It's Me, April

Elhassaries
Chapter #13

13. Gaun

“Kak, kita puter balik, ya. Kakakku pasti bakal marah kalau aku kayak gini.”

“Emang kamu kayak gimana?” Aku menarik nafas dalam dan berusaha menyusun skenario untuk menjelaskan situasi yang akan kuhadapi nantinya. Tenggorokanku mendadak terasa tercekik.

“Kak, tolonglah…” Seluruh kata yang akan menjelaskan situasi di dalam rumahku, tidak bisa diucapkan. Aku melipatkan tangan usai mengatakan itu. Aku mulai memikirkan kata yang dilontarkan Rama. Mungkin jika aku pulang bersamanya, aku akan segera diantar ke rumah tanpa harus menyinggahi tempat yang lain.

“Telpon kakakmu.” Aku langsung menelponnya tanpa memikirkan kata yang akan diutarakan. Saat suara dari seberang terdengar, aku malah diam dan langsung menyerahkan ponselku pada Kak Rafa. Terkadang aku mendadak bingung ketika menghadapi sesuatu yang sedikit menakutiku.

“Halo. Apa ini dengan kakaknya Sifa?”

“Saya pelatihnya Sifa. Saya ingin menyampaikan bahwa latihan hari ini akan sampai malam.” Aku membuka mata dengan lebar saat mendengarnya mengungkapkan kebohongan itu dengan sangat santai. Bisa bisanya dia berbohong seperti itu.

“Iya. Saya yang akan mengantarnya pulang.”

“Baik, sama sama.” Dia mengakhiri panggilan dengan senyuman yang mengembang. Dia juga tidak lupa untuk mengembalikan ponsel itu padaku.

“Itu kakakku loh,” tuturku cemas.

“Iya. Terus?” Aku mengeluarkan udara dari mulutku dengan sekaligus. Ucapan yang singkat membuatku merasa tidak nyaman mendengarnya, terlebih ini berbeda dengan saat kami berada di sanggar.

“Kenapa kakak bohong?” Dia memperlambat laju kendaraaan karna situasi di depan kendaraan. Lampu merah membuat kami harus berhenti sementara. Aku membiarkan pengamen yang terus berteriak menginginkan pundi uang, hanya demi fokus mendapatkan jenis jawaban yang akan diutarakannya.

“Yang paling penting sekarang biar aman aja dulu, urusan yang lain mah gimana nantinya.” Dia mengatakan itu dengan sangat mudah, seperti tidak akan ada hal yang membebani.


***


Mobil di berhentikan di depan sebuah toko baju perempuan yang tidak sesuai dengan karakterku. Aku tidak perduli seberapa cocok atau tidaknya pakaian itu di tubuh seseorang. Karna jelas saja, kedatanganku disini hanya untuk dimintai pendapat mengenai selera wanita yang akan diberinya pakaian. Dengan kata lain, ini bukan atas kemauanku.

“Kamu duduk aja disana. Aku mau cari baju dulu.” Aku mengangguk lalu duduk di tempat yang ditunjuk Kak Rafa. Sembari menunggunya kembali, aku terus memeriksa ponselku yang tidak menampakkan sebuah pesan dari siapapun. Aku menjadi semakin bosan karnanya. Tanganku berusaha menopang kepala agar tidak ambruk. Rasa pegal di lututku semakin terasa seiring dengan waktu yang dihabiskan untuk menantinya datang.

“Fa…” Kepalaku langsung mengikuti arah suaranya. Kulihat Kak Rafa memegang dua baju di tangannya.

Lihat selengkapnya