It's Me, April

Elhassaries
Chapter #16

16. Retak

"Jauhi Rafa." Aku mengaktifkan mode bisu untuk saat ini. Beberapa hari ini dia menghilang, sekalinya muncul permintaannya aneh lagi. "Kenapa diam? Bisa gak?"

"Wah, bentar lagi nyampe. Turun disini aja ya, kak." Dia memberhentikan ku di dekat rumah Kak Nata. Dia cepat sekali merubah suasana dan raut wajah. Padahal saat memukul Rafa, dia terlihat garang. Lihatlah dia sekarang, sangat berbeda.

"Kakak gak kenapa napa, kan?"

"Enggak. Buat masalah yang tadi, tanyain aja sama Rafa. Aku pulang ya. Kalau sampai rumah, kabarin." Aku mengangguk lalu memperhatikan laju kendaraannya yang di luar kebiasaannya. Saat sendiri, dia berkendara dengan kecepatan tinggi.

"Fa, beliin jus mangga. Nih uangnya, kembaliannya ambil aja." Aku mengambil uang dari tangan Kak Nata dan berbalik.

"Kok kayak lesu gitu? Kenapa?"

"Gak kenapa napa. Aku pamit."

"Lah, pamit?" Aku tidak peduli dengan teriakan Kak Nata. Dia memanggilku sampai aku berada teras rumah. Rasanya malas untuk mengucap apapun. Bisakah aku mengucap sepatah kata pada pembeli nanti?

Kendaraan lalu lalang seperti biasanya. Pagi, siang ataupun malam kendaraan selalu ada di jalanan sekitar rumah. Walaupun itu hanya satu. Tapi, intinya ada.

Saat mendekati tempat penjual jus, aku melihat Refa tengah di rangkul seorang lelaki yang nyaris mirip sempurna dengan Kak Rafa. Dari perawakan hingga ke warna baju yang di kenakannya persis sama. Aku berusaha berfikir positif. Itu mungkin pacarnya, kembaran Kak Rafa. Sepertinya aku akan dianggap mengganggu jika menghampiri mereka.

"Ini, kak."

"Makasih." Dia tidak mengajakku ribut. Aku kembali mengecek ponsel saat berbaring di kamar. Sesaat aku baru teringat.

"Aku udah di rumah. Makasih udah nganterin." Rama membalas pesanku dengan emoji jempol. Itu saja?

"Udah nanya sama Rafa?"

"Belum, Kak. Mungkin nanti."

Menyusun kemungkinan pertanyaan terbaik adalah upaya untuk memperoleh jawaban yang jujur. Bukannya aku beranggapan bahwa Kak Rafa akan berbohong. Tapi saat emosi tidak stabil, seseorang bisa menambahkan cerita yang lain. Bisa saja sifatnya buruk dan tanpa akhir.

"Kak..."

"Iya, Sif."

"Lagi ngapain?"

"Aku lagi makan. Kamu udah makan?" Oh iya, aku lupa.

"Udah, kak."

"Oh syukurlah. Kamu tahu aku makan sama apa? Aku makan sama sop iga nih. Kamu suka gak?"

"Suka banget. Apalagi kalau bikinan ibu."

"Ibu siapa?"

"Ibu nya aku."

"Oh, ibu mertua suka masak juga. Suka masakin apa biasanya?" Ibu mertua? Aku tersenyum saat mendengarnya mengatakan itu. "Kok diam?"

"Eh gimana tadi?"

"Dia suka masakin apa?"

"Masak apa aja, banyak. Tapi aku udah lama gak makan masakannya."

"Kamu gak pernah ngerasa kangen sama masakannya?"

"Kangen lah. Tapi gimana lagi, ibu aku jauh dari sini. Ketemu orangnya juga susah."

"Kapan kapan aku boleh ke rumah ibumu gak?"

"Buat?"

"Memperkenalkan diri." Lagi lagi, aku merasa geli kegirangan. Padahal katanya ambigu.

"Oooooh."

"Itu kurang panjang loh o nya." Tidak peduli seberapa nyaring suara tawaku. Aku hanya ingin melakukannya saja.

"Oh iya, Kak. Perihal tadi..."

"Aku bakalan cerita kalau udah siap." Dia mematikan kataku. Yang bisa di lakukan sekarang hanyalah diam.

Lihat selengkapnya