Crewe Cemetery, England
Memandang dua batu nisan yang baru terpasang, tertulis nama Gillian Ward-Davis dan disebelahnya Ricky Davis. Aku meletakkan buket bunga pengantin yang mulai layu di atas kedua makam yang berdampingan tersebut, buket itu aku dapatkan tiga hari lalu, di saat pesta pernikahan mereka. Kecelakaan mobil sudah merenggut nyawa temanku dan suaminya. Hari itu menjadi hari pernikahan sekaligus hari kematian bagi mereka berdua.
Claire Avery Taylors, seorang wanita berumur 30 tahun. Memiliki kulit putih, rambut coklat gelap dan bola mata berwarna coklat almond. Claire sudah menetap di Indonesia sekitar 5 tahun. Dia memilih tinggal di Indonesia untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan sesuai dengan keinginannya, yaitu penulis lepas dan senang berkeliling kota di Indonesia. Dia kembali ke Cheshire, Inggris untuk menghadiri pernikahan temannya Gillian Ward. Teman yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri. Claire dan Gillian berteman sejak 8 tahun lalu. Awal pertemanan Claire dan Gillian sangat aneh dan bisa dibilang lucu, mereka menyukai pria yang sama, tetapi pria tersebut memilih Gillian dan tanpa diketahui sebelumnya, pria tersebut memiliki hubungan dengan Claire dan berpacaran dengan Gillian dan hal itulah yang membuat Gillian memilih untuk berpisah dengan pria tersebut dan menjalin persahabatan dengan Claire. Tiga tahun kemudian Gillian menemukan pasangan hidupnya, Rick yang kini menjadi suaminya.
Hujan mulai turun di atas langit Cheshire membuatku tersadar dari lamunan dan segera mencari tempat berteduh. Di depan gerbang utama pemakaman terlihat beberapa orang yang juga sedang berteduh. Aku menyentuh leherku dan tidak menemukan syal disana. Mungkin saat aku berada di makam temanku tadi, membuatku lupa dimana aku menyimpan syal ku atau terjatuh disana. Ketika sedang sibuk mencari syal itu di tas, seorang anak perempuan kecil, usianya mungkin sekitar 4 tahun dengan rambut kecoklatan, membawa syal yang sedang kucari. Seraya tersenyum manis, ia memberikannya kepadaku.
“Ini milikmu, tadi terjatuh di jalan saat kau berlari dari sana” ia menunjuk ke arah pemakaman.
Aku menurunkan badanku agar bisa melihat anak itu dengan jelas dan mengambil syal itu, “Terima kasih, kau baik sekali,” pujiku kepadanya.
Anak perempuan itu memiliki mata biru yang indah dan wajah yang ceria.
”Apa kau sendirian disini?” tanyaku
“Tidak, aku bersama John,” seorang pria berbadan gelap, berkulit kecoklatan dan usianya sekitar 50 tahunan, tersenyum ramah kepadaku dan anak perempuan itu.
“Ayo kita pulang Bea, ini sudah hampir sore,” kata pria tersebut.
“Baiklah,” jawab anak itu. Saat mereka akan berjalan pulang, gadis kecil itu berbalik ke arahku dan bertanya, “Siapa namamu?”
“Claire dan kau?” tanyaku sambil tersenyum.
“Namaku Beatrice James Foster, kau bisa memanggilku Bea. Sampai jumpa Claire, aku harap kita bisa berjumpa lagi,” dia melambaikan tangannya kepadaku sambil berbalik pergi dengan pria bernama John yang memegangi tangan Bea dan melindunginya dari hujan dengan sebuah payung. “Gadis yang ceria…” ucapku sambil melihat mereka pergi.