Sesi belajar di pinggir lapangan baseball yang awalnya direncanakan berlangsung formal, lama-lama berubah menjadi medan pertempuran ego yang dibumbui dengan tawa tertahan.
Sore itu, udara terasa lebih dingin, membuat ujung hidung Fraya memerah—pemandangan yang menurut Damian jauh lebih menarik daripada buku teks Grammatik di depan mereka.
"Fraya, kamu baru saja menggunakan kata kerja 'essen' untuk menjelaskan subjek yang meninggal. Kamu mau bilang dia makan atau dia mati?" Damian berkomentar sambil menahan senyum, jarinya menunjuk baris tulisan Fraya yang berantakan.
Fraya mengerang frustrasi, menjatuhkan pulpennya. "Hurufnya hampir mirip! Kenapa bahasa ini harus punya kata yang serumit ini hanya untuk hal-hal sederhana? Di Indonesia, makan ya makan. Mati ya mati. Titik!"
Damian terkekeh, tubuhnya condong ke depan, mendekat ke arah Fraya hingga gadis itu bisa mencium aroma parfum cedarwood dan citrus yang maskulin.
"Makanya, Dokter Bedah masa depan, kamu harus teliti. Bayangkan kalau nanti di ruang operasi kamu salah sebut istilah. Bukannya membedah, kamu malah minta camilan."
Fraya melotot, mencoba memberikan tatapan mematikan yang biasanya berhasil membuat orang ciut. Namun bagi Damian, tatapan itu justru terlihat menggemaskan.
"Berhenti mengejekku, Harding. Fokus!" gertak Fraya.
"Aku sangat fokus, Fraya. Fokus melihat bagaimana alis kananmu naik setiap kali kamu bingung. And that was.. really informatif," goda Damian dengan nada rendah yang membuat bulu kuduk Fraya meremang diam-diam.
"Kamu benar-benar menyebalkan," gumam Fraya, wajahnya memanas. Ia segera menunduk, pura-pura sangat sibuk dengan kamusnya. "Cepat, ajarkan aku Dativ dan Akkusativ. Aku ingin menyelesaikan ini sebelum aku benar-benar melempar kamus ini ke kepalamu."
"Galak sekali. But i like challenging," Damian menyeringai, matanya tidak lepas dari wajah Fraya yang sedang tersipu.