It's Always Been You, Fraya

Farah MAULIDA
Chapter #5

Poundsterling Raining

​Malam itu, di balkon rumah Axel yang luas, musik pesta terdengar berdentum di lantai bawah. Damian duduk dengan segelas Tequila di tangannya, menatap hamparan taman yang gelap.

Axel berdiri di sampingnya, menenggak Gin n Tonic seolah itu adalah air putih.

Dendam masih terlihat jelas di matanya.

​"You need to help me out with this one," ujar Axel parau. "Dekati cewek itu, Man. Terus buat hatinya patah sejadi-jadinya begitu dia jatuh cinta sama kamu."

Damian berhenti memainkan es di gelasnya. Ia menatap Axel lurus. "You're not serious."

​"I'm deadly serious!" tukas Axel yakin. "Buat dia jatuh cinta sama kamu, Damian. Aku nggak sudi kalau dia cuma sekadar suka. Dia harus jatuh cinta sampai ketika waktunya kamu pergi ninggalin dia, dia bakal hancur."

​Damian terdiam cukup lama. Ada pergolakan batin yang berat; ia membenci skenario ini, tapi ia juga terikat pada 'hutang budi' ayahnya yang brengsek kepada keluarga Axel.

​"Apa nggak ada cara lain?" tanya Damian akhirnya. "Atau kau bisa suruh Louis saja? Dia sudah lebih dulu kenal dengan cewek itu."

​"Aku tidak suka Louis. Dan aku hanya percaya padamu untuk urusan ini," tukas Axel dingin. Ia menepuk pundak Damian. "Pilihannya cuma dua: buat dia jatuh cinta, atau buat dia berlutut minta maaf padaku. Imbalannya akan sebanding dengan usahamu, Damian."

Lama Damian terdiam mengamati hamparan halaman didepannya dengan mata kosong. Pada ekor mata Damian, Axel mengembuskan napas sambil mengambil ponsel yang ia letakan dalam saku.

"Jadi bagaimana?" tanya Axel lagi, karena sepupu disebelahnya ini masih bisu seribu bahasa.

Giliran Damian yang menghela napas berat, berusaha memenuhi oksigen ke paru-parunya yang menyempit semenjak Axel melenggang masuk ke balkon rumah.

"Alright," ujar Damian dengan malas.

Axel memajukan kepalanya tepat ke telinga Damian, "Apa? Aku tidak dengar,"

Damian memutar bola mata dengan kesal, tapi menjawab lagi dengan suara lebih keras dari sebelumnya, menekankan kekesalannya pada cowok disebelahnya ini, "Iya, aku akan patahkan hatinya. Aku akan buat dia berlutut minta maaf padamu, dan aku akan patahkan hatinya begitubdia dia mencintaiku."

Senyum picik yang begitu puas langsung tersungging dibibir tipis Axel.

Ditekannya tombol merah di layar ponsel Axel seraya dimasukannya kembali ponsel itu ke saku celana. Semua gestur kecil itu dilakukannya dengan mulus tanpa sekalipun dilirik oleh mata Damian.

Axel menepuk pundak Damian sebelum meninggalkannya sendirian di balkon. Senyum bangga masih menyungging dibibir Axel, menemani langkah yang pergi untuk kembali masuk kedalam pesta besar yang diadakan dirumahnya.

Damian menarik napas panjang, mengutuk takdirnya yang lagi-lagi harus menjadi "robot" bagi ambisi Axel yang picik.

°°°°

​Beberapa hari kemudian, Fraya sedang menyendiri di taman sekolah saat seorang cewek berkacamata menepuk bahunya.

​"Hai. Halo...?"

​Fraya melepas earphone-nya. "Maaf, aku nggak dengar."

​Cewek itu tersenyum lebar seraya menyerahkan secarik kertas yang dilipat dengan asal.

Lihat selengkapnya