah pandang itu. Di sana, di depan deretan loker, berdiri segerombolan cowok yang merupakan "penguasa" tak resmi Milford Hall.
"Kamu naksir salah satu dari mereka?" tanya Fraya.
"Bukan sekadar naksir," bisik Florence dengan aksen British-nya yang kental. "Aku... sedang menjalin hubungan dengan salah satu dari mereka."
Alis Fraya terangkat tinggi. "Serius? Yang mana?"