Its Always Been You, Fraya

Farah MAULIDA
Chapter #7

Between Adjectives and Misguided Heartbeat


Damian akhirnya berhenti tertawa, meski sisa-sisa binar jenaka masih terlihat jelas di matanya yang biru. Ia meraih kotak makan biru yang tadi dilemparkan Fraya dan membukanya perlahan. Aroma manis cookies cokelat buatan rumah langsung menyeruak, jauh lebih menggoda daripada makanan katering mewah yang biasa ia santap.

​"Setidaknya kamu punya selera yang bagus untuk urusan kue," gumam Damian sambil mengambil satu keping. Ia menggigitnya, lalu mengangguk puas.

"Oke. Karena 'asupanku' sudah terpenuhi, mari kita mulai sebelum kamu benar-benar menusukku dengan gunting."

​Fraya hanya mendengus, namun ia akhirnya duduk di hadapan Damian. Ia membuka kamus tebalnya dengan gerakan kasar, seolah-olah kertas di dalamnya adalah musuh bebuyutan.

​"Kita mulai dari mana? Grammatik? Atau langsung ke percakapan?" tanya Fraya ketus.

​Damian menumpu dagu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya membolak-balik halaman buku catatan Fraya. Ia diam-diam memperhatikan tulisan tangan gadis itu-rapi, kecil-kecil, dan penuh dengan catatan kaki yang detail. Tipikal murid ambisius.

​"Kita mulai dari hal yang paling dasar, Fraya. Mengapa lidahmu selalu kelu saat mengucapkan kata kerja berakhiran -en?" Damian menggeser kursinya sedikit lebih dekat. "Coba ikuti aku. Ich liebe dich."

​Fraya mengernyitkan dahi. "Aku tidak bodoh, Damian. Aku tahu arti kalimat itu. Pilih contoh lain yang tidak mengandung unsur rayuan murahan."

​"Itu hanya contoh tata bahasa, Miss Alexandrea. Jangan terlalu percaya diri," sahut Damian santai, meski sebenarnya ia sedang menahan senyum. "Cepat, katakan."

​Fraya menghela napas panjang, lalu bergumam dengan aksen yang masih sangat kaku, "Ich liebe dich. Puas?"

​Damian terdiam sejenak. Mendengar kalimat itu meluncur dari bibir Fraya-meski dalam konteks belajar-ternyata memberikan efek yang aneh di dadanya. Ada getaran kecil yang tidak seharusnya ada di sana.

​Ia mengalihkan pandangan dari buku dan menatap Fraya yang kini sedang sibuk mencatat sesuatu. Di bawah sinar matahari sore yang mulai menguning di pinggir lapangan baseball, sosok di depannya tampak... berbeda. Beberapa helai rambut hitam yang keluar dari kunciran asalnya berkibar tertiup angin, jatuh di sisi wajahnya yang mulus. Sinar matahari itu seolah menonjolkan warna kulit gadingnya yang sehat.

Lihat selengkapnya