Jumat sore kembali menyapa dengan langit yang sedikit mendung, memberikan nuansa abu-abu yang tenang di atas lapangan baseball Mildford Hall.
Fraya sudah duduk lebih dulu di bangku kayu yang sama, namun kali ini tidak ada aksi melempar kamus. Ia hanya diam, menatap ujung sepatunya sambil sesekali menghela napas panjang.
Langkah kaki yang teratur terdengar mendekat. Fraya mendongak, mendapati Damian berjalan ke arahnya. Cowok itu tidak memakai jas sekolahnya, hanya kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku, menampakkan jam tangan perak yang melingkar di pergelangan tangan kokohnya.
"Kamu telat dua menit," gumam Fraya saat Damian duduk di hadapannya.
"Tadi ada urusan kecil dengan tim Lacrosse," sahut Damian santai. Ia melirik meja yang kosong. "Mana sogokannya? Aku tidak melihat kotak makan biru hari ini."
Fraya terdiam sejenak, lalu merogoh tasnya. Bukannya kotak makan, ia mengeluarkan cokelat batangan mahal yang diberikan Damian di perpustakaan Senin lalu. Cokelat itu masih utuh, namun kemasannya sedikit lecek.
"Aku tidak suka berhutang budi," ujar Fraya sambil menyodorkan cokelat itu kembali. "Simpan saja. Dan terima kasih untuk... yang di koridor kemarin."
Damian menatap cokelat itu, lalu menatap mata Fraya. Ia tidak mengambilnya. "Anggap saja itu bayaran karena kamu sudah mau repot-repot membuatkan cookies minggu lalu. Makanlah. Wajahmu terlihat seperti orang yang butuh gula karena terlalu banyak berpikir."
Fraya akhirnya menyerah dan menyimpan kembali cokelat itu. Mereka mulai membuka buku, namun suasana sore ini terasa jauh lebih tenang. Tidak ada teriakan, tidak ada sindiran pedas. Hanya suara lembaran kertas yang dibalik dan penjelasan Damian yang mendalam tentang struktur kalimat.
"Fraya," panggil Damian di sela-sela penjelasannya.
"Hm?" Fraya mendongak dari catatannya.