It's Me, April

Elhassaries
Chapter #9

#9 Restu?

Kak Rafa mungkin sudah berusaha mengajarkanku dengan perjuangan penuh, tapi Tuhan tidak menghendakiku untuk mampu berenang. Setiap tanganku kehilangan pegangan, rasanya kepalaku sulit untuk muncul ke permukaan. Kakiku terasa enggan bergerak dan itu membuatku benar benar kewalahan. Untungnya Kak Rafa dengan sabar menuntunku dan memberiku semangat lewat senyumannya. Senyuman yang tidak bisa dijelaskan bentuk penampakannya. Pokoknya sangat manis.

"Kak, udah yuk." Aku menarik tangannya ke tepian kolam. Berbeda dengan Rama, dia hanya diam dan mengikuti mauku. Kalau Rama, justru dia memaksaku untuk melakukan apa yang disuruhnya. Menyebalkan memang.

Kak Rafa tiba tiba mengangkat tubuhku agar bisa terduduk di daratan terdekat. Dia ikut terduduk di sampingku dengan kaki yang masih menyentuh air.

"Mau lanjut?"

"Udah ah. Aku capek." Jika disini hanya ada aku sendiri, rasanya ingin sekali meluruskan badan di tempat dengan posisi terlentang.

"Kalau gitu, kamu ganti baju dulu terus kita cari makan sama-sama." Aku mengangguk, pergi mengambil tasku lalu pergi ke ruang khusus.

***

"Kita makan, yuk."

"Kalau mau makan jangan disini, Kak." Aku mengatakan hal itu dengan sedikit menunduk.

"Kenapa?" Akhirnya aku memberanikan diri menaikan kepala. Saat mataku melihat bola matanya,aku menunduk lagi. Apakah aku terlalu lancang untuk menatap seseorang dari jarak yang dekat? Ini tidak seperti aku yang biasanya.

"Aku sebetulnya enggak nyaman berada di tempat yang banyak orang." Dengan posisi kepala yang tetap, aku berusaha untuk mengintip raut wajahnya. Kukira dia akan marah, kecewa atau pun apalah reaksinya. Saat kulihat perlahan, dia ternyata tersenyum ke arahku. Wajahnya begitu dekat dengan kepalaku. Aku langsung menutupi wajahku yang terasa cukup panas hanya karna melihatnya.

"Ya udah kita cari tempat yang sepi aja, yuk. Kita nyari tempat yang cuman hanya ada aku sama kamu aja." Dia mengusap ngusap rambutku dengan halus. Dari tangannya, aku merasakan sesuatu yang langsung menjalar ke dalam tubuh. Sangat nyaman dan hangat.

"Enak ya, aku elus-elus kayak gini." Aku langsung mengerjapkan mata tanpa sengaja. Itu hal yang biasa terjadi saat aku agak terkejut. Dia melepaskan tangannya dan berdiri.

"Udah ah. Kita keluar dari sini." Aku mengangguk lalu mengikuti arah jalannya.

***

"Kamu beneran suka ke tempat yang sepi?" Aku mengangguk sedangkan Kak Rafa sibuk membetulkan sabuk pengaman.

"Berarti kamu suka ke kuburan dong."

"Ya enggak lah, kak." Ternyata Kak Rafa bisa sereceh itu.

"Kamu suka tempat sepi kayak apa? Kayak kamar?" Aku mengangguk lagi.

"Kalau gitu, kita pesen kamar aja, ya."

"Kamar? Ih apaan? Enggak ah. Apa apaan pesen kamar segala." Aku mengatakan itu dengan nada yang cukup tinggi. Sambil mengatakan hal itu, tentu saja aku menghadap ke arahnya sebentar lalu kupegangi dadaku yang terus bergemuruh. Jantung, tolong bersahabatlah.

Kak Rafa yang mulai melajukan kendaraannya hanya bisa tertawa kecil.

"Gini, kalau kita pesen kamar kayak di hotel gitu kan sepi. Cuman ada kita doang. Terus kalau udah disana, kita bisa pesen makanan. Gimana? Tenang, aku yang bayar kok."

"Aku enggak mau," Ucapku sembari menyilangkan tangan. Sebetulnya itu ide yang cukup bagus mengingat itu adalah hal yang sudah lama kuinginkan tanpa perlu membayar pula. Dapat menyepi di tempat yang cukup nyaman merupakan sesuatu yang kunantikan. Tapi sayangnya, kenapa harus laki laki idamanku yang menawarkan hal ini? Bagaimana jika aku melakukan kesalahan?

"Kalau enggak mau ya udah. Enggak apa-apa. Aku tadi cuman bercanda." Mataku memang tertuju padanya, tapi tidak dengan kepalaku. Aku mendengar suara tawa yang tertahan. Enggak lucu, kak. Enggak lucu.

Aku melihat pemandangan di sebelah kiri, jalanan yang di lalui menampilkan beberapa muda mudi yang terlihat bercanda, berdua dan menyebalkan untukku. Rasanya baru kali ini aku merasakan emosi yang berbeda. Jika biasanya aku akan menangis, maka tidak untuk kali ini. Emosi tentu, tapi emosi kali ini berbeda.

"Sifa, aku bukan cowok yang suka ngajakin cewek ke kamar kali."

"Iya, Kak. Aku tahu kakak orangnya baik. Orang baik enggak mungkin kayak gitu," Ucapku ketus.

"Ngatainnya kok kayak enggak ikhlas." Aku menarik nafas cukup dalam dan mengeluarkannya dengan tenaga yang tenang.

"Kak Rafa itu orangnya baiiik deh," Ucapku sembari memberinya sekilas senyuman lalu fokus ke depan.

Lihat selengkapnya