It's Me, April

Elhassaries
Chapter #19

19. Mistake

"Terima kasih atas kerja samanya. Tepuk tangan dulu dong biar gak tegang." Kami bertepuk tangan setelah hampir seharian berada di tempat acara. Di bandingkan rasa tegang, aku merasa bahwa tubuhku tengah lelah saat ini. Bagaimana tidak? Semua barang di tempat, di rapihkan usai semua halnya berakhir.

"Ini adalah hari terakhir kakak disini."

"Yah," Suara kekecewaan gadis mini memang terdengar seperti fans di tinggalkan sang idolanya. Mereka menunduk kebanyakannya. Tapi tidak semua.

"Kakak jangan pergi."

"Iya, Kak." "Iya." Pasti berat untuk membiarkan Kak Rafa memfokuskan diri pada pendidikan. Tapi itu adalah pilihannya. Sepertinya dia ingin segera menuntaskan perkuliahannya.

"Kalian tenang aja. Kakak janji bakalan sering kesini buat jengukin kalian."

"Hore..." Sorak kegirangan di tengah kesedihan. Itu semua penghiburan palsu. Tidak ada yang sepenuhnya menerima hanya karena di iming imingi hal menjanjikan. Dia hanya sekedar menenangkan.

"Sekarang waktunya kalian beristirahat. Nikmatin aja sisa hari ini. Oke. Besok kan hari Senin."

"Kita libur, kak," Teriak anak-anak. Akhir pekan bersambung dengan hari senin yang libur, semuanya adalah kenikmatan bagi.

"Oh iya, tanggal merah ya. Ya udah, kalian cepetan pulang. Nanti di cariin mamah." Anak-anak yang dominannya anak sekolahan itu nampak meninggalkan gedung. Satu persatu dari mereka melambaikan tangan sambil menunjukkan wajah yang riang. Perpisahan hari ini bukan akhir bagi mereka. Ini mungkin sebuah awal dalam menetapkan hal yang mereka gemari. Berbeda denganku. Aku seperti nostalgia melihatnya.

Suasana serta ekspresi perorangan hari ini tidak jauh berbeda dengan aku yang saat itu masih sekolah menengah pertama. Saat itu evaluasinya cukup ganas karena mendapat pelatih yang cukup keras. Bukan bertindak keras secara fisik, tapi mengusik secara mental.

"Fa, kita pulang yuk." Aku mengangguk.

Sepanjang jalanan sepi dan tanpa suara apapun di dalam mobil. Mungkin karena itu kepalaku tiba tiba jadi berisik. Banyak argumen yang muncul karena semua sudah di akhir. Aku harus apa setelah ini? Haruskah melanjutkan kegiatan di tempat yang sama? Ataukah harus berlari menjauhkan diri seperti dulu lagi? Aku berhasil terduduk disini pun karena seseorang memaksaku untuk tergabung. Padahal tempat seperti itu adalah jenis tempat yang kubenci. Tubuhku bahkan menolak saat pertama kali datang. Dia sebetulnya berjasa tapi kesalahan tetaplah kesalahan. Pertolongan dan upayanya adalah agar dia menang. Tentu saja, dia orang yang seperti itu.

"Sifa!" Aku tidak bisa melanjutkannya. Anggapan-anggapan tadi tiba tiba pergi tanpa permisi.

"Dari tadi aku manggil kamu loh." Kak Rafa mengatakan kata itu tanpa menoleh sama sekali. Saat aku melihat ke arah luar, aku jadi tersadar bahwa tempat pemberhentian sekarang sangatlah asing.

"Ini dimana?"

"Di depan rumahku. Aku tadi udah nanya apa boleh aku bawa kamu ke rumah. Terus kata kamu boleh."

"Kapan aku bilang boleh?" Aku gegabah. Terlalu berbahaya jika sekarang ke rumahnya. Aku belum siap bertemu keluarga Kak Rafa.

"Tadi. Kayaknya karena kelamaan ngelamun, kamu jadi gak sadar kalau aku bilang gitu." Seingatku, mulutku tidak kubuka sedikitpun. Bagaimana bisa aku memperbolehkannya?

"Kita masuk, yuk." Aku keluar dari kendaraan. Perjalananku menuju tempat tujuan tidaklah jauh. Hanya beberapa langkah untuk dapat sampai ke depan gerbang. Jarak gerbang ke pintu lebih dekat lagi ternyata.

Aku dipersilahkan masuk lebih dulu. Kak Rafa terlihat sibuk mondar mandir kesana kemari.

Lihat selengkapnya