It Was Never An Accident

Khaielle
Chapter #4

CHAPTER 4

Jumat malam, aku mulai berkemas untuk kembali ke Indonesia esok hari. Bibi Dolores masuk ke kamar dan duduk di tempat tidur, “Apa kau benar-benar harus kembali ke Indonesia, Claire?”, tanyanya. “Ya bibi, aku ada beberapa pekerjaan yang segera diselesaikan,” jawabku. “Gillian selalu berkata kepadaku kalau dia menyayangimu seperti adiknya sendiri. Aku pun merasa seperti itu saat pertama kali bertemu denganmu Claire. Aku sangat berharap kau mau kembali ke Inggris dan tinggal disini,” 

Mendengar kata-kata bibi Dolores aku hanya bisa tersenyum dan memeluknya, “terima kasih kalian sudah memperlakukanku dengan sangat baik, bibi. Dan kejadian yang menimpa Gillian dan Rick semoga bisa cepat diselesaikan secepatnya. Aku mau keadilan untuk mereka dan keluarga Ward.”

Keesokan harinya, Grant lah yang mengantarku ke bandara. Setelah berpamitan dengan paman dan bibi, kami segera berangkat tapi sebelumnya aku mengunjungi dan berpamitan dengan Gillian dan Rick. Aku membeli bunga mawar putih, kesukaan Gillian. Sesampainya di Crewe Cemetery, sudah terlihat beberapa pengunjung. Aku bersama Grant menyusuri jalan menuju makam Gillian dan Rick. Sesampainya disana, buket bunga pernikahan yang beberapa hari lalu aku bawa sudah tidak ada dan berganti menjadi setangkai mawar putih. Aku berusaha berpikir positif, mungkin ada pihak keluarga Gillian atau keluarga Rick yang datang dan menggantinya. Setelah selesai berdoa dan berpamitan, kami pun berjalan pulang. 

Selang beberapa blok dari makam Gillian dann Rick, Alex dan Bea sedang mengunjungi makam Madelaine Foster, ibu Bea. Tiba-tiba Bea memekik girang saat melihat Claire, “Ayah, itu Claire!” 

Alex melihat sosok wanita yang ditunjuk Bea, wanita itu sepertinya baru saja mengunjungi sebuah makam dan sekarang ia berjalan menuju gerbang depan pemakaman dan Bea berlari mengejarnya. Alex berusaha mengejar Bea, namun saat melewati makam yang tadi dikunjungi Claire, Alex berhenti dan melihat nama yang tertulis dibatu nisan tersebut.

Bea mengejar Claire,”Claire! Tunggu!” Claire yang mendengar suara Bea pun berhenti dan berbalik, “Kau rupanya. Beatrice bukan?” sahut Claire. “Panggil aku Bea, aku sudah bilang padamu kan?” pinta Bea sambil memegang tangan Claire dan tersenyum.

Bea merasa Claire orang yang baik dan ia belum pernah merasa seperti ini sebelumnya terhadap orang yang baru dikenalnya. Ada rasa nyaman dan melindungi dalam diri Claire bahkan sejak hari pertama pertemuan mereka beberapa hari lalu. 

“Apa kau sendirian disini Bea?” tanya Claire. “Tidak, aku bersama ayahku tapi dimana dia ya? Aku mau kau bertemu dengannya,” Bea melihat sekeliling pemakaman tapi tidak melihat sosok ayahnya.

Lihat selengkapnya