It's Me, April

Elhassaries
Chapter #15

15. Jealous

Seperti hari sebelumnya, waktu luangku diisi dengan melatih diri. Aku membaca narasi mengikuti alur musik yang diberikan Kak Rafa sebelumnya. Tentunya aku tidak serta merta bisa melakukannya sebebas itu di rumah. Jika aku berlatih di rumah, Kak Nata pasti akan menceramahiku. Aku harus mencuri waktu dari tempat lain. H-3 acara, aku harus bisa.

"Udah oke aja nih," Ucap seseorang dari belakang. Aku memberikan senyuman pada si empunya suara.

"Eh, Gea. Tumben kesini." Aku melepas earphoneku dan menggeser tubuh agar Gea bisa duduk.

"Hehe. Aku maen maen kesini emang enggak boleh apa. Oh iya, liat Kak Rama enggak?" Seorang Rama yang menyebalkan itu ternyata bisa dicariin orang sepenting Gea.

"Aku enggak liat tuh hari ini." Gea hanya ber-oh ria. Dia tetap duduk walau tidak mendapat informasi dariku.

"Kamu kan deket sama Kak Rama, bisa kan hubungin dia gitu. Bilangin aja kalo Gea ada perlu." Aku dekat dengannya? Ya, dekat yang ini kan dalam artian yang berbeda.

"Deket sih enggak cuman lagi ada proyek lagi sama dia." Kata kataku memang terdengar lebih seperti orang sibuk sekarang. Dosen itu, Pak Ferdi memberikan tugas lagi dengan kelompok yang sama seperti beberapa hari lalu dan aku juga tengah menjalankan misi untuk mendekatkan Rama dengan Refa.

"Kamu ada nomernya, kan? Kamu bisa kontek dia enggak?"

"Aku ada, tapi enggak mau ngontek. Kamu aja deh yang ngontek." Aku langsung mengirimkan nomer Rama ke Gea.

"Lah, kok kamu gitu. Aku kan enggak deket sama Kak Rama. Masa aku tiba tiba ngontek dia."

"Kamu kan mau ketemu sama Kak Rama. Udah langsung kontek aja sama kamu. Biar nanti kalau ada apa apa kan langsung sama yang bersangkutan gitu." Aku memasang earphoneku kembali dan mulai mendengarkan musik yang tadi.

"Sok soan bilang kayak gitu. Padahal sendirinya juga cemburu kan karena ada cewek lain yang nanyain Kak Rama." Walaupun telingaku aktif mendengar, tubuhku yang lain tidak ada yang merespon ucapannya.

"Aku duluan," Ucapku sambil membereskan semua perkakas dan langsung pergi ke tempat lain.

Saat berjalan di koridor, aku berpapasan dengan Rama. Dia terlihat sibuk berbincang dengan Refa. Aku pun menghampiri mereka dan memperhatikan cara mereka bicara yang tidak di mengerti.

"Ram, tadi di cariin Gea di taman."

"Kok enggak panggil kakak?" Aku memperhatikan Refa sebentar lalu mengusap dada.

"Kakak...."

"Iya, Adek." Uh, ini beneran geli kedengarannya.

"Tadi Gea nyariin." Aku langsung pergi usai mengatakan itu. Aku malas jika harus menghadapi dirinya yang menyebalkan seperti itu.

"Hei, Sifa." Pundakku di tepuk pelan seseorang. Dari suara yang terdengar, ini pasti Refa. Aku menghadap ke sumber suara dan mendapati Refa berdiri sambil melambai.

"Apa?"

"Kamu kenapa?" Dia berjalan di sampingku.

"Aku enggak kenapa napa."

"Maaf, tadi aku sama Kak Rama cuman bahas hal buat tugas aja. Enggak lebih."

"Kenapa maaf ke aku?"

"Ya, kali aja kamu marah."

"Marah? Kenapa harus marah?" Gea dan Refa adalah dua orang yang tidak dapat kumengerti ucapannya hari ini. Yang satu ngatain aku cemburu dan satunya lagi ngatain marah. Dan kenapa mereka mengaitkannya dengan Rama? Aku benar benar tidak mengerti.

"Eh, Sif. Gimana perkembangan kamu sama Kak Rama?" Refa malah membelokkannya kesini. Pertanyaanku belum terjawab dan sekarang dia mulai mengajukan pertanyaan padaku.

"Perkembangan apa?"

"Perkembangan kayak hubungan spesial."

"Hubungan spesial apa lagi ini? Bikin males." Aku pergi meninggalkan Refa dengan langkah yang terburu buru karna enggan memberi tanggapan yang berkaitan dengan laki-laki itu.

"Kenapa sih semua orang jadi ngatain gitu? Aku sama Rama? Apa coba katanya? Nyebelin."

DUG

Lihat selengkapnya