It's Me, April

Elhassaries
Chapter #21

21. Terpaksa Jadian

"Hati hati ya di jalannya. Jangan lupa, nitip salam buat Natali," Teriak Mamahnya Kak Rama saat dia tengah mengeluarkan kendaraannya.

"Iya, Mamah bawel." Teriak Kak Rama. Aku dan Kak Rama menaiki kendaraan yang sama. Dalam bayanganku sebelumnya, Kak Rama akan mengantarku ke rumah dengan motor uniknya. Mungkin dia tidak menggunakannya karena sikapku. Aku terlihat sengaja membuat jarak dengannya.

"April."

"Iya."

"Apa kamu masih kefikiran kejadian kemarin malam?" Dia mengatakannya sembari memperbaiki sabukku. Suaranya terasa menembus ke telinga bagian dalam dan wajahnya terlihat lebih bersih di bandingkan sebelumnya. Ini cukup dekat. Jantungku tiba tiba berdetak lebih kencang dari biasanya. Aku jadi bertanya tanya pada diriku sendiri. Kenapa jantungku seperti ini? Eh, bukan. Karena terlalu dekat, apa wajahku terlihat jelek sekarang? Aku tidak menggunakan riasan apapun. Ayo Sifa, sekarang harus fokus pada pertanyaannya.

"Enggak, Kak." Aku mendorong tubuhnya perlahan.

"Jangan maksain diri buat bisa deket sama semua orang. Apalagi sama aku. Gak apa apa kalau kamu mau ngejauh juga." Tidak ada niatan sedikit pun untuk bisa dekat dengan Kak Rama. Jika pun pada akhirnya seperti itu, tidak apa. Itu takdir.

"Kenapa harus ngejauh dari orang sebaik kakak? Kalau gak ada kakak, aku gak tahu lagi bakalan kayak gimana. Untung aja cuman kebentur dikit." Kak Rama langsung mengarahkan kepalaku ke kanan dan kiri. Seperti ada yang sedang dia cari.

"Kebentur? Apanya yang kebentur? Apa masih sakit?"

"Kita ke dokter ya sekarang." Dia mengatakannya sembari mengusap rambutku dengan lembut.

"Aku gak apa apa, Kak. Maaf, kayaknya aku udah bikin khawatir. Maaf juga karena udah ngira Kakak yang enggak enggak." Bukan hal yang mudah bagiku untuk minta maaf. Walaupun demikian, aku malah meminta maaf pada orang yang membuatku kesal. Dia sudah menjadi perantara untukku dan laki laki berengsek itu saling kenal. Ah, benar benar menyebalkan.

"Wajahnya kenapa jadi kayak ngajak berantem?" Aku menepis tangannya dari kepalaku.

"Sini." Dia mencubit pipiku sambil tersenyum. "Aw," sedikit sakit.

"Jadi pengen makan pipinya. Gemes ih." Dia terdiam sesaat lalu berbicara lagi. "Maaf, ya. Gara gara aku kamu jadi kena masalah."

"Iya, Kak. Aku emang kena masalah karena kakak. Tapi, kakak juga udah berusaha buat nolongin aku. Berkali kali kakak minta maaf, tapi tetap aja. Aku masih kesel tahu. Cuman, karena udah di tolong ya makasih." Aku menghadap lurus ke depan. Begitupun dia.

"Aku juga makasih. Makasih karena kamu mau kenal sama aku." Saat hendak memberinya senyuman, dia malah menambahkan kata. "Makasih juga karena kamu akhirnya mau kenalan sama calon mamah mertua kamu. Bukan kenalan aja, itu udah baur. Udah deket malah kelihatannya." Aku mencubit tangannya. Bisa bisanya dia bilang begitu. "Ayo, aku mau pulang sekarang." Sepanjang jalan, aku di buat nyaman dengan caranya menyetir. Suara musiknya juga membuatku terkantuk-kantuk.

***

"April." Aku sedikit tersentak karena suara seseorang.

"Hah? Mei, Juni, Juli. Apaan sih, Kak? Kenapa manggilnya April terus?"

"Ya gak apa apa. Itu kan nama kamu."

"Yang lain manggil aku Sifa, loh."

"Aku pengen manggil kamu beda dari yang lain."

Lihat selengkapnya