Pertandingan akbar Lacrosse antara tim Milford Hall dan Eastwood High akhirnya tiba pada puncak musim gugur.
Udara London mulai menggigit, namun atmosfer di lapangan hijau itu justru mendidih. Aroma rumput basah bercampur dengan keringat dan adrenalin, menciptakan sensasi yang hanya bisa dirasakan saat rivalitas abadi bertemu di satu garis lapangan.
Selama dua tahun kepemimpinan Damian Harding, Milford Hall seolah memiliki mantra kemenangan yang tak terpecahkan. Di bawah arahan Damian, Lacrosse bukan sekadar olahraga; itu adalah tarian taktis yang mematikan.
Sang kapten bukan hanya otak di balik formasi, ia adalah jantung yang memompa semangat rekan-rekannya—termasuk pemain inti seperti Axel Rosewood, Russo Marianno, dan Louis Partridge—untuk terus berlari meski paru-paru mereka terasa terbakar.
Akibat jadwal latihan yang menggila, Damian dan "geng elit"-nya sudah melewatkan dua pertemuan di kelas Mrs. Whiterspoon. Fraya sempat bersorak dalam hati, berpikir ia akhirnya bebas dari tutor yang hobi ngeledek itu.
Namun, harapannya pupus saat Damian mengumumkan revisi jadwal mereka dengan nada tanpa bantahan.
"Yah, sayang banget, jadi nggak bisa belajar Bahasa Jerman sama kamu! Berarti Mrs. Crabtree bakal cari guru pengganti, kan?" ledek Fraya waktu itu, mencoba menyembunyikan binar kegembiraan di kedua matanya.
Namun, karena Damian bukan tipe orang yang membiarkan mangsanya lepas begitu saja, dengan kalem juga Damian menandaskan,
"Memangnya kapan aku bilang aku berhenti ngajarin kamu? Jadwalnya cuma bergeser, Surgeon. Kamu tetap belajar sama aku. Tidak ada ceritanya posisiku akan diganti sama siapapun."
"Hah? Gimana caranya? Kamu kan harus fokus latihan!"
Damian hanya menyeringai. Ia tidak peduli jika kepalanya harus berasap karena membagi fokus antara taktik lapangan dan sesi belajar mereka bedua.
Baginya, hari Jumat sore adalah "waktu sakral" yang tidak bisa lagi Damian ganggu gugat. Karena di waktu itu, satu-satunya Damian mendapatkan ruang di mana ia bisa mencuri sedikit kebahagiaan.
Melihat Fraya marah-marah karena kuis dadakan jauh lebih menghibur daripada mencetak sepuluh gol sekaligus. Bahkan, membayangkan Fraya diajar oleh Asa—si murid berkacamata yang juga teman Fraya yang dikenal pintar tapi membosankan—sudah cukup membuat Damian ingin meninju tiang gawang.
Malah akhir-akhir, Damian terlintas untuk menyuruh Mrs. Crabtee agar menambah waktu untuk sesi tutornya pada Fraya hanya supaya Damian bisa punya lebih banyak waktu bertemu dengan cewek itu.
"Tidak. Tutor kamu cuma aku. Kalau nanti aku sudah mulai sibuk latihan dan jadwal belajar kita tiba, kamu cukup tunggu saja di pinggir lapangan Lacrosse jam dua siang. Tidak usah pergi kemana-mana lagi. Jadi kalau pas aku lagi istirahat latihan, aku bisa langsung ke kamu," putus Damian final.
Arahan yang lebih mirip perintah ini jelas membuat Fraya langsung melayangkan protes keras, "Ih, Damian! Aku nggak mau ya harus duduk di kursi tribun lapangan kamu. Aku nggak mau sampai nanti dikira seperti penggemar beratmu yang nggak ada kerjaan itu!"