Fraya melangkah menyusuri lorong menuju area rekreasi yang lebih mirip klub eksklusif daripada fasilitas sekolah. Di tangannya, cangkir kopi berukuran large dari kafetaria masih mengepulkan uap panas. Langkahnya mantap, mengabaikan debaran jantungnya yang berpacu liar.
Ia bukan tipe pencari masalah, tapi melihat Florence hancur telah membangunkan sisi lain dalam dirinya yang selama ini ia kunci rapat.
Begitu pintu bar terbuka, aroma alkohol ringan dan parfum mahal langsung menyergap indranya. Fraya menyapu pandangan ke sekeliling ruangan yang remang itu, hingga matanya terpaku pada gerombolan cowok di sudut ruangan. Di sana, Axel sedang tertawa keras, seolah dunia berada dalam genggamannya. Di sampingnya, Damian Harding tampak bersandar malas dengan mata terpejam, sementara Louis Partridge dan Russo sibuk menimpali lelucon Axel.
Fraya berjalan mendekat. Suara sepatu ketsnya di atas lantai kayu memicu perhatian kecil, namun ia terus maju hingga berdiri tepat di depan meja mereka.
Axel berhenti tertawa. Ia menatap Fraya dengan tatapan meremehkan yang sudah sangat akrab bagi gadis itu. "Well, lihat siapa yang datang. Si jenius dari Asia. Mau minta tanda tangan atau mau kusembunyikan di balik loker lagi?"
Teman-temannya tertawa, kecuali Damian yang kini membuka mata, menatap Fraya dengan dahi berkerut—seolah sedang mencoba membaca isi pikiran gadis itu.
"Aku ke sini bukan untuk lelucon murahanmu, Axel," suara Fraya terdengar tenang, namun mengandung getaran yang mengancam. "Aku ke sini untuk menanyakan satu hal. Florence Hunt. Does the name rings anything to you?"
Seketika, tawa Axel lenyap. Ia bertukar lirik dengan Russo sebelum kembali menatap Fraya dengan senyum miring yang menyebalkan. "Oh, si gadis Skotlandia itu? Dia manis, memang. Tapi hey, di Milford, segalanya bergerak cepat. Dia hanya hiburan singkat untuk minggu yang membosankan."
"Hiburan?" desis Fraya. "Kamu memintanya backstreet, berjanji tidak akan menyakitinya, lalu mencampakkannya setelah kamu mendapatkan apa yang kamu mau?"
Axel mengedikkan bahu dengan sangat santai, seolah yang ia bicarakan adalah cuaca, bukan perasaan seseorang.
"Jangan terlalu serius, Alexa. Dia sendiri yang mau percaya. Di dunia ini, yang lemah akan selalu dimanfaatkan. Itu hukum alam."
Axel kemudian menoleh ke arah teman-temannya. "Kalian dengar itu? Gadis ini mencoba menjadi pahlawan untuk si cengeng Florence. Hei, Axel tidak pernah menjanjikan kejelasan pada siapa pun, kan?"