It's Me, April

Elhassaries
Chapter #12

12. Ada apa dengan Rama?

“Aku…”

“Eh lihat.” Refa memajukan tubuhnya agar bisa menunjukkan gambar di layar ponselnya. Aku langsung ikut mendekatinya agar bisa melihat sesuatu yang ingin di tunjukkannya.

“Cantik enggak menurut kamu?” Di layar itu, aku melihat seseorang yang terlihat tadi pagi. Dia mengenakan pakaian pendek dan tersenyum sembari menyentuh ujung topi pantai.

“Cantik.”

“Cantikan mana sama kamu?”

“Cantikan dia, Ref” Aku langsung mendapat jitakan handal dari Refa. Usainya aku mengelus kepalaku yang sebetulnya tidak sakit.

“Fa, kamu tuh harusnya jawab cantikan aku lah. Kamu tuh harus percaya diri dikit.”

“Aku percaya diri kok. Lagian emang kenyataannya kalau dia lebih cantik, Ref. Kamu kenapa sih?” Aku merasa agak kesal jika seseorang mengajukan pertanyaan mengenai hal semacam itu. Cantikkah? Tampan kah? Aku benci mendengar kata yang mengindikasikan suatu perbandingan yang berujung pada perbedaan.

“Kamu tahu kan kalau Febri itu suka deketin Kak Rama.”

“Tahu. Katanya sih gitu.” Ini memang waktu yang tepat untuk mengetahui kebenaran tentang percakapan orang lain di bawah pohon tadi.

“Kamu kan deket banget sama Kak Rama, kamu ngerasa enggak kalau Kak Rama itu gimana gitu?” Aku tahu bahwa arah pembicaraan ini adalah sesuatu hal yang sangat kunantikan agar aku terlepas dari Rama, tapi entah kenapa rasanya aku tidak akan sanggup mendengarkan pernyataannya.

“Gimana apanya?” Aku langsung menepis kemungkinan tentang pernyataan tentang ketertarikan Refa pada Rama. Tidak mungkin kan jika seseorang yang sudah memiliki hubungan malah terpikat pada orang lain dalam waktu yang sama?

“Kak Rama itu tampan, baik, terus perhatian lagi sama kamu. Kamu ngerasa enggak kalau Kak Rama itu tipikal pria idaman.” Refa terlihat sangat bersemangat mengutarakan hal yang berkaitan dengan Rama. Ucapan Refa terdengar seperti memuji dan mengagungkan Rama. Padahal hanya ungkapan pujian tentang Rama, tapi kenapa perasaanku mendadak tidak nyaman?

“Iya. Dia pria idaman. Tapi Ref, Pria idaman harusnya mendapatkan wanita idaman juga kan,” Ucapku sambil tersenyum. “Oh ya, Ref. Aku duluan, ya.” Aku meninggalkan Refa tanpa memperhatikan wajahnya sebelum pergi. Aku merasa tidak sanggup lagi mengangkat kepala walaupun sekedar untuk melihat sekeliling jalan.

Aku memberhentikan angkot yang melintas di hadapanku dan masuk dengan wajah yang lesu. Semangat yang kupupuk untuk latihan nanti sore malah ambruk tanpa keeping. Aku mengambil ponselku dan membuka satu pesan dari Refa.

Fa, kamu baik baik aja kan?”

“Oh ya Sif, katanya tugas kemarin harus dikumpulin sekarang.”

Jika isi pesannya tidak melibatkan tugas, mungkin aku akan mengabaikannya. Pikiranku hari ini lelah padahal tidak kugunakan secara maksimal untuk pelajaran.

“Aku baik baik aja, Ref. Tugasku udah ada di Alis. Nanti aku suruh Alis buat nitip ngumpulin sekalian.” Aku memberitahukan Refa melalui pesan dalam bentuk suara.

***

“Tumben pulang cepat.” Kakakku berdiri di ujung tangga dan aku masih berusaha melepas sepatu.

“Hari ini dosen yang masuk cuman satu.” Aku melewatinya dan berharap tidak ada sesuatu yang membuatku geram.

“Fa, kakak cuman bawain ini. Ini dari Ibu sama Ayah.” Aku membalikan badan dan langsung menyambar plastik hitam yang diberikannya.

“Bilangin makasih.” Pintu kamarku di tutup dengan timbulnya suara yang cukup keras. Kali ini apa lagi yang diberikan orang tuaku?

Lihat selengkapnya