It's Me, April

Elhassaries
Chapter #20

20. Hug

"Mah, hari ini aku bawa anak orang. Tapi dia cewek. Gak apa apa, kan?" Tiba tiba aku membuka mata perlahan. Walaupun samar terlihat seseorang dengan memar di bagian dekat bibirnya. Dia berbeda dengan orang yang berniat buruk padaku.

"Dia adiknya Kak Natali." Aku sedikit terkejut. Dia mengatakan nama kakakku. Itu berarti, aku adalah 'cewek' yang dimaksudnya.

"Nanti aku cerita ya, Mah. Aku mau jalan lagi. Bye." Usai percakapan itu berakhir, aku pun mengakhiri usahaku untuk terus membuka mata. Walaupun tidak membuka mata, bukan berarti aku tidak sadar. Badanku terasa diangkat seseorang untuk di pindahkan.

"Mah, aku nitip di kamar Mamah, ya." Dugaanku saat ini adalah pasti aku diletakkannya di atas kasur. Aku merindukan tempat yang nyaman dan tenang.

"Mah."

"Apa sayang?"

"Bisa bilang ke Kak Natali gak kalau Sifa lagi disini?"

"Kalau Mamah bilang dia disini, gimana jelasinnya? Kondisi Sifa berantakan kayak gini."

"Bilang aja ada acara tambahan abis pentas teh. Terus karena kemaleman jadi nginep disini biar gak berabe. Aku yakin kalau Mamah yang bilang, Kak Natali bakalan ngemaklumin dan ngijinin."

"Mamah bakalan bantuin kamu. Tapi kamu harus cerita tentang ini. Oke."

"Aku janji. Aku bakalan cerita ke Mamah kalau Mamah bantuin aku juga."

"Kalau gitu, Mamah telepon Natali dulu." Pergerakan mereka tidak terlihat. Aku masih enggan membuka mata. Aku kurang berani walaupun hanya melihat mereka dengan samar.

"Maaf." Aku mendengar suara Kak Rama. Terasa sebuah tangan mengelus perlahan rambutku. Aku merasa sakit karena hal yang dilakukannya. Mengingat bahwa dia adalah orang yang mengenalkanku pada sang pelatih.

"Mamah udah bilang. Kamu obatin dulu lukanya. Biar Mamah yang urus Sifa."

"Iya, Mah. Makasih ya." Suara langkah seseorang terdengar cukup keras dan terburu buru. Apakah Kak Rama pergi?

"Sifa, Mamah tahu kalau kamu lagi enggak tidur." Badanku terbaring dan tidak digerakkan kecuali mata.

"Kamu udah makan belum?" Kata itu sangat asing untukku. Yang aku tahu, orang yang memiliki usia tidak jauh dengannya tidak tahu caranya menanyakan keadaan. Pipiku menjadi basah.

"Yang kamu laluin pasti berat." Pelukannya, tangannya yang mengelus kepalaku perlahan membuatku teringat seseorang di rumahku. Aku tidak ingat kapan terakhir mendapat perlakuan seperti ini.

"Udahan dulu ya nangisnya, sayang. Mamah ambilkan air dan nasinya dulu." Aku memposisikan tubuh agar bisa duduk dengan nyaman. Dibandingkan kejadian hari ini, perlakuan dari Mamahnya Kak Rama membuatku menangis.

"Makan dulu ya." Aku mengangguk. Dia menyuapiku beberapa sendok bubur dan membantuku untuk minum. Walau sambil bergetar, aku masih sanggup menelan semua yang sudah masuk ke mulut.

"Kamu harus istirahat sekarang." Dia hendak pergi, tapi aku menahan tangannya yang sedang memegangi peralatan makan.

"Ibu akan tidur disini, kan?" Dia menatapku dengan mata yang sayu. Aku tidak tahu arti pandangannya saat ini.

"Mamah," Ucapnya tegas. "Sifa boleh panggil saya Mamah. Mamah akan tidur disini kalau Sifa enggak keberatan."

"Mamah." Aku tidak terbiasa memanggil orang lain dengan sebutan itu.

"Mah, seharusnya aku dulu yang bicara seperti itu. Apa Mamah keberatan jika aku tidur disini sama Mamah?" Dia meletakkan perkakasnya di tempat semula lalu memelukku sebentar.

"Mamah enggak keberatan. Mamah justru seneng. Sekarang jadi ada temen disini. Oh iya, kayaknya pakaian ini enggak nyaman dipakai sama kamu. Sifa, kamu mandi dulu terus ganti pakai bajunya Mamah."

"Iya, Mamah."

Lihat selengkapnya