It's Me, April

Elhassaries
Chapter #18

18. Pentas

"Kenapa neng? Duh, gimana ini teh? Neng, minum dulu ya. Minum dulu." Aku tidak bisa fokus untuk sesaat tapi bibi penjual ketoprak berusaha menghapus air mata dengan tisu dan meletakkan gelas pada tanganku.

"Diminum dulu. Tenangin diri ya sayang. Nanti bibi panggilin ojek buat nganterin." Aku mengangguk. Di balik sikapnya yang agak kasar pada Rama, ternyata dia adalah sosok lembut yang peduli bahkan pada orang yang tidak dia kenali.

"Itu udah ada akang ojeknya. Sok ya, hati hati di jalan." Dia mengantarku sambil mengusap pelan pundakku.

"Makanan tadi gimana bi?" Aku memutar kepala agar bisa melihat bibi yang ternyata tengah membereskan meja tempatku tadi makan.

"Udah di bayar sama Jang Dian."

"Oh kalau gitu makasih ya, bi." Sebenarnya ada banyak ucapan terima kasih yang ingin kuungkapkan pada bibi itu. Namun orang yang sudah menangis sesenggukan sepertiku sudah kehilangan cukup banyak energi untuk berkata lagi. Aku hanya berharap agar secepatnya bisa sampai ke kampus.

Perkuliahan hari ini akan memakan waktu cukup panjang. Akan lebih baik jika beristirahat sejenak sembari menunggu waktu perkuliahan di mulai. Tapi aku tidak memiliki ruangan bebas untuk melepas penat sesaat.

"Makasih ya." Aku memberikan beberapa lembar uang pada orang yang mengantarku sampai ke luar gerbang kampus. Wajahku di saksikan oleh orang - orang yang kulewati. Pasti sangat berantakan.

"Sifa, kenapa ini?" Sudah jelas mataku bahkan sulit terbuka. Dia masih saja mempertanyakannya.

"Mataku lagi susah di buka." Aku duduk di bangku terdekat dari jarak menuju kelas.

"Iya, aku tahu. Pasti susah banget buat di buka. Tapi itu karena nangis, kan? Kamu kenapa?" Refa adalah orang terpeka di antara sahabat dekatku.

"Aku tadi lagi kesal terus ngamuk gak jelas."

"Gak biasanya kamu kayak gitu. Coba ceritain, kali aja bisa bikin lebih tenang." Aku menarik nafas lebih dalam agar dapat berbicara dengan tenang.

"Kak Rama jadiin aku bahan taruhan."

"Apa? Mana mungkin. Dia gak kayak gitu. Walaupun ngulang kelas karena bolos, bukan berarti dia orang yang suka mainin cewek, Sif."

"Kali aja, kan."

"Gini ya, mantan Kak Rama itu kakak aku sendiri. Mereka putus juga baik baik gak ada masalah sama sekali. Dia gak ada tuh cerita selingkuh atau gimana."

"Kakak kamu?"

"Iya. Kak Vita. Dia kuliah di Inggris sekarang. Karena itu juga sih yang bikin mereka putus sebenernya. Tapi bentar, kata siapa Kak Rama jadiin kamu taruhan?" Aku tidak bisa membeberkan semua hal padanya. Aku tidak ingin menjelaskannya dari awal.

"Ya udah, kalau gak mau cerita gak apa apa. Gak bakalan maksa ini." Aku mengangguk sambil menatap sepatu sendiri.

"Kak Rama emang sedikit ngeselin. Dia juga orangnya kadang suka ngatur dan maksa. Tapi biasanya di balik semua sikapnya dia punya alasan tersendiri buat ngelakuin hal itu. Kalau kamu udah membaik, coba bicara aja sama Kak Rama." Bahkan tidak ada sedikitpun niatan bagiku untuk berbicara dengannya.

"Iya. Kita masuk aja, yuk. Kayaknya bentar lagi ada dosen." Aku mengatakannya setelah melihat kendaraan dari seseorang yang di tunggu melewati gerbang.

Seperti perkuliahan biasa. Dosen itu menjelaskan materi tanpa teks. Beliau sama sekali tidak pernah melibatkan alat tulis saat belajar. Bahkan media teknologi modern pun tidak dikenakannya. Beliau juga sangat mahir dalam menghafal.

Mencatat adalah hal yang kugemari biasanya. Namun untuk saat ini, minat memcorat coret buku pun tidak ada. Aku kehilangannya.

"Sifa.." Aku sedikit tersentak saat Refa menusuk pulpennya ke tangan kananku.

"Aku berkali kali manggil loh." Bisiknya.

Lihat selengkapnya