"Kita mau kemana sekarang? Ini masih pagi, Kak." Ucapku sambil sedikit meremas perut.
"Kamu maunya kemana?" Aku melihat wajahnya di kaca spion. Dia bertanya tanpa melihatku. Fokus itu namanya, fokus.
"Terserah." Krubuk.. Ya, begitulah suara berontakan dari perut. Mereka bersikeras agar pemiliknya tahu. Tapi, ini memalukan. Semoga Rama tidak mendengarnya.
"Ke tempat makan ya. Aku belum sarapan."
"Oh iya. Kebetulan aku juga belum sarapan, kak." Rama memperlambat laju kendaraan sambil menggerakan kepalanya kesana kemari. Kendaraannya belum menepi dan dia terus saja mencari. Aku yang terlalu pagi atau penjualnya saja yang kesiangan. Gerobakan makanannya ada, tapi terlihat kosong seperti tanpa ada yang punya.
"Kita ke dekat rumahku aja ya. Aku gak tahu tempat yang enak di sekitar sini. Keliatannya juga masih belum ada yang buka"
"Ya, pokoknya terserah kakak. Aku ngikut."
Motor yang kunaiki berhenti setelah hampir seperempat jam perjalanan. Ternyata cukup jauh untuk sampai ke kampus. Apalagi ke rumahku. Dia tidak merasa keberatan kan saat menjemput dan mengantarkan anak yang tinggal berlawanan arah dengannya? Ke kampus, ke sanggar, ke tempat lain. Pasti merepotkan.
"Ketopraknya dua ya, bi."
"Bu, ba, bi. Bu, ba, bi. Biasanya kan manggil ayang mbeb." Jawab ibu bertubuh gempal. Dia menyiapkan piring sambil cemberut.
"Bi, ulah Kitu. Ini ada cewek bi. Cewek." Dia langsung melihat ke arahku. Tentu saja aku yang merasa menjadi pusat perhatiannya hanya bisa tersenyum sambil agak mengangguk.
"Alah, dapat darimana ini? Hidungnya mancung, putih, euleuh euleuh geulis pisan." Aku tidak pandai membalas hal yang bersifat pujian atau hinaan. Seperti biasa, tersenyum adalah jalan ninjaku.
"Ih, ngaca coba ngaca. Rambut teh rapihin dulu kalau bawa cewek kayak gini." Ujar bibi penjual sambil mendorong sedikit tubuh Rama dan mengacak rambutnya. Rama mengaduh sembari menunjukkan wajahnya yang memelas.
"Sakit atuh bi. Atuh da tadi teh buru buru jadi gak keburu gitu." Rama mengusap tangannya lalu berusaha menyisir rambut dengan jari.
"Padahal tinggal pakai pomade meuni hese."
Aku tertawa ringan melihat tingkah mereka. Karena sangat akrab, mungkin orang bisa mengira bahwa hubungan mereka lebih dari sekedar penjual dan pembeli. Bahkan mereka terus saling mengejek. Walaupun demikian, aku rasa inilah hubungan sesungguhnya. Mereka saling menyayangi dengan caranya sendiri.
"Jang Dian, kasihan atuh si cantik berdiri terus. Ajak duduk atuh gimana ieu teh."
"Eh iya, duduk yuk." Aku duduk di bangku paling dekat dengan penjualnya. Rama langsung sibuk memperhatikan ponselnya. Seperti dirinya, aku juga sibuk tapi dengan segala upaya untuk merangkai kata.
"Kak Rama." Dia langsung menyimpan ponsel dan melihatku seksama.
"Makasih udah bantu ngerjain tugas aku. Maaf ya, aku ngerepotin." Aku mengatakan itu murni karena bingung harus seperti apa. Perasaan bersalah juga tidak enak. Sulit untuk mendefinisikan perasaanku sesungguhnya.
"Itu murni keinginan aku, jadi aku gak ngerasa di repotin kok. Ini, makan aja sekarang." Aku menyendok makanan yang sudah berada di hadapanku. Sayang sekali jika kubiarkan dingin begitu. Mataku membelalak. Refleks saja ku sendok banyak dan kukunyah pelan semuanya.
"Enak kan?"
"Enak, kak. Mungkin karena lapar aku jadi cepat cepat makan kayak gini." Ucapku sambil mengunyah ketopraknya.
"Oh, jadi tadi kamu gemetaran di motor karena lapar." Aku menyimpan sendok sambil menelan makananku.
"Aku gemeteran? Enggak mungkin. Aku gak pernah kayak gitu."
"Oh iya, aku tadi gak berani lihat ke belakang pas denger sesuatu."
"Denger apa?" Dia tertawa kecil sambil menutup mulutnya. Pasti saat perutku berbunyi. Memalukan.
"Udahlah. Intinya, aku udah bilang maaf sama makasih. Oke." Dia mengunyah makanan sambil menahan tawa.
"Apa yang kemarin udah di tanyain ke Rafa?" Aku terdiam sambil melihatnya berusaha menelan makanan.
"Katanya dia butuh waktu buat jelasin semuanya."
"Kalau gitu tunggu aja."