Mataku memutari barang yang diberikan Kak Rafa. Aku mulai penasaran dengan isinya, terlebih benda yang diberikannya itu berwarna hitam pekat tanpa ada tulisan atau pun gambar yang menghiasinya. Rasa penasaranku semakin memuncak dan pada akhirnya aku menarik suatu barang dari dalamnya.
Kenapa ada kotak ponsel? Aku membuka kotak itu dan isinya ponsel betulan. Aku mulai menghidupkan ponsel berlayar cukup lebar itu dan melihat wallpaper yang terpajang. Ada aku yang tengah sibuk menyantap makanan. Aku tahu, itu pasti foto hasil jepretannya tadi. Aku menggulirkan menu dan melihat sebuah aplikasi bernuansa hijau menunjukkan angka satu.
"Hai, simpan nomorku ya. - Rafa Mahardika"
Aku tersenyum membacanya. Tentu saja aku ingin sekali menyimpan nomernya di ponsel ini, tapi rasanya tidak enak saja. Bagiku hal yang diberikannya terlalu istimewa untuk orang yang baru dikenal kemarin.
"Maaf kak, aku enggak bisa nerima pemberian dari kakak. Kita baru kenal kemarin loh."
"Terus kenapa? Itu udah centang dua biru. Berarti kamu udah buka kotaknya kan? Udah. Terima aja. Itu sebagai tanda terima kasih aku karna kamu udah nemenin aku hari ini."
Aku tidak bisa menampik rasa senangku. Ini adalah benda pemberian pertama yang diberikan dari laki laki dan sampai padaku. Biasanya, jika ada yang memberi dan menitipkannya melalui temanku, barang itu bisa saja tidak utuh atau bahkan tidak bersisa. Kali ini, aku bahkan bisa menyentuh dan menggunakannya.
"Makasih, kak." Aku tersenyum lalu menarik ponsel itu ke dadaku.
***
"Hari ini Pak Ferdi menyuruh kita membuat kelompok. Setiap kelompok akan di kasih satu permasalahan untuk di persentasikan kayak biasanya. Satu kelompok ada yang empat orang ada yang tiga orang dan Kak Rama. Saya percayakan semuanya ke kakak."
Aku dan beberapa mahasiswa lainnya menoleh ke arah belakang. Bukan tanpa sebab, kami hanya penasaran dengan reaksi dari seseorang yang di sebutkan Zafir di depan kelas.
"Apa? Kamu kan yang dikasih amanat, jadi kamu aja yang nentuin." Kami tetap melihat ke arah Rama. Walaupun sempat menolak, dengan langkah yang terpaksa, dia akhirnya maju ke depan. Dia tampak membisikan sesuatu pada Zafir lalu berdiri tegap lagi.
"Sistemnya pakai cara berhitung. Dimulai dari sana," Ucap Zafir sambil menunjuk ke salah satu sudut. Seorang murid bagian depan yang paling kanan memulai proses pemilihan kelompok. Aku dan juga yang lainnya mengikuti. Kebetulan sekali aku dan Refa menjadi satu kelompok bersama Alis, sang jenius akuntansi di kelasku. Refa yang awalnya tengah membuat catatan yang tertinggal, langsung menghampiriku dan bertos ria. Sebetulnya ini belum bisa dikatakan menyenangkan dan menenangkan untukku karna aku belum mengetahui satu orang yang belum masuk di timku.
"Kak, kakak mau kelompok empat atau lima?" Aku melihat ke arah Rama dan tanpa sengaja dia juga melihat ke arahku. Aku tidak yakin jika pandangannya tepat tertuju padaku karna di samping kananku ada orang yang dia sukai.
"Empat aja." Aku membelalakkan mataku. Kenapa harus satu kelompok dengan dia? Aku merasa kesal dengan keputusannya. Saat aku melihat ke arah Alis dan Refa, mereka malah kelihatan bergembira. Jika aku mengatakan bahwa aku keberatan, rasanya itu tidak akan di gubris oleh siapapun. Mataku mengekori pergerakan Rama tanpa menoleh. Seperti biasa, dia berjalan sangat tenang melewatiku.
Aku fokus kembali mendengarkan intruksi dari Zafir. Dia membeberkan setiap permasalahan yang akan dihadapi tiap kelompok. Dia juga menyuruh kami untuk menyesuaikan tempat duduk dengan kelompoknya masing masing. Dan tentu saja, itu membuat aku, Alis, Refa dan juga Rama duduk berdekatan.
"Kita mau ngerjain tugas dimana? Katanya harus cepat cepat dikumpulin." Rama mengusik ketenangan di meja kami.
"Di rumah Sifa aja gimana? Aku belum pernah loh main ke rumah dia," ucap Alis.
"Aku sih gimana maunya kalian. Aku mah cuman ikut aja." Refa menambahkan. Ketiga orang itu langsung menatap ke arahku. Aku pun akhirnya hanya bisa pasrah. "Aku sih terserah kalian."
"Karena Alis mengusulkan di rumahnya Sifa, kita disana aja, ya. Fa, boleh kan kita ngerjainnya di rumah kamu?" Rama mengajukan pertanyaan itu dengan nada yang sangat datar.
"Sifa.."
"Iya, kak..."
"Gimana?"
"Iya, boleh."
Aku memperbolehkan mereka memasuki ruang sepiku untuk hari ini. Biasanya aku selalu melarang temanku untuk datang ke rumah, tapi kali ini aku tidak memiliki waktu untuk memilih alasan yang tepat.
***
"Kayak kenal sama rumahnya." Aku menelan sisa air di mulutku. Tentu saja Rama mengenalnya. Rumah yang berdiri di hadapan kami adalah rumah yang menjadi pemberhentian Rama saat mengantarku pulang. Aku berharap dia tidak ingat tentang aku yang pernah membohonginya.
"Yuk masuk." Aku mempersilahkan mereka masuk setelah pintu terbuka. Setelahnya mereka pun kusuruh untuk beristirahat di sopa ruang tamu.