It's Started in Osaka

Vivie Hardika
Chapter #6

Dua Orang Asing

Ketika kedua mata terpejam, Kayra merasa beban berat di pundaknya sedikit demi sedikit menjadi ringan. Tak jauh darinya, suara Dr. Indira masih memberi arahan untuk dirinya merasa rileks. Kini sofa panjang yang menaungi seluruh tubuhnya telah menjadi spot ternyaman di ruangan itu. Setelah merasa rileks, Kayra membuka matanya kembali. Dilihatnya Dr. Indira sedang tersenyum melihatnya.  

Kayra bertanya dalam hatinya, bagaimana seseorang bisa dengan mudahnya tersenyum?

“Apa di kantor kamu sering ngobrol dengan rekan kerjamu?” tanya Dr. Indira setelah membaca Jurnal pertama Kayra.

Kayra bingung dengan definisi mengobrol yang ditanyakan Dr. Indira barusan. “Jika topiknya hanya soal pekerjaan, apakah itu bisa disebut mengobrol?”

“Tentu saja.”

“Tidak sering. Hanya untuk beberapa issue yang penting. Selain itu, kami berkoordinasi melalui room chat.”

“Bagaimana perlakuan mereka kepadamu? Apakah baik?”

Kayra mengangguk. “Mereka baik. Aku yang lebih suka menghindar. Aku lebih senang jika mereka tidak melihatku.”

Dr. Indira merapatkan kedua tangan di depan wajahnya. “Siapa yang paling sering mengajakmu mengobrol?”

“Office boy.”

Kedua mata Dr. Indira tampak membulat, “Kamu dekat dengan Office boy? Kalian seumuran?”

Kayra hanya menggeleng. “Usianya sekitar 40 tahun kalau tidak salah. Setiap jam makan siang, dia sering berbicara. Aku hanya mendengar.”

“Kamu nyaman mendengar cerita-ceritanya?”

“Terkadang. Aku pernah melihatnya bercerita sambil menangis. Waktu itu kucing kesayangannya di kampung mati. Banyak sekali yang dia ceritakan. Aku sampai lupa.”

Dr. Indira mengangangguk-angguk, lantas menuliskan sesuatu di dalam jurnal bertuliskan nama Kayra. Di sana dia mengumpulkan hal-hal yang berkaitan dengan Kayra. Ini sesi kedua mereka, sehingga arsip khusus untuk Kayra masih sedikit. Hanya Jurnal dan kertas-kertas yang sudah di isi Kayra.

“Cobalah membuka diri dengan orang lain, Kayra. Bahkan jika orang itu adalah orang asing sekalipun. Kamu bisa memutuskan untuk berhenti jika usahamu tidak membawa perubahan sedikitpun.”

“Bagaimana jika aku tidak bisa?”

“Untuk itu, kamu tidak boleh hanya sekali mencoba.”

“Apakah itu akan berhasil?”

“Coba saja!” jawab Dr. Indira. “Kita tidak akan pernah tahu sebelum mencobanya,” Dia terlihat jauh lebih bersemangat dari Kayra.

Kayra belum pernah mengindahkan saran Dr. Indira itu. Baginya, membuka diri dengan rekan kerja adalah hal yang sangat sulit dia lakukan. Dia pernah berusaha mencoba. Setidaknya kepada Office Boy yang dia singgung saat sesi kedua, namun lagi-lagi dia hanya bisa menjadi pendengar. Kayra merasa tidak ada hal yang harus dia ceritakan kepada orang lain. Baginya semua yang berkaitan dengan dirinya tidak penting. Maka tidak ada gunanya bercerita.

“Apa kau mau makan mie instan bersamaku?”

Dulu, Bapaknya selalu menawarkan makanan yang ada di dapur pada setiap tamu yang datang ke rumah. Office boy di kantornya sering menawarkan bekal yang dia masak kepadanya. Meski sering ditolak, dia tidak pernah jera menawarkan. Dari sanalah ide menawarkan Mie Instan kepada pria asing itu muncul. 

Belakangan dr. Indira mengatakan bahwa hal kecil seperti menawarkan sesuatu yang kita punya itu dapat membangun relasi baru atau mempererat relasi dalam kehidupan sosial. 

Lagipula dia tidak punya sesuatu yang bisa dia bagi selain Mie Instan yang dia bawa dari Jakarta.

Namun Kayra tidak tahu mengapa Jinan malah tersedak setelah mendengar penawarannya. Dia bertanya-tanya, apakah dia salah bicara? Kayra hanya bisa membeku di tempat ketika melihat Jinan berlari ke wastafel dengan batuk yang intens. Dia bahkan memukul-mukul dada sebelum menenggak air dari keran.

Kayra berencana menarik kembali omongannya. Ketika dia berniat mengucapkannya, Jinan berdeham lantas mengucapkan terima kasih dengan suara yang terbata-bata. Kayra sempat berpikir bahwa ajakannya ditolak, namun ternyata tidak.

“Aku belum pernah mencoba, jadi aku penasaran dengan rasanya—ng—maksudku mie instan yang kaubawa.”

Jinan menghampiri kursinya kembali. “Seperti apa mie instan yang kau bawa?”

Kayra tidak langsung menjawab. Dia masih berdiri di tempatnya sembari membuka laman internet. Dia harus menunjukkan rupa mie instan yang dia bawa terlebih dahulu, baru akan kembali ke kamar untuk memberikannya pada Jinan.

“Aahh, sudah lama aku mencari-cara mie instan ini. Kau punya? Beruntung sekali aku.” Jinan tampak sangat kegirangan.

Kayra bisa melihat kedua mata Jinan berbinar di balik kacamatanya. Namun yang membuat Kayra heran, mengapa Jinan mengeluarkan tawa, padahal tidak ada yang lucu.

“Ah, aku mau yang ini. Aku suka pedas,” kata Jinan dengan tawa canggung. Dia masih belum bisa menyingkirkan rasa canggung setelah mendengar kalimat pertama Kayra padanya.

“Aku ambil dulu mie-nya.”

“Oke. Aku akan memanaskan air!” balas Jinan.

Lihat selengkapnya