Di dalam mobil suasananya canggung, akhirnya Claire berusaha membuka obrolan dengan Alex, “Bagaimana kabar Bea?” tanyanya.
“Dia sedang sakit, sejak kau pergi dia menjadi sering sakit. Maka dari itu aku berusaha mencarimu,” jawab Alex.
“Bagaimana kau bisa tahu nomor teleponku?” tanya Claire lebih lanjut. Dia penasaran sejak awal, bagaimana Alex bisa mengetahui nomer telponnya.
“Aku bertemu dengan keluarga Ward, saat di pemakaman kau mengunjungi salah satu makam dari keluarga Ward bukan?” jawab Alex.
“Ya kau benar dan mereka langsung memberikan nomor teleponku padamu?” aku merasa aneh, bagaimana paman dan bibi bisa memberikan nomor teleponku dengan mudah kepada orang asing.
“Ya, nyonya Ward yang memberikan nomormu. Mungkin dia melihatku sangat membutuhkan nomormu,” Aku langsung melihat ke arah Alex yang sedang fokus menyetir,
“Boleh aku menanyakan sesuatu?” rasa penasaran menyelimuti Claire.
“Ya?” Alex sadar Claire sedang melihat dirinya.
“Dimana ibu Bea?” tanya Claire tanpa mengalihkan pandangannya dari Alex.
“Meninggal 4 tahun lalu, saat melahirkan Bea,” Alex mengencangkan pegangan stirnya.
“Maafkan aku,” Claire menjadi tidak enak.
“Aku harap kau mau membantuku. Walaupun kau mungkin tidak bisa terus menerus mengikuti keinginan Bea untuk bertemu, namun aku harap kau bisa menjadi teman bagi Bea” Claire melihat Alex dan tangannya secara bergantian. Ia sadar bahwa Bea membutuhkan sosok seorang ibu paling tidak kehadiran Claire bisa menjadi seorang teman namun dia tidak mungkin bisa setiap saat bisa berada disamping Bea.
Tidak berapa lama mereka sampai dirumah mewah bergaya Victoria dengan dua lantai. Alex berhenti tepat di depan pintu masuk dan ia membukakan pintu mobil. Claire melihat seorang pria berdiri didepan pintu rumah dan itu adalah John,
“Selamat datang nona Taylors,” sapa John sambil menuruni tangga dan tersenyum.
“Kau John kan?” Claire menjabat tangan John. Pintu rumah terbuka, seorang wanita tersenyum ke arah Claire.
“Silakan Claire,” alex meminta Claire untuk masuk ke rumah dan wanita itu langsung menyambutku,
“Namaku Mary. Bea terus saja membicarakanmu. Dia pasti senang sekali kalau tahu kau mengunjunginya,” lanjut Mary sambil mengambil mantelku dan menyangkutkannya ke tempatnya.