It's Started in Osaka

Vivie Hardika
Chapter #7

Cara Jitu Untuk Move On

Apa yang harus dilakukan setelah putus?

Jinan mengetikkan pertanyaan itu di layar ponsel dengan harapan mendapatkan ide baru yang tidak biasa. Dia sudah berulang kali menjadi saksi Sohee diputuskan oleh banyak gadis dan telah menjadi satu-satunya orang yang tahu apa yang dilakukan sahabatnya itu setelah dicampakkan.

Namun ketika dia kini mengalaminya, dia butuh bantuan. Dia tidak mungkin bertanya pada Sohee karena dia sudah bisa mengasumsikan bahwa sahabatnya itu akan mendukung Yoora. Paling tidak dia pasti akan mendorongnya untuk bertemu Yoora.

Semuanya sudah selesai, sudah waktunya memulai hidup baru.

Tapi—Jinan mulai gamang. Hubungannya dengan Yoora tidak sama dengan hubungan Sohee dengan gadis-gadis yang mencampakkan dan ditinggalkannya. Itu jelas berbeda. Ini bukan hubungan satu malam. Dia punya banyak momen bersama Yoora. Semuanya sangat manis. Lalu bagaimana dia memutuskan hal sepenting itu hanya dalam semalam?

“Nggak, nggak. Ini bukan keputusan semalam. Aku jelas tidak mendukung pengkhianatan dengan alasan apapun.”

Wow! Jinan baru saja merasakan sensasi lonjakan yang membuatnya bersemangat. Benar. Hidup harus terus berjalan meski dunia di bawah kakimu sedang carut-marut.

Dia kembali melirik ponsel untuk mengecek saran yang telah diringkas untuknya. Dia menemukan beberapa saran yang tidak sulit, yakni bergaul dengan teman atau orang baru.

“Ini kan sudah,” ujarnya seraya melirik pada seorang gadis yang tengah tertidur di kursinya. “Ya, walaupun dia sangat dingin.”

“Mencoba balikan?” Jinan menepuk kening. Dia mengumpat pelan. Baru saja dia berkelakar untuk tidak menganpuni perbuatan tidak menyenangkan yang dia terima, mengapa malah diberi saran yang akan membuatnya seperti orang yang sedang menjilat ludahnya sendiri?

“Melakukan hal bodoh?” Jinan kembali bergumam. Hal bodoh seperti apa? Apakah memaksa orang asing untuk mengajaknya berjalan-jalan bukan hal bodoh?

“Oke, anggap saja sudah dilakukan.”

Jinan menggulir layar ponselnya dan menemukan saran lainnya.

“Mendedikasikan waktu luang untuk mencari pengalaman baru.” Tak lama keningnya berkerut. Ya ampun, semua saran-saran yang dia baca benar-benar klasik. Tidak ada hal yang menantang yang belum pernah dicobanya.

“Bergaul dengan teman atau orang baru. Mendedikasikan waktu luang untuk pengalaman baru, semua orang memang harus melakukan semua itu, walaupun tidak sedang putus hubungan.”

Kini dia menjadi heran, mengapa banyak orang yang tergila-gila dengan AI bodoh ini.

Akhirnya Jinan menutup ponselnya. Menyerah pada saran-saran dari milis-milis daring. Dia akan melakukan apapun yang ada di depannya, tanpa rencana, tanpa perhitungan. Apapun yang ada di depannya, akan dia lakukan tanpa keluhan sedikitpun. Kecuali, bertemu dengan Yoora. Dia akan melewatkan bagian itu demi apapun.

Tak lama setelah dikembalikan ponselnya ke saku, bus berhenti di rest area. Setelah supir memberitahukan bahwa mereka akan berhenti sekitar 30 menit, satu persatu penumpang menghambur ke luar untuk mencari tempat ternyamannya sendiri.

Sama seperti yang lain, Jinan turun untuk membeli camilan dan makanan yang bisa mengganjal perutnya. Dia juga berharap bisa makan siang lebih awal jika resto-resto di area situ tidak memiliki antrean yang panjang. Perutnya keroncongan. Dia baru ingat bahwa belum makan apapun sejak pagi tadi.

Setelah berkeliling mini market, Jinan sudah mengantongi berbagai camilan dan nasi siap saji yang akan disantapnya sebagai makan siang. Ketika mengantre di kasir, dia bertemu satu kelompok mahasiswa yang asyik mengobrol.

Dari pembicaraan yang berhasil dia curi dengar—meski dengan keterbatasan bahasa, Jinan tahu bahwa sekelompok orang di depannya sedang menuju tempat yang sama.

“Maaf, apakah  kalian tadi di bus yang itu?” Jinan menunjuk bus yang dia tumpangi di luar.

Ketika semua orang memandang ke arah yang ditunjuk Jinan, salah satu dari 6 orang itu malah menunjuk Jinan seolah dia mengenalinya. “Bukankah kau yang duduk di sebelahku tadi?”

**


“Aku nggak punya obat untuk keluhan kamu ini,” kata dr. Indira ketika pertama kali Kayra menanyakan mengapa dia tidak diberikan resep obat.

Lihat selengkapnya