Hari yang dinanti-nantikan oleh seluruh penghuni sekolah pun akhirnya tiba. Hari pertama babak final pertandingan Lacrosse antara Milford Hall dan Easwood High. Pertandingan babak final ini rencananya akan diselenggarakan dua hari berturut-turut dengan Milford Hall sebagai tuan rumah.
Atmosfer di Milford Hall mendadak berubah menjadi medan energi yang meluap-luap. Seluruh jajaran murid dan guru sepakat menghentikan aktivitas belajar-mengajar lebih awal, memberikan ruang bagi semangat yang membuncah untuk mengalir menuju lapangan hijau.
Semua bergerak serentak, berbondong-bondong memenuhi setiap sudut tribun panjang dan besar yang telah disediakan. Teriakan membahana mulai memenuhi cakrawala lapangan Lacrosse, menciptakan keriuhan yang sanggup menggetarkan dada siapa pun yang mendengarnya. Antusiasme yang berada di titik didih ini membuat setiap jengkal kursi penonton mustahil untuk menyisakan ruang kosong.
Warna-warna kebanggaan sekolah berkibar di mana-mana, menyambut partai final yang akan menjadi catatan sejarah baru tahun ini.
Menjelang sepuluh menit sebelum peluit tanda dimulainya pertandingan menggema, Damian beserta seluruh anggota timnya sudah berkumpul di pinggir lapangan. Mereka sibuk mempersiapkan diri; masing-masing melakukan pemanasan intens guna melemaskan otot-otot yang tegang, sembari menunggu saat-saat kick-off. Di tengah lapangan, para cheerleader sedang beraksi, menyerukan bentuk dukungan dengan gerakan enerjik dan sorak-sorai yang heboh, semakin membakar semangat para suporter.
Namun, di tengah hiruk-pikuk itu, sang kapten justru tampak tidak tenang. Mata Damian terus berpendar, menyisir tajam ke setiap sudut tribun penonton yang berjejal. Ia mencari seseorang. Seseorang yang sejak tadi ia tunggu dengan kegelisahan yang mulai menyiksa batinnya.
Hari besar ini sebenarnya sudah Damian nantikan cukup lama. Dengan persiapan matang dan jam terbang yang tinggi, ia biasanya tidak memerlukan dukungan tambahan untuk memenangkan pertandingan. Bagi Damian pribadi, ia adalah pusat gravitasi. Tanpa perlu meminta pun, Damian sudah lebih dari cukup mendapatkan dukungan gila-gilaan dari seluruh siswa di sekolahnya. Bahkan, beberapa guru Milford terlihat berdandan khusus sambil membawa papan dukungan besar yang mencantumkan nama kapten bernomor punggung 7 itu.
Namun, ironisnya, ribuan sorakan itu terasa hambar. Dukungan yang benar-benar Damian inginkan justru tidak juga muncul di mana pun matanya berpendar. Kursi yang ia bayangkan akan diisi oleh sosok gadis itu tetap menjadi misteri di tengah lautan manusia.
"Damian! Two minutes, Captain!" seru pelatih Lacrosse-nya, melempar tanda tegas agar Damian segera berkumpul karena pertandingan akan segera dimulai.
Damian mengepalkan tinjunya kuat-kuat. Di dalam hati, ia merutuk cewek itu—Fraya Alexandrea—yang tampaknya benar-benar tega mengabaikan titahnya.
Dengan perasaan geram yang bercampur dengan kekecewaan yang tertahan, Damian akhirnya berbalik. Ia berlari cepat menuju kerumunan timnya yang sudah menunggu, membawa kemarahan itu sebagai amunisi untuk menghancurkan lawan di lapangan.
°°°°
Sementara itu, tak jauh dari riuhnya atmosfer di lapangan Lacrosse yang seolah hendak meledak, Fraya baru saja melangkah ragu menuju perpustakaan.
Tubuhnya nyaris terlonjak kaget saat gelombang sorakan heboh dan bercampur dengan tiupan trompet dari arah lapangan, menghantam telinga tepat ketika Fraya melepaskan earphone yang sejak tadi ia pasang.
Gema itu terasa begitu nyata, mengejarnya hingga ke koridor-koridor sunyi sekolah seolah memanggilnya untuk berbalik arah.
Semalaman, Fraya terjebak dalam perang batin yang melelahkan hingga membuatnya jadi susah tidur. Ia terus menimbang pada dua pilihan yang sama-sama memberatkan, yaitu pergi ke perpustakaan untuk meminjam buku Oxford Preparatory volume 4—seperti yang sudah direncanakannya—atau menuruti perintah posesif Damian kemarin untuk duduk manis menonton pertandingan Lacrosse.
"Dasar diktator! Seneng banget sih nyuruh-nyuruh orang seenaknya begitu!" Fraya mengomel dalam bahasa Mamanya sendiri tadi malam, saat matanya belum juga bisa terpejam untuk tidur.
Fraya masih berdiri tepat di undakan tangga paling bawah. Sambil menggigit bibir, ia menatap lapangan hijau yang terlihat sayu dari balik jendela besar di sela tangga menuju lantai dua, menimbang dalam bimbang keputusan mana yang harus Fraya pilih saat ini juga.
Kebingungan jelas merundung hatinya. Tadi pagi, Florence dan Asa sudah habis-habisan memaksanya ikut ke tribun jika ingin selamat dari murkanya seorang Damian Harding. Namun, kedua temannya itu tidak tahu betapa trauma Fraya setelah menjadi pusat perhatian sekaligus gunjingan pedas dari para siswi kemarin.
"Damian itu sudah terbiasa mendapatkan apapun yang dia mau, Alexa. Saranku lebih baik kamu datang saja ke tribun untuk menonton pertandingan. Nanti aku bantuin kamu bersembunyi deh supaya tidak terlihat sama cewek-cewek penggemar Damian disana." tukas Florence dengan yakin agar temannya ini lebih baik menuruti saja permintaan Damian yang satu ini.
Tapi Fraya paling anti menjadi pusat perhatian. Sejak awal, tujuannya sudah jelas dan gamblang, yaitu fokus mengejar tiket emasnya meraih Oxford tanpa perlu bahan omongan di sekolah elit ini. Baginya, lebih baik ia menyatu dengan dinding berlumut yang tak terlihat daripada harus menjadi berlian yang dipajang di tengah gemerlap ruangan, hanya untuk dipelototi banyak orang.
Lagi pula, apa sih arti kehadirannya bagi cowok menyebalkan dan sok berkuasa seperti Damian? Rasanya tidak ada arti lebih.