Gemerlap lampu diskotek berpendaran dengan begitu liar, seolah-olah cahaya itu sedang berpesta pora di tengah kegelapan yang pekat. Lagu yang diracik sang DJ menyentakkan lantai dansa dengan dentuman bass yang mampu menggetarkan setiap inci fondasi gedung, menciptakan gelombang energi yang nyaris magis.
Ruangan itu tampak begitu hidup, kombinasi antara denyut musik yang sanggup merontokkan dinding, kerumunan manusia yang berdansa dalam euforia tanpa batas, serta dentingan botol-botol minuman mahal yang diacungkan tinggi-tinggi ke udara—seolah-olah setiap orang di sana baru saja berhasil menggenggam dunia dalam telapak tangan mereka.
Di tengah hiruk-pikuk yang memekakkan telinga itu, Damian Harding menengadah. Kepalanya tersandar lesu pada sandaran sofa kulit, membiarkan matanya bermandikan cahaya lampu yang berkerlap-kerlip dan berputar gila di langit-langit. Ia tertegun, seolah sedang menghitung bintang di tengah buaian alkohol yang entah sudah botol keberapa yang berhasil ia tandaskan.
Di sekelilingnya, para gadis yang tidak ia kenal berdansa dengan gerakan menggoda yang eksplisit, berusaha keras mencuri perhatian sang pangeran favorit mereka. Sudah terlalu lama Damian tidak menampakkan batang hidungnya di klub privat kawasan elit Knightsbridge, dan malam ini, kembalinya Damian adalah sebuah perayaan bagi mereka.
Seorang gadis berambut merah keriting panjang, mengenakan gaun pendek berkilauan yang nyaris tak mampu menutupi lekuk pahanya, menghempaskan diri dengan berani di sebelah Damian. Namun, Damian tidak sedikit pun berkutik. Ia bergeming, bahkan saat musik mencapai klimaks yang memicu sorak-sorai pengunjung lain.
"Fancy another drink, Darling?" bisik gadis itu. Suaranya berusaha menembus bising musik, seraya menggoyang-goyangkan sebotol bir di sisi wajah Damian. Ia benar-benar mengemis perhatian dari pemuda dengan pahatan wajah sesempurna dewa Olympus itu, berharap satu lirikan saja bisa jatuh padanya.
Tapi Damian tetap membatu. Ia tidak tahu apakah saat ini dirinya sudah berada di ambang mabuk berat yang menenggelamkan, atau ia justru masih memiliki kendali penuh atas kesadarannya. Namun yang pasti, fungsi otaknya masih bekerja dengan sangat tajam untuk memutar kembali setiap memori yang beberapa hari ini menghantuinya bak kutukan yang indah.
Ia ingat bagaimana gurat wajah Fraya saat sedang murka kepadanya—begitu keras kepala namun menggetarkan.