“Aku nggak bisa mengobrol. Aku kesulitan mencari topik yang membuat siapapun dapat mengobrol panjang denganku.”
Kayra bukanlah orang pertama yang mengaku tidak bisa mengobrol dengan orang dekat, apalagi dengan orang asing karena alasan kurang percaya diri dan alasan lainnya.
“Siapa orang yang pernah mengobrol denganmu dengan frekuensi waktu yang cukup lama?” dr. Indira menatap wajah Kayra lekat dan penuh selidik. Sepanjang konsultasi, Kayra banyak menunduk ketika berbicara padanya.
“Tidak ada,” kata Kayra sembari menghela napas dalam. “Aku hanya berbicara seperlunya, aku selalu berasumsi apapun yang akan kuceritakan bukanlah hal yang penting.”
Fakta itu juga baru saja membuatnya tercengang. Jika ditelusuri ke belakang, dia memang tidak pernah mengobrol dengan waktu yang lama dengan rekan-rekan kerjanya. Bahkan dengan Bapak, dia tidak ingat kapan terakhir kali mengobrol.
“Pernah nggak, ada orang asing menghampirimu dan berusaha mengajakmu mengobrol?”
“Pernah,” katanya dibarengi anggukan.
“Pada saat itu apa yang kamu lakukan?”
“Aku menjawab seperlunya lalu menggunakan earphone, padahal aku tidak mendengarkan apapun.”
dr. Indira tampak mengangguk-angguk pelan sebelum akhirnya berkata, “aku paham betapa beratnya menjadi kamu yang selalu dipenuhi oleh pikiran-pikiran bahwa apapun yang akan kamu sampaikan adalah hal yang remeh.”
Di saat itulah Kayra memberanikan diri untuk mendongak dan memerhatikan dr. Indira saat bicara.
“Listen, Kayra! Kamu harus tahu bahwa semua rasa itu begitu valid dan penting. Aku melihat bahwa kamu adalah orang yang penuh pertimbangan dan menjaga diri agar tidak salah langkah. Itu bentuk perlindungan namun di sisi lain perlindungan itu dapat menjadi pagar bagimu untukmu berimprovisasi. Penting atau enggak, seperti yang kamu bilang, itu hanya asumsi kamu.”
Kayra memvalidasi kesimpulan yang baru saja dijabarkan dr. Indira padanya dalam hati. Memang benar, perlindungan itu juga lah yang membatasi diri dan membuatnya selalu merasa sendirian.
“Cara menyembuhkan diri adalah dengan tidak menolak orang-orang dalam hidup dan mulai menerima orang-orang yang ada di sekitarmu.”
Kayra kembali merunduk, apa yang disebutkan dr. Indira barusan memang benar. Sepanjang ingatannya dia banyak menghindari orang-orang. Relasinya dengan rekan kerjanya sangat baik, namun dia tidak pernah menanggapi obrolan rekan kerjanya. Semua yang masuk ke telinganya hanya direspon seadanya. Dia bahkan menarik diri untuk pertemuan grup di luar jam kantor. Begitupula jika dia dihadapkan pada orang asing.
Mau bereksperimen denganku? Anggap saja aku ini orang asing yang tiba-tiba datang dan mencoba mengajakmu mengobrol.
Dalam perjalanan menuju guest house, pikiran Kayra dipenuhi dengan kata-kata dr. Indira kepadanya. Dia terus mengingat bagaimana sesi seputar obrolan itu terus berputar di kepala, karena sebentar lagi, dia akan sesering mungkin bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa itu. Di satu sisi dia tidak siap, di sisi lain dia memiliki sedikit tekad untuk mengulangi eksperimen yang pernah dia lakukan di ruangan dr. Indira.
Sembari menggeret kopernya, Kayra menoleh pada Jinan yang berjalan beriringan dengan para mahasiswa itu layaknya seorang tour guide. Dia memang sengaja mengambil langkah yang lamban demi mempersiapkan diri untuk bersama-sama dengan kelompok mahasiswa itu. Seharusnya dia bisa memilih untuk menghindar, namun ini adalah kesempatan untuk mempraktikkan apa yang dr. Indira sarankan padanya.
Jika dia terus menghindari hal-hal yang bisa menyembuhkan, maka penyembuhan itu akan terhambat. Meski berat, Kayra siap menghadapinya.
Dipaksa harus siap.
Sepuluh menit kemudian rombongan itu telah tiba di hotel Kawaguchiko, sebuah Hotel yang memiliki view terindah. Kayra mendapatkan rekomendasi dari dr. Indira yang mau repot mencari referensi tentang Hotel dengan view Gunung Fuji terbaik. Dari banyak pilihan yang disodorkan dr. Indira, Kayra memilih Kawaguchiko yang menarik karena arsitektur bangunannya yang seperti villa-villa di Puncak.
Resepsionis telah mengkonfirmasi data para mahasiswa yang menginap. Mereka menyewa dua kamar, satu kamar untuk pria dan satu kamar lagi untuk para wanita. Satu dari enam mahasiswa itu mengkonfirmasi pemesanan sementara lainnya sibuk mengobrol dengan membuat kerumunan kecil. Jinan ada di antara mereka, ikut dalam obrolan ringan. Kayra yang menunggu giliran konfirmasi pesanan hanya bisa melihat aktivitas Jinan dan teman-teman barunya itu dalam diam. Tak lama pandangannya bersirobok dengan Jinan yang sedetik kemudian menghampirinya dengan senyum yang lebar.
“Kayra, mari kuperkenalkan dengan mereka. Mereka mahasiswa yang sangat keren, kau tahu.”
Kayra ingin menolak, tapi dia ingat pada ucapan dr. Indira. Maka Kayra membuka langkahnya, mengikuti Jinan yang sudah mendahuluinya.
“Minasan, perkenalkan temanku Kayra. Dia datang dari,” Jinan berhenti karena lupa asal Kayra.