Its Always Been You, Fraya

Farah MAULIDA
Chapter #13

The Calling Ovation


Pelajaran Bahasa Jerman bagi Fraya tak ubahnya sebuah labirin tanpa ujung yang dipenuhi kerikil tajam. Meskipun sesi tutor bersama Damian mulai menunjukkan progres meningkat, Fraya belum bisa sepenuhnya bernapas lega. Nilai sempurna yang ia incar-tiket emas menuju Oxford-masih terasa seperti cakrawala; tampak begitu indah namun seolah terus menjauh setiap kali ia mencoba melangkah mendekat.

​Jika sebelumnya Fraya sudah mulai menguasai tata bahasa Jerman yang rumitnya bikin sakit kepala, kali ini Fraya harus berhadapan dengan tembok besar bernama Hörverstehen atau metode mendengar dalam test Bahasa Jerman. Bagi Fraya, tahap ini yang masih sulit ia kuasai.

Tahap ini merupakan momok paling sulit untuk Fraya. Setiap kali masuk ke sesi kuis dadakan berbasis audio, ia rasanya lebih ingin menghantamkan kepalanya saja ke tembok daripada harus menghadapi kegagalan lagi. Telinganya seolah kehilangan ketajaman. Kosakata yang ia tangkap lebih sering salah berakhir meleset jauh dari maksud asli yang Fraya tulis di lembar jawaban.

​Melihat Fraya yang kewalahan sebenarnya malah jadi hiburan tersendiri buat Damian. Sifat iseng Damian jadi sering muncul disela proses belajar. Intensitas keisengan Damian ini terus muncul disela belajarnya mereka yang bikin Fraya tambah kelihatan nelangsa dan ingin mencekik Damian hidup-hidup.

Dengan kesadaran penuh, Damian gemar sekali menyisipkan kosakata paling rumit-kata-kata yang panjangnya mirip gerbong kereta- sengaja diberinya hanya untuk melihat Fraya mengerutkan kening hingga cewek itu akhirnya kewalahan sendiri karena tersiksa saat mempraktikkannya.

"Damian kamu sengaja kan mau ngerjain aku lagi!?" Fraya melempar protes waktu ia kembali salah mengeja deretan kata rumit yang diucapkan Damian dan akhirnya Fraya melempar kertas ditangannya ke wajah Damian dengan kesal.

​"Aku sengaja memberimu kosakata rumit begini biar lidahmu tidak kaku, Ace," kilah Damian dengan senyum simpul yang sulit diartikan, tapi dalam hati Damian lagi-lagi hampir mati karena menekan kuat hasratnya untuk tidak meledak dalam tawa.

Fraya bisa melihat binar jenaka di mata biru itu; Damian jelas sangat menikmati momen-momen di mana Fraya harus berjuang keras mengeja kata demi kata di hadapannya.

​Fraya mendesis kesal, memicingkan mata tajam. "Damian, kalau kamu terus-menerus mengerjai ku begini, aku akan cari tutor yang lain saja! Kamu benar-benar menyebalkan sekali, sumpah deh! Kadang aku berpikir mau menyerah saja pada Oxford kalau Bahasa Jerman-ku tidak juga becus karena gurunya tidak waras."

​Namun, di balik omelan itu, ada sebuah memori hangat yang terselip. Di salah satu sesi pertemuan mereka, Damian sempat tertegun melihat binar semangat di kedua mata Fraya saat cewek didepannya itu tiba-tiba saja memberitahu rencananya.

​"Pokoknya kalau ujian mendengar nanti aku berhasil dalat nilai 80, aku akan traktir kamu makan apa saja yang kamu mau, deh. Tapi jangan yang mahal-mahal, ya! Soalnya uangku pas-pasan, dan kamu mintanya jangan makan di restoran bintang lima."

Damian menahan senyum sambil bertopang dagu, menatap binar mata Fraya yang berkilat penuh semangat-yang entah bagaimana jadi bikin cewek ini terlihat lebih menggemaskan.

"Kata kamu makan apa saja. Kalau aku maunya yang bintang lima, gimana?" Damian menggoda lagi dengan tampang serius kali ini.

Tapi Fraya malah berdecak sambil mengibaskan satu tangan didepan wajah Damian.

"Ya kamu kan tahu aku nggak sekaya kamu. Tapi ya minimal aku sanggup lah membelikan kamu fish and chips paling enak di London. Soalnya kata Papa disini ada fish and chips paling enak yang pasti belum pernah kamu coba." ujar Fraya dengan nada penuh percaya diri sekaligus sok tahu

​Melihat kegigihan yang murni itu, Damian hanya mengangguk-angguk kecil sambil menahan tawa. Sesuatu didalam hatinya kembali bermekaran seperti sekuntum bunga yang merekah dalam semalam. Damian benar-benar tidak habis pikir kalau hanya mengobrol soal fish and chips, seseorang bisa dengan mudah membuat Damian jatuh hati sampai untuk bernapas saja rasanya mulai sulit.

Dari gelagat Fraya yang sangat percaya diri mau mentraktir Damian fish and chips, Fraya mungkin juga lupa bahwa cowok berambut pirang di depannya ini sangat mampu membeli ratusan gerai fish and chips didunia ini sekaligus tanpa perlu menunggu Fraya harus lulus tes dulu.

Namun bagi Damian, janji traktiran dari uang saku Fraya itu terasa jauh lebih berharga daripada jamuan mewah di hotel bintang lima atau menu-menu mewah dari koki ternama di rumahnya sendiri. Ada kebahagiaan sederhana yang menyelinap ke hati Damian-sebuah perasaan yang tak bisa dibeli dengan kekayaan Damian Harding sepeser pun.

°°°°

​Memasuki pertengahan musim gugur, euforia di Milford Hall mencapai titik didih. Pertandingan akbar melawan Eastwood High tinggal tiga hari lagi. Sesi pertandingan final nanti akan berlangsung selama dua hari berturut-turut.

Damian, sang kapten kebanggaan, telah berhasil memboyong timnya menembus babak penyisihan final yang menyisakan tanding antara tim Milford melawan Easwood High. Namun, dari rentetan jadwal tanding yang selama ini berlangsung, tak sekalipun Fraya menampakkan batang hidungnya di tribun.

Lihat selengkapnya