It's Me, April

Elhassaries
Chapter #14

14. In The Night

Aku tidak terbiasa melakukan penolakan dalam bentuk apapun. Bahkan bila sesuatu yang dihadapi adalah hal yang tidak kusuka, aku akan berusaha untuk tetap bisa menerimanya. Kali ini mataku terusik oleh satu benda yang di dapatkan secara gratis. Sebetulnya barang yang diberikan Kak Rafa itu bagus menurutku, tapi sepertinya tidak akan pantas jika aku yang mengenakannya. Dengan badan tanpa bentuk, sepertinya itu kurang cocok untukku.

“Akhirnya pulang juga,” Sambut kakakku yang sudah berdiri di dekat tangga. Aku melewatinya sambil mengucap salam.

“Assalamu ‘alaikum.” Dalam langkahku, aku tidak mengharapkannya untuk membalas ucapanku.

“Wa‘alaikum salam. Kamu pulang sama siapa?” Baru beberapa langkah melewatinya, aku langsung berbalik badan. Kak Nata juga ternyata berbalik badan. Hasilnya, kami menjadi terkesan saling berhadapan dalam jarak yang tidak dekat.

“Sama pelatih yang nelpon tadi.” Aku kembali meneruskan perjalanan menuju kamar sambil menghentakkan kaki. Aku enggan merespon kata katanya yang terus saja menginterogasi. Pertanyaannya bergulir di identitas lelaki yang mengantarku kemari. Telingaku terasa panas walau hanya mendengarkan ocehannya.

Karna merasa tidak tahan, aku langsung memasang perangkat khusus telinga yang memperdengarkan alunan musik. Sambil sedikit menggerakkan tubuh, kurentangkan pemberian Kak Rafa di atas kasur.

Aku langsung memakaikannya ke tubuh. Tanganku berusaha untuk mengatur ngatur bagian bawah, tapi tetap saja yang kukenakan itu tidak bisa menutupi seluruh pahaku. Bahuku tidak bisa ditutupi dengan kain pendek yang berada di lengan. Ini merupakan pilihan buruk untukku. Semoga saja, Kak Rafa tidak menyuruhku untuk memakainya.

Pakaian pun kuganti dengan yang yang sebelumnya. Usai menyegarkan tubuh dengan sedikit guyuran, aku menggantinya dengan setelan untuk tidur. Mataku di pejamkan usai kegiatan beribadah selesai di lakukan. Rebahan di kasur adalah hal yang membuat otakku mulai merasakan ketenangan. Tanpa mempedulikan ponsel, akhirnya aku dapat pergi ke alam lain.


***


Aku tersenyum melihat seorang lelaki berjalan sembari memberiku senyuman. Walaupun wajahnya tidak terlalu jelas, aku yakin bahwa senyumannya itu hanya ditujukan padaku seorang. Setelah semakin mendekat, aku dapat melihatnya. Orang itu ternyata Kak Rafa, aku merasa senang melihatnya memancarkan sinar yang membahagiakan.

Setelah jarak di antara kami semakin tipis, Kak Rafa melewatiku tanpa permisi. Dia ternyata malah menghampiri Refa lalu pergi. Mereka berdua nampak tertawa bersama di saat aku merasa kecewa. Aku tidak tahu alasanku untuk merasa kecewa dengan keduanya. Jelasnya, aku merasa bahwa hal yang dilihat benar benar tidak bisa aku terima.

“Sifaaa…” Teriakan Kak Nata membuatku terbangun. Sebelumnya aku sudah memastikan untuk tidak mendengar suaranya lagi, tapi ternyata earphone yang kugunakan terlepas dari telinga. Aku sudah dapat memastikan dari suara yang keluar dari mulutnya kali ini, ini adalah kode agar aku menyapa orang yang berada di bawah. Aku langsung beranjak dari kasur, mengganti baju dengan pakaian santai dan langsung pergi ke bawah.

Kulihat ada seorang lelaki tengah duduk membelakangi. Kak Nata yang tengah berhadapan dengannya terlihat tertawa ringan mendengar ucapannya. Menurutku suara orang yang bertamu kali ini terdengar sedikit familiar.

“Itu Sifa-nya udah datang. Kamu mau minum apa?” Aku berjalan mendekat, mataku sulit berkedip saat melihat orang yang kukenali ternyata bisa lolos kesini.

“Teh manis hangat aja, Kak,” Ucapnya dengan santai. Aku tidak pernah melihatnya berucap dengan sangat mantap. Dia memancarkan sesuatu yang tentunya sangat berbeda di bandingkan saat bersamaku. Matanya mengikuti cara dia tersenyum dan tentu saja senyumannya sangat menenangkan. Oh ya, dia pernah bersikap manis sekali. Hanya saat dia pertama kali memperkenalkanku dengan seblak dan sanggar seninya.

Aku duduk di tempat yang tadinya di duduki kakakku. Menurutku, kakakku bukan orang yang bisa sembarang memasukkan orang lain ke rumahnya. Dari sekian banyak orang lain di dunia ini, kenapa harus Rama yang mengusik tidurku?

“Kamu ngapain disini?” Aku mulai menghentikan matanya yang sedari tadi menjelajahi sudut ruangan. Bukannya menjawab, dia malah mengajukan pertanyaan padaku sambil menunjuk sebuah foto dengan kepalanya.

“Itu kamu? Kok pakai baju pengantin?”

Lihat selengkapnya