"Nick... Nicholas! Awas perhatikan bolanya!"
Suara lantang yang menggelar bak membelah hamparan hijau lapangan itu menyabet udara sore yang mulai mendingin. Bocah laki-laki yang sedang sibuk menggiring bola denga kedua kakinya sejak tadi berpacu cepat seperti gulungan angin tornado tidak juga mau berhenti meskipun hanya untuk sejenak.
Namun, Nicholas kecil telanjur kehilangan kendali atas kakinya sendiri. Di usia sembilan tahun, ambisinya sering kali lebih besar dari kekuatan fisiknya. Ia tersungkur hebat. Tubuh mungilnya terpelanting ke depan, mencium rumput sintetis dengan bunyi debum yang menyesakkan, hingga beberapa helai rumput tercabut paksa dari akarnya.
Nicholas—bocah berambut emas dengan sepasang mata biru sedalam samudra—meringis. Rasa panas merayap di lutut dan sikunya, namun ada satu titik yang berdenyut jauh lebih menyakitkan: dagunya.
Bocah itu tertegun saat melihat setetes warna merah pekat jatuh, mengotori hijaunya rumput. Disusul tetesan kedua, lalu ketiga. Bau anyir darah mendadak menyeruak, menyengat hidung mungilnya. Nicholas menyentuh dagunya yang terasa basah dan panas. Saat melihat jemarinya kini berlumuran cairan kental berwarna merah, pertahanannya runtuh.
Isakan mulai mencekat di tenggorokan Nicholas, siap meledak bersama rasa perih yang luar biasa berdenyut. Namun, tepat sebelum air mata itu sempat meluncur, sebuah tangan kekar menyentak lengannya. Tubuh kecil Nicholas dipaksa berdiri tegak secara kasar, seolah ia tak diizinkan untuk mencintai rasa sakitnya sendiri bahkan untuk sedetik saja.
Seorang pria berperawakan tinggi dengan rambut tembaga berdiri di depannya. Pria itu mengenakan kaos polo putih dan celana senada yang tampak sangat rapi—terlalu rapi untuk seseorang yang berada di lapangan bola.
Ia membungkuk hingga pandangan mereka sejajar. Matanya memicing tajam, sebuah tatapan yang seketika membekukan tangis Nicholas. Bocah itu terpaksa menggigit bibir kuat-kuat, menelan isakannya bulat-bulat meski bahunya gemetar menahan perih yang kini menjalar hingga ke pipi.
"Seorang laki-laki pantang menangis hanya karena jatuh tersungkur," suara pria itu terdengar rendah, namun ketajamannya setara mata pedang yang sanggup menghunus apa pun.
Nicholas menelan isakannya bulat-bulat hingga dadanya terasa sesak. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, berusaha menghentikan getaran di bahunya. Rasa takut pada ayahnya ternyata jauh lebih mematikan daripada rasa perih di dagunya.
Pria itu kemudian mencengkeram dagu Nicholas yang bersimbah darah, mengangkatnya agar anak itu menatapnya langsung.
"Kamu dengar Ayah, kan?"
Nicholas hanya bisa mengangguk kaku. Di matanya yang berkaca-kaca, sang ayah tidak tampak seperti pahlawan, melainkan seperti raksasa tanpa hati.
"Arnelia!" seru Richard, suaranya membelah kesunyian halaman luas itu.
Seorang wanita cantik dengan gurat wajah yang selalu tampak cemas muncul dari balik pintu kaca besar. Arnelia berlari, napasnya tersengal saat melihat putra kecilnya terluka. Ia langsung jatuh berlutut, mendekap bahu Nicholas dengan jemari yang gemetar.
Richard Harding hanya mengeraskan rahang, menatap luka di wajah anaknya seolah itu adalah sebuah cacat produksi pada barang berharga.
"Bawa dia masuk dan minta pelayan untuk segera obati lukanya. Setelah itu, pastikan dia sudah siap di ruang belajar saat Mr. Whaltham datang. Kursus ekonominya tidak boleh tertunda. Bulan ini aku harus dapat laporan tentang progres belajarnya yang naik secara signifikan."
Arnelia tersentak. Ia mengernyitkan dahi, menatap suaminya dengan tatapan tak percaya. "Dia sedang luka dan kesakitan, Richard! Dan kau masih menyuruhnya belajar? Setidaknya beri dia waktu satu atau dua jam untuk istirahat!"
Richard Harding—pria yang sudah memasuki kepala empat itu—menatap istrinya dengan raut wajah sekeras patung granit di halaman rumah mereka. Dingin dan tak tersentuh.
"Sampai kapan kamu mau memanjakan anak-anakmu, Arnelia? Kalau terus dimanja, mereka tidak akan pernah belajar caranya menjadi kuat untuk menghadapi dunia. Mereka harus disiapkan sedini mungkin. Supaya ketika waktunya tiba, mereka mampu menjalankan apa pun yang kita tinggalkan untuk mereka!"
Napas Richard memburu, dadanya naik-turun menahan emosi yang meluap. Arnelia hanya bisa terdiam, menggigit lidah agar tidak memperpanjang perdebatan di depan sang anak. Dengan gerakan lembut yang protektif, ia menarik bahu Nicholas, membimbingnya masuk ke dalam rumah megah yang terasa dingin itu. Mereka meninggalkan Richard dan jajaran pelatih di tengah hamparan lapangan hijau yang luas.
Richard Harding membungkuk, mengambil bola yang tergeletak diam di dekat gawang kecil. Ia menarik napas panjang, menatap punggung istri dan anak laki-lakinya yang perlahan menghilang di balik pilar-pilar kokoh teras rumahnya.
Tatapan Richard kosong, namun tangannya mencengkeram bola itu dengan sangat kuat. Seolah-olah, di dunia seorang Harding, tidak ada ruang untuk air mata—bahkan untuk seorang bocah berusia sembilan tahun.
°°°°
Pertandingan babak final melawan Eastwood hari pertama ini akhirnya berakhir dengan kemenangan yang terasa getir bagi Milford Hall. Skor tipis 10-12 terpampang di papan digital, sebuah angka yang sanggup membuat jantung siapa pun nyaris copot dari tempatnya.
Pertandingan yang berlangsung sengit itu, walaupun tetap dijuarai oleh Milford yang sudah langganan menyabet posisi nomor satu kejuaraan Lacrosse, tetap tidak membuat para pemain puas. Di ruang ganti maupun di lapangan, atmosfernya terasa hambar. Biasanya, Milford sanggup menggilas Eastwood hingga rekor cetak skor terlihat sangat jomplang, namun hari ini kebanggaan itu nyaris koyak. Kalau saja di menit terakhir kick off, Louis tidak mengambil alih dengan nekat untuk menciptakan strategi dadakan agar dapat poin tambahan, mungkin hari ini untuk pertama kalinya dalam sejarah, Milford terancam mengalami kekalahan yang akan menjadi aib selamanya.
Ketika pertandingan telah usai, lapangan dan tribun penonton masih dipadati manusia yang seolah enggan beranjak. Namun kali ini, fokus massa terpecah hebat. Hampir semua mata, mulai dari siswi kelas satu hingga para alumni, sibuk mengamati sosok Fraya yang langsung melesat turun dari bangku tribun.
Gadis itu bergerak cepat, nyaris berlari, berusaha meloloskan diri dari tatapan menghakimi yang menghujam punggungnya. Bahkan selebrasi dari para penonton yang biasanya bersorak memenuhi lapangan pasca tanding tidak terdengar nyaring seperti tradisi tahun-tahun sebelumnya. Suasana justru terasa canggung, pengap oleh bisik-bisik yang merambat seperti api.
Di lain tempat, tidak jauh dari tribun penonton yang masih berdesak-desakan, Damian berdiri dengan napas yang masih memburu hebat. Keringat membasahi jerseynya, namun fokusnya terbagi berantakan. Ia terjebak di antara kewajiban mendengarkan pelatih Lacrosse-nya yang kini sedang marah-marah—tidak, lebih mirip seperti sedang murka—kepada penilaian pertandingan hari ini yang dinilai anjlok drastis.
Coach Wilson, pria paruh baya yang sudah menggembleng tim Lacrosse Milford sampai ke titik ini, sedang melempar kemarahannya tepat ke wajah Damian. Ia berang karena aksi impulsif sang kapten yang menghebohkan jagat raya Milford tadi; aksi meninggalkan lapangan hanya demi menjemput seorang gadis di perpustakaan.