Waktu terus berjalan. Alis langsung berpamitan pulang saat Kakaknya menjemput dan Refa masih menunggu supirnya di rumahku. Aku merapikan ruang tamu, sedangkan Refa kualihkan ke kamarku yang terletak di lantai atas rumah.
Usai merapikan seluruhnya, aku langsung mendatangi Refa di kamarku.
“Maaf, tamu malah dianggurin.” Seruku saat mendekati ranjang.
“Enggak kok. Aku enggak ngerasa dianggurin. Biasa aja lah sama aku mah.” Aku menyimpan tubuhku tepat di samping tubuh Refa. Dia terus saja sibuk dengan ponsel yang menurutku berbeda dengan minggu kemarin.
“Ponsel baru?”
“Iya.”
“Sibuk banget. Lagi chat-an sama siapa nih?”
“Sama doi lah. Sama siapa lagi.” Refa malah memunggungi. Aku tetap di posisi yang sama.
“Doi yang mana? Kan banyak doi kamu mah,” Ucapku. Refa langsung terduduk dan aku ikut duduk di sampingnya.
“Yang deket emang banyak, tapi doi aku itu ya cuman satu. Yang lainnya mah cuman selingan.” Aku hanya ber oh ria menanggapinya.
“Pacarku namanya Dika, dia seorang atlit,” Ucapnya sambil tetap sibuk mengotak ngatik ponselnya.
“Aku enggak nanya loh.” Refa menatapku tajam. Dia menyimpan ponselnya dan langsung menarik satu bantal untuk di simpan di bawah sikutnya.
“Aku cuman ngasih tahu.”
“Aku enggak mau dikasih tahu tuh.” Refa melemparkan bantal yang dipegangnya ke mukaku secara terus menerus. Aku yang merasa teraniaya hanya bisa membuat perisai asal asalan dengan tangan. “Udah udah. Sakit nih,” Ucapku sembari mengelus pipi yang sebetulnya baik baik saja. Refa memanyunkan bibir lalu menyilangkan tangan.
“Kamu enggak penasaran sama cowok aku?”
“Penasaran banget.” Aku memasang wajah so antusias. Padahal tidak ada kata darinya yang menarik untuk disimak.
“Nanti kalau aku enggak sibuk, aku bakalan kenalin deh sama kamu.” Aku mengangguk. Aku menjadi teringat akan keinginan Rama yang memintaku agar bisa mendekatkannya dengan Refa. Setelah mendengar Refa yang mengatakan bahwa perjalanan cintanya akan memasuki tahun ketiga, aku merasa bahwa hal yang diinginkan Rama adalah suatu hal yang mustahil untuk tercapai.
“Jadi gini pas aku lagi ospek, dia pernah nolongin aku. Itu kalo enggak salah sih pas aku hampir aja kena hukuman karena telat. Pas mobil mogok, dia kasih tumpangan buat naik motornya. Kita kenalan, dekat terus jadian deh.” Aku memberinya tepukan tangan tanpa heboh. Yang kutampilkan sebetulnya bukanlah bentuk apresiasi, itu hanya bentuk penghargaan yang biasa kuberikan pada mereka yang sudah berpikir cukup keras demi sebuah cerita.
“Kok enggak cerita dari dulu sih kalau kamu udah punya pacar?” Refa hanya menampilkan giginya yang berjejer rapi. Aku meraih segelas air di atas meja dan meminumnya.
“Awalnya aku pengen cerita, tapi setelah aku pikir pikir aku jadi ngerasa kalau itu adalah salah.” Aku kembali ke posisi semula dengan sikap siap mendengar. “Aku sebenernya enggak yakin loh kalau kamu normal. Jadi, aku enggak enak bicarain hal ini sama kamu.” Aku faham betul maksud ucapannya, sudah berkali kali dia mengutaran hal itu padaku. Sedari SMA, dia mengira bahwa aku tidak suka dengan laki – laki.
“Aku juga pernah punya pacar. Pacar aku tuh cowok, Ref,” Ucapku. Refa tidak membalas kataku. Dia terlihat mengotak gatik ponselnya. Sesaat setelahnya, mukanya berubah. Dia membanting ponselnya ke depan.
“Kenapa?”
“Sopir aku enggak bisa kesini. Kayaknya mobilnya minta diganti lagi deh. Akhir akhir ini dia ngadat terus coba.” Untuk orang sepertinya, mengganti mungkin adalah solusi terbaik. Jika aku yang memilikinya, satu pun akan kupelihara dan kujaga hingga akhirnya tiba. Sampai benda itu mati dan tak berfungsi lagi.
“Sifa…”
“Hm…”
“Boleh kan kalau aku nginep disini?”
“Boleh.”