Aku merasa di tipu. Tapi, apa yang diuntungkan dari semua ini? Perasaan ini hanya sakit hati karena merasa semua hal yang kubayangkan berbeda dengan kenyataannya. Kak Rafa itu ternyata pacarnya Refa.
"Kak, aku kesal sama kakak."
"Kamu berhak kayak gitu."
"Aku benci. Benci banget sama kakak." Sabuk pengamanku belum di pasang. Keinginanku adalah pergi sendiri tapi enggan keluar.
"Kamu boleh benci sama aku. Orang yang kamu kata baik ini memang tidak pantas disukai," Ucapnya sembari membetulkan sabukku.
"Dari sekian orang di duniaku, kenapa harus kakak?" Ini kedua kalinya aku menangis sesenggukan. Tidak, sepertinya ini adalah ketiga kalinya.
Saat aku bayangkan hari itu, hampir delapan tahun yang lalu. Aku tidak ikut perkumpulan ekstra kulikuler di sekolah. Aku mulai menjauhi teman yang dianggap tidak baik menurut ibuku. Aku sudah melakukannya dengan baik walaupun bukan atas keinginanku dan itu membuatku semakin tak tahan. Dadaku sesak setiap hari. Guru yang kupercayai tidak dapat menolong karna enggan berhadapan dengan orang tuaku.
Ada hari dimana ibuku tidak mengomel yaitu saat aku jatuh sakit. Kejadian itu berawal dari sesak berkepanjangan. Aku terpaksa di bawa keluar di tengah jam sekolah. Saat mendapat perawatan, ibuku hanya menangis di samping ranjang klinik di daerahku. Selang infus membatasi gerak tubuh dan hidungku mendadak dapat menghirup udara dingin dari alat medis lain.
Di sekelilingku ada banyak orang. Ibuku mengelus kepalaku sambil memiringkan kepalanya. Aku tidak bisa berbuat apapun dalam keadaan seperti ini. Hanya dapat mengedip dan melempar pandangan ke sekeliling.
"Ini tinggi sekali. Biasanya kalau sesak, saya tidak pernah sampai angka segini." Aku menoleh ke sumber suara. Dia berada di dekat tabung di sampingku. Guruku yang selalu mendukungku, mengelus kepala sebentar dan berpamitan pergi karna adanya keperluan di sekolah. Aku hanya ditemani ibuku hingga sembuh.
Aku kembali ke sekolah, mendapat perlakuan yang hangat dan berusaha melupakan kejadian yang hampir merenggut nyawa. Setiap berjalan di lorong sekolah, aku merasa ada banyak mata yang memandangku. Sebagian dari mereka bahkan berbisik sambil melihat ke arahku.
"Sifa, aku minta maaf. Kamu pasti kaget karena aku jadian sama dia. Aku tahu kalau kamu suka sama dia dari awal pertama masuk. Tapi, sekali lagi aku minta maaf. Sebentar lagi aku akan putus, kok" Ucap temanku yang berbeda kelasnya, namun satu angkatan. Dia memegang tanganku saat aku akan memasuki kelas.
"Maksudnya apa?"
"Kata anak - anak, kamu sakit gara - gara aku. Aku minta maaf. Aku enggak punya maksud buat bikin kamu sakit hati. Aku bener - bener enggak tahu kalau kamu suka sama dia. Maafin aku," Tangannya beralih menggenggam bahuku.
Rasanya aku ingin ambruk. Bagaimana bisa mereka berfikiran semacam itu? Bahkan aku sudah tidak peduli dengan lelaki lain selain pacarku.
Aku berjalan pelan meninggalkannya. Aku tidak mau bereaksi apapun di hadapannya. Aku juga tidak ingin menimbulkan kesalahpahaman lagi. Anggapan ini sudah cukup membuatku malu.
Gara gara insiden itu, aku kehilangan banyak orang di sekelilingku, teman juga pacar. Hal ini membuat aku benar - benar benci keramaian. Aku merasa benci pada diriku sendiri.
Perasaan ingin menyalahkan mereka tidaklah lagi ada. Sekarang aku tersadar, ini semua karena terjerumus dalam ekspektasi dan kepercayaan yang sengaja aku junjung tinggi. Mereka memang salah, tapi aku terluka karena diriku sendiri.
"Aku akan tanggung jawab karena sudah bawa kamu ke rumah. Aku gak masalah kalau kamu mau anggap aku seperti apa nanti. Tapi sekarang, aku tidak mau membuatmu terlibat masalah lagi. Kalau pulang sendiri, kakakmu akan khawatir dan curiga akan sesuatu hal yang terjadi. Sabar sebentar, aku akan bawa kendaraannya dengan cepat."
Kendaraannya melaju berkali kali lebih cepat dari sebelumnya, tapi aku tidak merasakan apapun. Aku ingin marah, menampar, menghukumnya secara keji. Tapi bagaimana? Dia memiliki banyak sisi baik.
Dia membukakan pintu untukku. "Aku akan mengatakan bahwa kamu menangis karena tontonan di bioskop tadi."
"Iya, terserah." Aku lebih dulu masuk dan naik ke atas tanpa mengucapkan apapun pada kakakku.
Aku langsung menutup mata dan memikirkan segala kemungkinan yang terjadi jika aku tidak mengenal mereka. Kak Rafa dan Kak Rama. Persahabatan macam apa yang mereka teguhkan dalam jiwanya.
"Sifa, ada teman," Teriak Kak Nata dari arah tangga.
"Aku gak Nerima siapapun hari ini." Aku harap dia maklum.
"Fa, ada Refa di bawah." Kak Natali memang sulit memahami emosi dalam perkataanku.
"Aku bilang aku gak nerima siapapun. Aku gak mau ketemu sama siapapun." Aku berteriak dan melempar bantal. Bantal tersebut mengenai wajah Kak Nata.
"Kamu kenapa?" Dia menghampiriku.
"Keluar." Aku terus menghitung jariku sambil menarik nafas. Menenangkan diri tanpa bantuan orang lain sangat perlu. Aku akan melakukannya.
"Kalau begitu, istirahatlah." Kak Natali meninggalkanku dan menutup pintu. Aku memungut bantal dan tertidur lelap.
***
"Makan dulu, yuk. Ini kakak bikin semua makanan kamu." Suara dari luar pintu kamarku terasa mulai lembut.
"Aku enggak lapar."
"Ini udah tiga hari, loh. Nanti kamu kenapa napa."
"Fa, ini Luna. Udah lama ya kita gak ketemu." Aku langsung berlari ke arah pintu dan menarik Luna untuk masuk ke kamar.
"Kamu gimana kabarnya, Luna?" Senyuman tulusnya tetap sama walaupun sudah lama tidak berjumpa.
"Baik. Kalau kamu gimana, fa? Apa kamu baik baik aja?" Aku tertunduk memperhatikan selimut. Ini adalah pertanyaan yang selalu aku hindari.
"Kamu kenapa?" Aku menangis hanya dengan mendengar pertanyaan sepele. Padahal itu biasa di gunakan untuk basa basi. Pada akhirnya, aku menceritakan semuanya secara panjang lebar. Dia mendengar semuanya tanpa memotong pembicaraan.